Ekosistem Kawasan Jadi Magnet Bisnis

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Ekosistem Kawasan Jadi Magnet Bisnis Ekosistem area di Serpong.(Dok. MI)

PERHITUNGAN pelaku usaha dalam memilih letak upaya mulai mengalami perubahan. Jika sebelumnya kepadatan lampau lintas menjadi salah satu aspek utama, sekarang keberadaan ekosistem kawasan justru menjadi pertimbangan nan semakin dominan.

Kawasan dengan aktivitas nan hidup, didukung hunian, akomodasi pendidikan, ruang publik, hingga beragam aktivitas harian dinilai bisa menciptakan arus visitor nan lebih stabil dibandingkan sekadar letak dengan tingkat mobilitas kendaraan nan tinggi.

Perubahan perilaku pasar tersebut mengikuti perkembangan industri ritel nan sekarang tidak lagi hanya berorientasi pada transaksi. Pusat perbelanjaan dan area komersial mulai bergeser menjadi ruang hubungan nan menawarkan pengalaman, hiburan, serta aktivitas sosial bagi masyarakat.

Head of Research Services Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengatakan pusat perbelanjaan saat ini semakin memperkuat perannya sebagai bagian dari style hidup masyarakat melalui strategi pemilihan tenant, penyelenggaraan acara, dan penyediaan area komunal.

"Mal-mal ini semakin berkedudukan sebagai pusat style hidup, dengan kurasi penyewa nan kuat, penyelenggaraan acara, serta ruang sosial nan tidak dapat tergantikan oleh platform online," kata Ferry dikutip pada Kamis (30/7). 

Berdasarkan catatan Colliers, aktivitas penyewaan ruang ritel premium di Jakarta tetap berjalan meskipun kondisi pasar pada kuartal I 2026 cukup beragam. Tingkat kekosongan pusat perbelanjaan premium meningkat menjadi 4,2% setelah salah satu department store utama di Mal Kelapa Gading 1 menghentikan operasionalnya.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak mengurangi minat sejumlah merek untuk memperluas jaringan. Permintaan ruang tetap muncul, terutama dari sektor makanan dan minuman serta kategori ritel premium.

Beberapa merek minuman teh asal China seperti Yuzhou Tea, Auntea Jenny, dan Naisnow mulai membuka gerai perdana di Indonesia. Sementara itu, segmen minyak wangi mewah juga berkembang dengan masuknya merek seperti Byredo, Loewe Perfumes, Penhaligon’s, dan D’Orsay.

Kehadiran merek-merek baru tersebut menunjukkan bahwa pasar Indonesia tetap mempunyai daya tarik. Namun, pelaku upaya sekarang semakin berhati-hati dalam menentukan titik ekspansi, termasuk mempertimbangkan lokasi, ukuran toko, hingga model gerai nan digunakan.

Selain toko konvensional, sejumlah peritel mulai memilih format pengganti seperti island dan booth untuk menjaga eksistensi merek sekaligus menekan biaya operasional.

Ferry menyebut sektor makanan dan minuman tetap menjadi penggerak utama permintaan ruang ritel. Di sisi lain, upaya olahraga dan kebugaran juga menunjukkan perkembangan seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap pola hidup sehat.

Perubahan juga terjadi pada perilaku konsumen, terutama generasi muda. Mereka tidak hanya memandang produk nan dijual, tetapi turut mempertimbangkan pengalaman nan diberikan sebuah merek maupun kawasan.

"Kondisi ini membikin peritel menyesuaikan strategi, mulai dari ukuran gerai hingga pemilihan letak nan dinilai mempunyai traffic berkualitas," ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, area nan hanya mengandalkan keramaian tidak lagi cukup untuk menjamin keberlangsungan bisnis. Pelaku upaya sekarang mencari letak nan bisa menghadirkan visitor dengan kebutuhan sesuai, gelombang kunjungan tinggi, serta lama tinggal nan lebih panjang.

Kebutuhan terhadap letak berbobot semakin besar lantaran pasokan pusat perbelanjaan premium di Jakarta tetap terbatas. Sepanjang kuartal I 2026, belum terdapat tambahan mal premium baru. Rencana pengembangan berikutnya tetap berasal dari dua proyek, ialah ekspansi Kota Kasablanka seluas 56.000 meter persegi nan diproyeksikan datang pada 2029 serta ekspansi Gandaria City seluas 12.000 meter persegi pada 2030.

Keterbatasan pasokan tersebut turut mendorong kenaikan tarif sewa pusat perbelanjaan premium sebesar 1,09% secara kuartalan pada kuartal I 2026. Kenaikan terutama terjadi pada pusat shopping kelas atas nan telah mempunyai pedoman visitor dan komposisi tenant nan kuat.

Di tengah situasi itu, merek internasional tetap melanjutkan ekspansi melalui kerja sama dengan grup ritel lokal. Strategi tersebut memberikan support operasional sekaligus membantu merek dalam negosiasi nilai dan ketentuan sewa.

Ekspansi merek dunia diperkirakan tetap bersambung sepanjang 2026, dengan sektor makanan dan minuman sebagai salah satu pendorong utama kebutuhan ruang usaha. Persaingan mendapatkan letak strategis di pusat perbelanjaan maupun area komersial utama pun diperkirakan tetap tinggi.

Perkembangan ini membuka kesempatan bagi area komersial berbasis mixed-use nan bisa membangun sumber kunjungannya sendiri melalui perpaduan kegunaan hunian, pendidikan, pekerjaan, olahraga, dan rekreasi.

Konsep tersebut sejalan dengan arah pengembangan area perkotaan nan menggabungkan hunian, area komersial, ruang publik, dan akomodasi pendukung dalam satu lingkungan agar aktivitas ekonomi dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Bangun Ekosistem Aktivitas

Tren tersebut terlihat dalam pengembangan Serpong CBD nan diarahkan menjadi area dengan aktivitas terintegrasi. Kawasan ini menggabungkan beragam fungsi, mulai dari hunian, akomodasi pendidikan, ruang terbuka, pusat kuliner, akomodasi olahraga, hingga sarana pendukung mobilitas.

Saat ini, area tersebut telah dihuni lebih dari 12.000 family dan didukung sekitar 2.000 unit rumah toko. Aktivitas masyarakat berjalan dengan support sejumlah destinasi seperti pusat perbelanjaan, area komersial, ruang publik, serta akomodasi pendukung lainnya.

Pengembangan area bakal semakin diperkuat melalui kehadiran The Hood, area komersial berkonsep lakeside retail neighborhood nan berdiri di atas lahan sekitar 10 hektare.

Kawasan tersebut direncanakan mulai beraksi pada Desember 2026 dengan lebih dari 50 tenant nan mencakup sektor makanan dan minuman, pusat kebugaran, lapangan padel, bioskop, gedung pertunjukan, supermarket, akomodasi wellness, hingga konsep toko buku.

Kombinasi beragam kegunaan tersebut diharapkan menciptakan pola kunjungan nan berjalan sepanjang hari, tidak hanya berjuntai pada akhir pekan alias jam makan.

Di area nan sama, pengembangan ruang upaya terbaru juga disiapkan melalui Strozzi Commercial nan berada di koridor Symphonia Boulevard, Serpong CBD. Lokasinya berada dalam satu jalur aktivitas dengan The Hood dan dapat dijangkau sekitar lima menit melangkah kaki.

Kawasan tersebut juga bakal mendapat tambahan aktivitas dari Sekolah Ekayana Genta Bangsa nan dijadwalkan beraksi pada Juli 2026. Kehadiran akomodasi pendidikan diperkirakan menciptakan pergerakan rutin, terutama pada hari kerja.

Selain itu, area ini terhubung dengan SQP Hub dan akomodasi pengisian kendaraan listrik Zora SPKLU Signature. Berdasarkan info pengembang, sekitar 400 kendaraan melakukan pengisian daya setiap hari di akomodasi tersebut.

Aktivitas tersebut menciptakan kesempatan baru bagi upaya sekitar lantaran pengguna kendaraan listrik memerlukan waktu tunggu selama proses pengisian daya. Kondisi itu dapat dimanfaatkan oleh upaya makanan dan minuman, ritel kebutuhan harian, jasa personal, hingga upaya berbasis jasa.

Executive Director Summarecon Serpong Albert Luhur mengatakan pelaku upaya sekarang memandang sebuah letak tidak hanya berasas posisi geografis, tetapi juga berasas kehidupan nan terbentuk di dalam kawasan.

"Sekarang pelaku upaya bukan hanya memandang apakah lokasinya strategis alias tidak. Mereka juga mau tahu, apakah kawasannya memang hidup, apakah ada aktivitas nan terus bergerak setiap hari," ujarnya.

Menurut Albert, keberadaan beragam kegunaan dalam satu area menjadi aspek krusial dalam menciptakan aktivitas ekonomi.

"Ketika orang datang untuk tinggal, belajar, bekerja, berolahraga, alias sekadar menghabiskan waktu, aktivitas upaya biasanya ikut terbentuk. Itu nan terus kami bangun di Serpong CBD," katanya.

Strozzi Commercial sendiri dikembangkan dengan pilihan ukuran unit 5 x 16 meter dan 7 x 16 meter nan dapat digunakan untuk beragam jenis usaha, mulai dari kuliner, ritel, wellness, hingga jasa profesional.

Unit tersebut dilengkapi mezzanine dan didukung akses jalan dengan lebar ROW 36 meter serta 32 meter. Kawasan ini juga menerapkan konsep double-layer parking untuk meningkatkan kapabilitas parkir bagi visitor dan pelaku usaha.

Dengan konsep tersebut, pelaku upaya mempunyai elastisitas dalam menyesuaikan kreasi ruang melalui pilihan serah terima bare maupun finish sesuai kebutuhan merek dan operasional.

Pada akhirnya, persaingan letak upaya ke depan tidak hanya ditentukan oleh jumlah kendaraan nan melintas. Kawasan nan bisa menghadirkan aktivitas konsisten, visitor nan relevan, serta kebutuhan ekonomi nan terus berkembang bakal menjadi aspek utama dalam menentukan keberhasilan sebuah bisnis. (Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia