Ekonom Beberkan Tantangan UMKM di Era Digital

Sedang Trending 6 hari yang lalu
Ilustrasi shopping di toko online kesehatan. Foto: shutterstock

Ekonom sekaligus Peneliti Center of Digital Economy and SMEs INDEF, Fadhila Maulida, menjelaskan beragam tantangan UMKM di era digital saat ini. Untuk itu, para pelaku UMKM diminta untuk menyiapkan diri lantaran persaingan digital semakin ketat.

Selain itu, pelaku upaya nan mulai membangun website berdikari di tengah sorotan terhadap biaya platform digital dinilai menjadi momentum bagi UMKM untuk memperkuat kapabilitas usaha. Penguatan keahlian upaya dinilai lebih krusial dibanding sekadar mencari pengganti kanal penjualan.

Menurut Fadhila, digitalisasi UMKM nan selama ini didorong pemerintah patut diapresiasi lantaran sukses membuka akses pelaku upaya masuk ke ekosistem digital. Namun, kemudahan akses tersebut belum sepenuhnya diiringi dengan peningkatan kualitas dan kesiapan bisnis.

“Jumlah UMKM nan masuk ke ekosistem digital meningkat signifikan. Tapi keahlian untuk bersaing menjadi pertanyaan berikutnya, apakah UMKM sudah cukup siap? Faktanya tetap banyak nan belum,” ujar Fadhila dalam keterangannya, Kamis (7/5).

Dia menjelaskan, kesiapan UMKM mencakup beragam aspek, mulai dari strategi penetapan harga, keahlian digital marketing, pengelolaan biaya usaha, hingga pemanfaatan info pengguna untuk membaca perilaku pasar.

Pedagang melakukan live melalui TikTok Shop untuk menawarkan peralatan dagangannya, di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin (18/12/2023). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Selain itu, marketplace saat ini juga telah berkembang menjadi prasarana pengedaran digital nan menyediakan jasa terintegrasi, mulai dari sistem pembayaran, logistik, perlindungan transaksi, hingga mesin akuisisi pengguna dalam skala besar.

“Pada akhirnya nan terjadi adalah kejuaraan nan semakin tajam serta kapabilitas UMKM nan tetap perlu ditingkatkan,” kata dia.

Di sisi lain, pelaku upaya mulai memandang biaya marketplace sebagai bagian dari strategi pengedaran bisnis. Pendiri brand perawatan tubuh Bonvie, Septio Sadikin, menilai biaya admin marketplace tetap relatif kompetitif dibandingkan jalur pengedaran lain.

“Di upaya kami di industri individual care, kami menganggap biaya admin marketplace itu sebagai distribution cost. Justru di kategori distribution cost, saat ini marketplace salah satu nan paling murah,” ujar Septio dalam unggahannya di Threads @septiosadikin.

Ia membandingkan, masuk ke jaringan modern trade offline dapat memerlukan margin sebesar 25-42 persen, belum termasuk rebate, listing fee, dan tanggungjawab mengikuti program promosi tertentu. Sementara membuka toko sendiri juga memerlukan biaya sewa, pegawai, dan operasional nan tidak sedikit.

video story embed

Septio juga menilai pembangunan website berdikari tidak selalu menjadi solusi instan bagi semua pelaku usaha. Menurutnya, marketplace tetap menjadi pilihan utama konsumen lantaran menawarkan kemudahan transaksi, logistik, dan perlindungan pembayaran dalam satu ekosistem.

“Marketplace nge-bundle semua, akses ke jutaan pembeli, sistem pembayaran, logistik, dan perlindungan transaksi. Jadi kurang lebih 20 persen itu bukan hanya biaya platform, tapi distribution cost yang sudah all-in,” jelasnya.

INDEF menilai pengembangan ekonomi digital ke depan perlu diarahkan pada pembuatan ekosistem nan sehat dan berkelanjutan. Selain memperluas akses digital, penguatan kapabilitas UMKM dinilai menjadi kunci agar pelaku upaya bisa memperkuat dan berkembang di tengah perubahan lanskap upaya digital nan semakin kompetitif.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan