Kelapa Sawit.(dok.MI)
MINYAK sawit merah dinilai mempunyai potensi besar untuk meningkatkan gizi masyarakat Indonesia, namun pemanfaatannya perlu diarahkan secara tepat agar faedah kesehatannya tidak hilang. Alih-alih digunakan sebagai minyak goreng sehari-hari, minyak sawit merah dinilai lebih efektif dikembangkan sebagai pangan fungsional dalam corak emulsi alias suplemen sehingga kandungan nutrisi pentingnya tetap terjaga dan dapat diserap tubuh secara optimal.
Hal tersebut mengemuka dalam orasi ilmiah Prof. Endang Prangdimurti selaku Guru Besar Tetap Fakultas Teknologi Pertanian, nan berjudul "Pencernaan In Vitro sebagai Landasan Ilmiah Pengembangan Pangan Fungsional dan Penilaian Alergenisitas Pangan." Melalui paparannya, Endang menjelaskan bahwa pengembangan pangan fungsional tidak cukup hanya memandang kandungan gizi suatu bahan pangan, tetapi juga kudu dibuktikan secara ilmiah bahwa komponen bioaktifnya betul-betul dapat dilepaskan dan diserap oleh tubuh setelah melalui proses pencernaan.
Menurut Endang, minyak sawit merah merupakan salah satu contoh bahan pangan nan mempunyai potensi besar sebagai pangan fungsional lantaran kaya bakal karotenoid dan tokoferol, nan berfaedah sebagai antioksidan sekaligus sumber provitamin A dan vitamin E. Namun, kandungan tersebut umumnya berkurang saat minyak sawit diproses menjadi minyak goreng cerah melalui proses pemurnian.
Minyak sawit merah diketahui kaya bakal karotenoid dan tokoferol, dua senyawa nan berkedudukan sebagai antioksidan dan menjadi sumber vitamin A serta vitamin E. Sayangnya, kandungan tersebut umumnya berkurang apalagi lenyap ketika minyak sawit mengalami proses pemurnian hingga menjadi minyak goreng berwarna cerah nan umum beredar di pasaran.
Kondisi itu membikin faedah gizi minyak sawit merah tidak dapat dimanfaatkan secara optimal andaikan diperlakukan seperti minyak goreng biasa. “Memang minyak sawit merah ini tinggi nutrisinya, tetapi ketika diubah menjadi minyak goreng nan bening, itu membikin menghilangkan banyak nutrisi nan memang sudah bawaan nan ada didalamnya. Itu nan patut disayangkan, lantaran perihal itu menjadi minyak sawit merah tidak bisa dipakai untuk menggoreng,” jelas Endang.
Selain kehilangan sebagian senyawa bioaktif, minyak sawit merah juga kurang ideal digunakan untuk menggoreng lantaran memberikan warna kemerahan pada makanan dan menghasilkan tekstur nan kurang renyah.
Oleh lantaran itu, pemanfaatannya dinilai lebih efisien jika dikembangkan menjadi produk pangan fungsional seperti emulsi alias suplemen, serupa dengan minyak ikan. Maka, pemanfaatan minyak sawit merah dinilai perlu diarahkan pada produk pangan fungsional, seperti emulsi alias suplemen, serupa dengan pemanfaatan minyak ikan. Dengan langkah tersebut, kandungan karotenoid dan tokoferol tetap dapat dipertahankan sehingga faedah kesehatannya lebih optimal.
Meskipun, mempunyai prospek nan menjanjikan, pengembangan minyak sawit merah tetap menghadapi tantangan. Salah satunya adalah rasa getir nan tetap dirasakan pada produk sehingga perlu diperbaiki melalui penemuan formulasi dan teknologi pengolahan agar lebih disukai konsumen Indonesia.
Pengembangan produk juga perlu didukung penelitian nan memastikan senyawa aktif dalam minyak sawit merah tetap dapat diserap tubuh secara optimal. Dengan pendekatan tersebut, minyak sawit merah tidak hanya menjadi komoditas hasil perkebunan, tetapi juga berpotensi menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan asupan gizi masyarakat melalui pangan fungsional nan lebih efektif dan berbobot tambah. (P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·