Dunia Tanpa Pewaris: Tren Childfree di Era Modern

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Ilustrasi childfree. Foto: iStockphoto

Selama bertahun-tahun, pernikahan nyaris selalu dikaitkan dengan kehadiran anak. Dalam banyak budaya, termasuk di Indonesia, mempunyai keturunan dianggap sebagai tujuan alami dari sebuah keluarga. Anak dipandang sebagai penerus generasi, sumber kebahagiaan keluarga, sekaligus investasi sosial pada masa tua. Tidak mengherankan jika pasangan nan telah menikah sering mendapatkan pertanyaan, “Kapan punya anak?” alias “Sudah isi belum?”

Namun, beberapa tahun terakhir muncul kejadian nan semakin banyak diperbincangkan, ialah childfree. Istilah ini merujuk pada keputusan seseorang alias pasangan untuk tidak mempunyai anak secara sukarela. Berbeda dengan pasangan nan belum mempunyai anak lantaran argumen biologis alias medis (childless), perseorangan childfree secara sadar memutuskan bahwa mereka tidak mau menjadi orang tua.

Fenomena ini menjadi semakin terlihat seiring berkembangnya media sosial dan meningkatnya keterbukaan masyarakat dalam membicarakan pilihan hidup nan sebelumnya dianggap tidak lazim. Di beragam negara, termasuk Indonesia, obrolan mengenai childfree sering memunculkan perdebatan lantaran menyentuh aspek budaya, agama, ekonomi, psikologi, dan nilai-nilai family nan telah lama dianut masyarakat.

Pertanyaannya kemudian: Mengapa semakin banyak orang memilih hidup tanpa anak di era modern? Apakah kejadian ini sekadar tren sesaat, alias merupakan perubahan sosial nan lebih mendasar?

Meningkatnya Fenomena Childfree di Berbagai Negara

Fenomena childfree bukan hanya terjadi di Indonesia. Berbagai negara mengalami penurunan nomor kelahiran dalam beberapa dasawarsa terakhir. Menurut laporan United Nations melalui World Population Prospects, banyak negara mengalami penurunan tingkat fertilitas hingga berada di bawah tingkat penggantian populasi (replacement level fertility), ialah sekitar 2,1 anak per perempuan. Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Italia, dan Jerman menjadi contoh negara nan menghadapi penurunan nomor kelahiran secara signifikan. Banyak pasangan memilih menunda mempunyai anak, alias apalagi memutuskan untuk tidak mempunyai anak sama sekali.

Ilustrasi pernikahan. Foto: thinkstock

Di Indonesia sendiri, meskipun budaya family tetap sangat kuat, obrolan mengenai childfree semakin sering muncul di media sosial, podcast, forum daring, hingga beragam platform digital lainnya. Meningkatnya pendidikan, urbanisasi, serta perubahan pola pikir generasi muda membikin pilihan hidup tanpa anak mulai dipertimbangkan sebagai salah satu pengganti style hidup.

Penelitian nan diterbitkan dalam jurnal Population and Development Review menunjukkan bahwa perubahan nilai sosial, peningkatan pendidikan perempuan, serta transformasi peran kelamin menjadi aspek krusial nan memengaruhi keputusan seseorang untuk tidak mempunyai anak.

Mengapa Semakin Banyak Orang Memilih Childfree?

Keputusan untuk tidak mempunyai anak biasanya tidak didasarkan pada satu argumen saja. Sebaliknya, keputusan tersebut sering kali merupakan hasil pertimbangan nan kompleks dan multidimensional. Salah satu argumen nan paling sering muncul adalah aspek ekonomi. Biaya membesarkan anak saat ini semakin tinggi, terutama di wilayah perkotaan. Kebutuhan pendidikan, kesehatan, tempat tinggal, hingga biaya pengasuhan menjadi pertimbangan besar bagi banyak pasangan. Di tengah meningkatnya biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi, sebagian perseorangan merasa bahwa mereka belum mempunyai sumber daya nan cukup untuk membesarkan anak secara optimal.

Selain aspek ekonomi, banyak perseorangan juga mempertimbangkan aspek pekerjaan dan pengembangan diri. Generasi muda saat ini condong mempunyai orientasi nan lebih besar terhadap pendidikan, pekerjaan, serta pencapaian personal. Bagi sebagian orang, mempunyai anak dianggap dapat membatasi elastisitas dalam mengejar tujuan hidup tertentu.

Faktor psikologis juga berkedudukan penting. Tidak sedikit perseorangan nan merasa belum siap secara emosional untuk menjalankan peran sebagai orang tua. Sebagian lainnya mempunyai pengalaman masa mini nan kurang menyenangkan, sehingga terdapat rasa cemas bahwa mereka tidak bisa memberikan pengasuhan nan baik kepada anak di masa depan.

Foto: Magnific AI

Penelitian nan dilakukan oleh Neal dan Neal (2021) menunjukkan bahwa argumen memilih childfree sangat beragam, mulai dari preferensi pribadi, kekhawatiran terhadap kondisi dunia, hingga kemauan mempertahankan kebebasan dalam menjalani kehidupan.

Perspektif Psikologi terhadap Keputusan Childfree

Dari perspektif pandang psikologi, keputusan untuk mempunyai alias tidak mempunyai anak merupakan bagian dari otonomi perseorangan dalam menentukan arah kehidupannya. Dalam teori self-determination nan dikembangkan oleh Edward L. Deci dan Richard M. Ryan, manusia mempunyai kebutuhan dasar untuk merasa otonom, kompeten, dan mempunyai keterhubungan sosial. Ketika keputusan hidup diambil berasas pilihan nan betul-betul berasal dari diri sendiri, perseorangan condong merasakan kesejahteraan psikologis nan lebih baik.

Dalam konteks ini, keputusan memilih childfree tidak selalu menunjukkan ketidaksukaan terhadap anak alias ketidakmampuan menjalin hubungan keluarga. Sebaliknya, keputusan tersebut dapat menjadi corak pilihan hidup nan dianggap paling sesuai dengan nilai, tujuan, dan kondisi individu.

Beberapa penelitian apalagi menemukan bahwa tingkat kepuasan hidup tidak selalu berbeda secara signifikan antara perseorangan nan mempunyai anak dan nan tidak mempunyai anak. Kesejahteraan psikologis lebih banyak dipengaruhi oleh kualitas hubungan interpersonal, kondisi kesehatan, support sosial, serta keahlian perseorangan mencapai tujuan hidup nan dianggap bermakna.

Namun demikian, keputusan childfree juga dapat menimbulkan tekanan sosial. Dalam masyarakat nan tetap memandang mempunyai anak sebagai norma utama, perseorangan childfree sering menghadapi pertanyaan, kritik, apalagi stigma dari lingkungan sekitar. Kondisi ini dapat menimbulkan stres psikologis andaikan perseorangan merasa pilihan hidupnya terus-menerus dipertanyakan.

Peran Media Sosial dalam Popularisasi Childfree

Ilustrasi bermain media sosial. Foto: Arsenii Palivoda/Shutterstock

Media sosial mempunyai peran besar dalam memperluas obrolan mengenai childfree. Platform digital memungkinkan perseorangan berbagi pengalaman, alasan, dan pandangan mereka mengenai keputusan hidup tanpa anak kepada audiens nan lebih luas.

Di satu sisi, media sosial membantu masyarakat memahami bahwa terdapat beragam corak kehidupan family nan berbeda. Individu nan sebelumnya merasa sendirian dalam pilihannya dapat menemukan organisasi dengan pengalaman serupa.

Namun di sisi lain, media sosial juga sering menyederhanakan rumor childfree menjadi perdebatan hitam-putih. Tidak jarang muncul narasi nan menggambarkan bahwa mempunyai anak adalah pilihan nan salah, alias sebaliknya bahwa childfree merupakan pilihan nan egois. Padahal, keputusan mengenai mempunyai anak merupakan persoalan nan sangat individual dan dipengaruhi oleh beragam aspek nan berbeda pada setiap individu.

Paparan konten media sosial nan berkarakter ekstrem juga dapat memperkuat polarisasi opini masyarakat, sehingga obrolan nan semestinya berkarakter reflektif berubah menjadi bentrok ideologis.

Dampak Demografis dan Sosial dalam Jangka Panjang

Apabila tren penurunan nomor kelahiran terus berjalan dalam skala besar, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh masyarakat secara luas. Banyak negara nan mengalami nomor kelahiran rendah menghadapi tantangan berupa penuaan populasi (aging population), berkurangnya jumlah tenaga kerja produktif, serta meningkatnya beban ekonomi untuk mendukung golongan lanjut usia.

Ilustrasi pekerja. Foto: Shutterstock

Fenomena ini telah menjadi perhatian serius di beragam negara maju. Penurunan jumlah masyarakat usia produktif dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi, sistem pensiun, serta keberlanjutan beragam sektor sosial.

Namun demikian, krusial untuk dipahami bahwa tren childfree hanyalah salah satu aspek di antara banyak aspek nan memengaruhi perubahan demografi. Penurunan nomor kelahiran juga dipengaruhi oleh urbanisasi, perubahan struktur keluarga, peningkatan pendidikan, serta transformasi sosial nan terjadi secara global.

Antara Hak Individu dan Nilai Sosial

Perdebatan mengenai childfree sering kali berada di antara dua kepentingan nan sama-sama penting, ialah kewenangan perseorangan untuk menentukan pilihan hidupnya dan nilai sosial nan menempatkan family serta keturunan sebagai bagian krusial dari kehidupan masyarakat.

Dari perspektif kewenangan individu, setiap orang mempunyai kebebasan untuk menentukan apakah mau mempunyai anak alias tidak. Keputusan tersebut merupakan bagian dari otonomi pribadi nan semestinya dihormati selama tidak merugikan orang lain.

Sementara itu, dari perspektif sosial dan budaya, keberadaan family dan generasi penerus mempunyai peran krusial dalam menjaga keberlangsungan masyarakat. Oleh lantaran itu, obrolan mengenai childfree sering kali melibatkan beragam perspektif pandang nan tidak selalu mudah dipertemukan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan