Jakarta, CNBC Indonesia - Keuntungan perusahaan industri China melesat pada Maret 2026, menunjukkan ketahanan kuat di tengah gejolak nilai daya dunia akibat bentrok Timur Tengah. Data terbaru menunjukkan lonjakan untung nan signifikan, didorong oleh booming sektor kepintaran buatan (AI) dan semikonduktor.
Biro Statistik Nasional (NBS) mencatat, untung industri naik 15,8% secara tahunan pada Maret dan ini menjadi pertumbuhan tercepat dalam enam bulan terakhir. Angka ini lebih tinggi dibanding kenaikan 15,2% pada periode Januari-Februari.
Secara kumulatif, untung perusahaan industri pada kuartal I-2026 tumbuh 15,5% (year-on-year), menjadi awal tahun terkuat sejak 2017, di luar lonjakan anomali saat pandemi 2021.
"Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh sektor peralatan dan manufaktur teknologi tinggi," ujar Yu Weining, kepala mahir statistik NBS, seperti dikutip CNBC International.
Ia memerinci, untung sektor peralatan melonjak 21%, sementara manufaktur teknologi tinggi meroket 47,4% pada kuartal pertama.
Ledakan AI dan industri chip menjadi motor utama. Laba produsen serat optik apalagi melonjak hingga 336,8% dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, produsen optoelektronik dan perangkat display masing-masing mencatat kenaikan untung sebesar 43% dan 36,3%.
Permintaan terhadap produk pandai juga ikut mengerek kinerja. Laba produsen drone naik 53,8%, seiring meningkatnya mengambil perangkat konsumen berbasis teknologi cerdas.
Tak hanya itu, sektor hulu juga mencatat pemulihan. Laba produsen bahan baku melonjak 77,9% pada kuartal pertama, ditopang peralihan kilang minyak ke area profit. Industri strategis seperti kedirgantaraan, daya baru, dan teknologi info generasi berikutnya turut menyumbang lonjakan untung besar, termasuk sektor logam non-ferrous nan naik 116,7%.
Sementara itu, Presiden dan Kepala Ekonom Pinpoint Asset Management, Zhiwei Zhang, menilai ekspor menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan. Ia mencatat, pada kuartal pertama ekspor China tumbuh 14,7% dalam dolar AS alias laju tercepat sejak awal 2022. Dengan dugaan kurs Rp17.000 per US$, kenaikan tersebut setara sekitar Rp249,9 triliun untuk setiap tambahan US$14,7 miliar.
"Namun bentrok di Timur Tengah bakal tetap membebani ekonomi pada kuartal kedua, terutama melalui kenaikan nilai daya dan melemahnya permintaan global," kata Zhang.
Kenaikan nilai daya memang mulai terasa. Harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 48% sejak eskalasi bentrok pada akhir Februari, mendorong kenaikan biaya bahan baku seperti kimia, serat, dan plastik di seluruh rantai pasok global. Meski demikian, struktur daya China nan lebih berjuntai pada batu bara dan daya terbarukan memberikan alas terhadap gejolak tersebut.
Kepala ahli ekonomi China di Morgan Stanley, Robin Xing, mengatakan sekitar 70% perusahaan dalam 32 sektor industri melaporkan guncangan biaya nan lebih mini dan gangguan produksi nan lebih ringan dibandingkan pesaing global.
"China berada pada posisi nan relatif lebih baik dan berpotensi merebut pangsa pasar ekspor di tengah guncangan daya nan besar namun tidak ekstrem," ujarnya.
Meski begitu, tekanan belum sepenuhnya mereda. Permintaan dunia nan melambat berpotensi menahan laju ekspor, sementara tingginya biaya impor daya dapat terus menekan margin keuntungan. Di dalam negeri, pelemahan pasar properti dan lesunya pasar tenaga kerja juga membebani permintaan, memicu persaingan nilai di beragam sektor.
Namun ada sinyal perbaikan dari sisi harga. Indeks nilai produsen (PPI) China kembali tumbuh positif pada Maret, didorong oleh kenaikan nilai minyak, mengakhiri periode deflasi terpanjang dalam beberapa dekade.
Morgan Stanley memperkirakan inflasi produsen bakal naik 1,2% tahun ini setelah turun 2,6% pada tahun sebelumnya, sementara inflasi konsumen diproyeksikan meningkat menjadi 0,8% dari kondisi stagnan tahun lalu.
(tfa/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·