Persaingan masuk sekolah, khususnya sekolah negeri, semakin susah, lantaran setiap daerahnya pasti mempunyai julukan sekolah unggulan, nan dianggap jika kita sukses masuk ke sekolah tersebut kita bakal dihargai dan dilihat bahwa siswa tersebut berprestasi.
Tidak sedikit siswa nan mengikuti pengarahan belajar, les tambahan hingga mengurangi waktu istirahat,bahkan ada nan mengalami tekanan psikologis demi mengejar standar "sekolah unggulan". Padahal, pemerintah sudah berupaya untuk melakukan pemerataan pembangunan pendidikan agar mengurangi kesenjangan pendidikan di setiap wilayah, namun nyatanya tetap banyak siswa nan kudu belajar hingga malam, les tambahan, apalagi hingga depresi lantaran kudu mengejar jalur prestasi agar tidak tersendat oleh sistem jalur zonasi.
Dari kejadian ini dapat kita lihat bahwa kualitas pendidikan masyarakat tetap sering diukur dan dinilai dari nama sekolah, bukan dari proses belajar ataupun potensi siswa tersebut. Akibatnya, muncul dugaan masyarakat bahwa siswa nan sukses masuk sekolah unggulan bakal mendapatkan masa depan nan lebih baik dibandingkan dengan sekolah biasa lainnya.
Dari pandangan masyarakat tersebut dapat membikin tekanan sosial baik bagi siswa maupun orang tua. Tidak sedikit orang tua rela untuk mengeluarkan biaya nan cukup besar untuk pengarahan belajar demi meningkatkan kesempatan anaknya untuk masuk sekolah unggulan.
Dalam masuk perguruan tinggi negeri (PTN) juga terjadi perihal nan sama, masuk PTN favorit alias biasa dikenal dengan "Top 3" nan dianggap oleh masyarakat bahwa mahasiswa dari kampus tersebut mempunyai masa depan nan lebih cerah dan lebih mudah untuk masuk dalam bumi pekerjaan.
Persaingan nan semakin ketat juga membikin siswa tidak hanya menghadapi tuntutan akademik, tetapi juga mengalami tekanan sosial. Pertanyaan nan sering ditanyakan oleh masyarakat seperti "kuliah di mana?", " masuk PTN mana" sering menambah beban psikologis, apalagi ada siswa nan kehilangan rasa percaya diri alias apalagi sampai menutup diri ketika tidak sukses lolos ke universitas impian, nan seolah masa depan ditentukan oleh nama kampus.
Padahal, keberhasilan seseorang tidak semata-mata diukur oleh tempat di mana dia menempuh pendidikan, tapi juga dari proses, kemampuan, relasi, dan upaya nan terus dikembangkan dari perseorangan tersebut. Jika masyarakat terus menciptakan standar keberhasilan alias kesuksesan hanya dari nama sekolah alias PTN, maka sistem pendidikan bakal berisiko untuk menciptakan tekanan mental nan semakin besar bagi generasi muda.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·