Dulu Dilarang Main Sepak Bola, Kini Juneti Latihan Bareng Tim Jerman HSV

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Juneti, peserta Girls Football 3.0 nan sedang mengikuti sesi coaching clinic berbareng pemain Hamburger SV di Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (16/6). Foto: Antika Fahira/kumparanBOLANITA

“Perempuan kok main bola?”

Kalimat itu bukanlah sesuatu nan asing bagi wanita nan mau menekuni sepak bola. Buat sebagian orang, lapangan hijau memang tetap dianggap sebagai ruang milik laki-laki.

Juneti juga pernah merasakannya sendiri.

Siswi asal Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), itu sempat mendapat larangan bermain sepak bola—bukan dari orang tuanya, melainkan dari kakak laki-lakinya.

Saat itu, keinginannya untuk sekadar menendang bola dianggap tidak lazim bagi seorang perempuan. Menurut sang kakak, anak wanita semestinya membantu pekerjaan rumah tangga, bukan berlari mengejar bola di lapangan.

Namun, larangan tersebut tak membikin Juneti menjauh dari sepak bola. Sedikit demi sedikit, dia terus bermain dan membuktikan bahwa anak wanita juga berkuasa mengejar apa nan mereka sukai, termasuk di lapangan hijau.

Kini, di usia 14 tahun, Juneti menjadi salah satu peserta aktif Girls Football 3.0, sebuah program nan dijalankan Plan Indonesia berbareng Plan International Germany nan bermaksud untuk mendorong kesetaraan kelamin melalui sepak bola.

Program itulah nan mempertemukan kumparanBOLANITA dengan Juneti di sebuah pagi berkabut di Mollo Utara.

***

Langit tetap cukup gelap ketika kumparanBOLANITA bertolak dari Jakarta menuju Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada Senin (15/6).

Kami mendapat kesempatan mengikuti agenda Plan Indonesia dan Plan International Germany untuk memandang secara langsung gimana sepak bola digunakan sebagai ruang pemberdayaan bagi anak-anak wanita di Timor Tengah Selatan (TTS).

Selama tiga hari, kumparanBOLANITA meliput rangkaian aktivitas Girls Football 3.0, termasuk coaching clinic berbareng pemain dan pembimbing klub sepak bola wanita asal Jerman, Hamburger SV (HSV).

Penerbangan dari Jakarta menuju Kupang menyantap waktu nyaris tiga jam. Berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 07.00 WIB, kami pun tiba di Bandara El Tari sekitar pukul 11.00 WITA.

Namun, perjalanan panjang ini tetap belum selesai.

Bersama rombongan Plan Indonesia, Plan International Germany, serta pemain-pelatih Hamburger SV, kami melanjutkan perjalanan darat menuju Timor Tengah Selatan dengan waktu kurang lebih dua jam menggunakan mobil van berwarna putih.

Jalanan menuju TTS cukup berkelok-kelok hingga membikin kami kudu menggunakan seat belt. Meski begitu, para penumpang di dalam mobil van berwarna putih ini dibuat terpukau oleh pemandangan padang-padang luas nan mulai menguning diterpa musim kemarau.

Semakin mendekati TTS, udara semakin sejuk. Berbeda dengan Kupang nan gersang, kota mini di dataran tinggi ini menyambut kami dengan angin nan sesekali membikin jaket tipis terasa diperlukan.

Pemandangan pun mulai berubah; gereja berdiri di beragam perspektif pemukiman, pikulan kota melintas sembari memutar musik dengan volume tinggi, di pinggir jalan, anjing-anjing milik penduduk berkeliaran bebas seolah menjadi bagian dari ritme kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.

Sesampainya di TTS, waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB. kumparanBOLANITA berbareng rombongan menghabiskan waktu dengan beristirahat di hotel.

Peserta Girls Football 3.0 sedang berpotret berbareng HSV dalam program nan digagas Plan Indonesia dan Plan International Germany di Timor Tengah Selatan (TSS), Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (16/6). Foto: Dok. Plan Indonesia

Selasa, 16 Juni 2026, perjalanan kembali berlanjut.

Setelah sarapan di hotel tempat kami menginap, mobil van berwarna putih kemudian bergerak menuju SMPN 1 Mollo Utara, letak coaching clinic berbareng Hamburger SV. Perjalanan ini menyantap waktu sekitar 30 menit.

Pagi itu, gerimis turun di TTS. Kabut tipis menyelimuti perbukitan nan kami lewati, sementara udara dingin cukup menusuk hingga membikin sebagian dari kami memilih tetap mengenakan jaket sepanjang perjalanan.

Sesampainya di SMPN 1 Mollo Utara, suasana hangat langsung menyambut kami.

Para peserta Girls Football 3.0 telah duduk manis di dalam kelas. Senyum mereka mengembang ketika rombongan Plan Indonesia, Plan International Germany, pemain dan pembimbing Hamburger SV Frauen, serta awak media memasuki kelas.

Sayangnya, di luar kelas, cuaca tetap belum bersahabat. Kabut menggantung di perbukitan sekitar sekolah. Gerimis nan turun sejak pagi membikin udara di Mollo Utara terasa jauh lebih dingin, acapkali lipat dibandingkan Kupang.

Namun, cuaca dingin ini tak menyurutkan semangat para peserta.

Begitu aktivitas coaching clinic sejenak lagi bakal dimulai, para peserta Girls Football 3.0 berceceran keluar kelas menuju lapangan. Sesampainya di sana, mereka langsung melakukan sesi latihan berbareng pemain dan pembimbing HSV, Pauline Machtens dan Kristin Witte.

Di antara puluhan peserta itu, perhatian kumparanBOLANITA tertuju kepada seorang siswi nan kakinya seolah tak pernah lepas dari bola sejak aktivitas dimulai.

Namanya Juneti.

Juneti, peserta Girls Football 3.0 nan sedang mengikuti sesi coaching clinic berbareng pemain Hamburger SV di Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (16/6). Foto: Antika Fahira/kumparanBOLANITA

Gadis berumur 14 tahun itu tampak begitu antusias mengikuti setiap petunjuk nan diberikan pemain dan pembimbing HSV. Sesekali dia bertepuk tangan, sesekali dia memperagakan apa nan sudah dipelajarinya, dan sesekali dia tertawa lepas berbareng teman-temannya.

Sulit membayangkan bahwa beberapa tahun lalu, Juneti sempat tidak mendapat support dari orang terdekatnya dalam menjalani hobinya bermain sepak bola

"Saya suka sepak bola dari kelas enam SD," kata Juneti saat kumparanBOLANITA berbincang kepadanya usai sesi coaching clinic berakhir.

Awalnya, Juneti tertarik dengan sepak bola lantaran sering memandang orang-orang di sekitar tempat tinggalnya bermain. Menurut Juneti, permainan si kulit bundar itu terlihat menyenangkan.

"Kalau lihat orang-orang bermain bola itu sangat seru. Jadi pengin mencoba dan pengin juga jadi atlet bola," ujarnya.

Keinginannya itu rupanya tak langsung mendapat dukungan. Kata Juneti, kakak laki-lakinya pernah melarangnya bermain sepak bola lantaran menganggap sepak bola bukan olahraga nan cocok dimainkan perempuan.

"Menurut kakak, anak wanita itu di rumah untuk masak-masak, bantu orang tua, bersih-bersih rumah. Tidak boleh bermain bola, cukup laki-laki saja nan boleh bermain bola," tuturnya.

Namun, larangan itu tidak membikin Juneti menyerah. Alih-alih berakhir bermain, dia tetap datang ke lapangan. Bahkan sesekali dia berdebat dengan kakaknya demi mempertahankan hobinya tersebut.

"Ya biasa, saya melawan dengan kakak. Kakak tetap marah dan bilang jangan bermain, tapi orang tua kasih izin jadi saya tetap ikut bermain," katanya sembari tersenyum.

Beruntung, orang tuanya punya pandangan nan berbeda dengan kakaknya. Mereka mendukung Juneti dalam menekuni si kulit bundar. Bahkan ibunya menjadi orang pertama nan selalu menyemangatinya untuk terus bermain sepak bola.

"Mama selalu suruh tetap semangat. Mama selalu bermohon dan kasih semangat nan luar biasa," kata Juneti.

Sang ayah juga memberikan support serupa. Keduanya berpesan agar Juneti bermain dengan sportif dan tetap menghormati musuh saat berada di lapangan.

Peserta Girls Football 3.0 dan Pauline Machtens, pemain HVS, sedang berduel dalam program nan digagas Plan Indonesia dan Plan International Germany di Timor Tengah Selatan (TSS), Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (16/6). Foto: Dok. Plan Indonesia

Perlahan, sikap kakaknya mulai berubah.

Semakin sering memandang Juneti bermain, sang kakak mulai memahami bahwa sepak bola bukan sekadar permainan bagi adiknya. Kini, orang nan dulu paling keras melarangnya justru menjadi salah satu pendukung terbesarnya.

Perubahan itu semakin terasa ketika Juneti mendapat kesempatan mengikuti coaching clinic berbareng Hamburger SV. Saat mendengar tim asal Jerman tersebut bakal datang ke sekolahnya, sang kakak ikut merasa senang.

"Kakak malah dukung. Pas dengar tim Jerman mau datang, kakak malah senang," ujar Juneti.

Tak hanya kakaknya, Juneti sendiri juga nyaris tak percaya bisa berlatih berbareng klub dari Eropa tersebut. Baginya, kesempatan itu adalah pengalaman nan mungkin tak bakal datang dua kali.

"Sangat senang dan sangat bangga," pungkas Juneti.

Setelah sesi coaching clinic dan perbincangan dengan kumparanBOLANITA berakhir, Juneti kembali berkumpul berbareng teman-temannya. Tawa mereka terdengar memenuhi lapangan nan tetap basah oleh gerimis.

Mungkin, perjalanan Juneti menuju cita-citanya sebagai pesepak bola tetap panjang. Namun setidaknya, hari itu dia sudah membuktikan satu perihal bahwa lapangan hijau bukan hanya milik laki-laki.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan