Dua Siswa Sekolah Rakyat Jadi Delegasi Indonesia di 9th ASEAN Children's Forum

Sedang Trending 53 menit yang lalu
Dua siswa Sekolah Rakyat menjadi delegasi Indonesia pada 9th ASEAN Children's Forum (ACF) nan berjalan hybrid 4-5 Agustus 2026 di Putrajaya, Malaysia. Foto: Dok. Kemensos

Dua siswa Sekolah Rakyat menjadi delegasi Indonesia pada 9th ASEAN Children's Forum (ACF), forum anak tingkat regional nan mempertemukan perwakilan anak dari negara-negara ASEAN untuk membahas perlindungan anak.

Mereka adalah Misfan Nazriel Faturrahman, siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi, dan Jasmia Kusuma Dewi, siswi Sekolah Rakyat DKI Jakarta. Bersama dua delegasi lainnya dari Forum Anak Nasional, keduanya mewakili Indonesia dalam forum bertema Shielding ASEAN Childhood: Say No to Violence nan berjalan pada 4-5 Agustus 2026 di Putrajaya, Malaysia secara hybrid.

Forum nan diselenggarakan di bawah koordinasi Senior Officials Meeting on Social Welfare and Development (SOMSWD) tersebut menjadi wadah bagi anak-anak ASEAN untuk berganti pengalaman, menyampaikan pandangan, sekaligus menyusun rekomendasi mengenai pencegahan kekerasan terhadap anak nan bakal menjadi masukan bagi kebijakan perlindungan anak di area ASEAN.

Misfan dan Jasmia mengikuti seluruh rangkaian aktivitas secara daring dari Aston Imperial Bekasi dengan didampingi pembimbing Sekolah Rakyat serta mentor dari Kementerian Sosial dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA).

Selama forum berlangsung, Misfan dan Jasmia berbareng para delegasi lain mengikuti presentasi, obrolan kelompok, hingga penyusunan rekomendasi berbareng mengenai kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah, keluarga, ruang digital, dan masyarakat.

Pada forum tersebut, delegasi Indonesia mempresentasikan lima corak kekerasan terhadap anak nan menjadi perhatian di Indonesia, ialah kekerasan fisik, psikologis alias emosional, kekerasan seksual, kekerasan digital, serta penelantaran.

Misfan mengatakan seluruh materi dipersiapkan sendiri oleh keempat delegasi Indonesia. Mulai dari menyusun naskah hingga memastikan seluruh info telah diverifikasi sebelum dipresentasikan di hadapan delegasi negara lain.

"Kita membikin semua dari video, bikin teks, diskusi, dan brainstorming berempat. Kita pakai data-data nan ada dari beberapa kementerian, lampau di-fact check dan double check juga, termasuk memastikan bahasanya sudah betul dan sopan," ujar Misfan.

Dua siswa Sekolah Rakyat menjadi delegasi Indonesia pada 9th ASEAN Children's Forum (ACF) nan berjalan hybrid 4-5 Agustus 2026 di Putrajaya, Malaysia. Foto: Dok. Kemensos

Persiapan menuju forum juga dilakukan berbareng pembimbing pendamping di Sekolah Rakyat selama sekitar satu minggu. Selain memperdalam rumor kekerasan terhadap anak, mereka mempelajari istilah-istilah berkata Inggris nan berangkaian dengan topik diskusi.

Guru Bahasa Inggris Sekolah Rakyat DKI Jakarta, Tahta Aulia Pangestika, mengaku bangga memandang anak didiknya bisa tampil membawa nama Indonesia.

"Ini pertama kali juga siswa Sekolah Rakyat bisa ikut dalam forum internasional. Kami banyak melakukan riset kasus-kasus nan terjadi di Indonesia maupun ASEAN. Selama sekitar satu minggu kami konsentrasi brainstorming dan mempelajari istilah-istilah nan bakal digunakan dalam forum," kata Tahta.

Bagi Jasmia, kesempatan menjadi delegasi Indonesia sempat membuatnya diliputi rasa gugup. Namun pengalaman tersebut justru menjadi titik kembali nan menumbuhkan rasa percaya diri.

"Sebelumnya saya betul-betul deg-degan lantaran ini pertama kali ikut aktivitas sebesar ini. Tapi rupanya pas hari H tidak semenakutkan itu. Setelah dijalani, rupanya bisa," ujar Jasmia.

Sebelum tampil di forum ASEAN, Jasmia aktif mengikuti beragam aktivitas di Sekolah Rakyat, mulai dari lomba Bulan Bahasa, berpidato dalam bahasa Inggris, hingga menjadi pembawa aktivitas pada aktivitas Open House Sekolah Rakyat nan dihadiri oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.

"Sebelumnya paling saya ikut lomba-lomba biasa. Terus pernah pidato bahasa Inggris dan jadi MC di aktivitas Sekolah Rakyat. Jadi ini pengalaman nan betul-betul baru buat saya," katanya.

Sementara itu, Misfan mengaku sempat membayangkan forum tersebut bakal menjadi tantangan nan sangat berat lantaran mempertemukan peserta dari beragam negara ASEAN.

"Awalnya saya pikir pasti berat lantaran ini tingkat ASEAN dan pesertanya pasti jago-jago. Tapi ya dijalankan saja. Jangan merasa terlalu berat, percaya diri sama keahlian sendiri," ujar Misfan.

Di luar aktivitas akademik, Misfan juga aktif mengikuti beragam kejuaraan dan organisasi, mulai dari Olimpiade Sains Nasional bagian Matematika, debat Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, Paskibra, pencak silat, hingga taekwondo.

"Saya memang tetap banyak eksplorasi. Ikut OSN, debat Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, Paskibra, silat, sampai taekwondo. Kalau pelajaran saya paling suka IPA lantaran mau masuk teknik penerbangan alias aerospace engineering," katanya.

Tahta berambisi pencapaian ini menjadi awal lahirnya lebih banyak prestasi dari siswa-siswa Sekolah Rakyat di tingkat nasional maupun internasional.

"Harapannya kelak anak-anak Sekolah Rakyat nan lain juga bisa mengikuti aktivitas seperti ini, baik di bagian Bahasa Inggris maupun bagian lainnya, sampai tingkat nasional apalagi internasional," ujarnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan