Drone Irak Serbu Pipa Arab Saudi, Harga Minyak Bisa Naik Tinggi

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pipa minyak nan sangat krusial bagi Arab Saudi terpaksa ditutup usai dibombardir oleh deretan pesawat tak berawak (drone) nan diluncurkan dari Irak. Serangan beruntun ini menghanguskan tanah di sekitar lokasi, memicu kepulan asap tebal, serta mengakibatkan sejumlah korban luka dan kerusakan akomodasi vital.

Mengutip BBC, Sabtu (12/09/2026), gempuran drone terhadap jaringan pipa ini dikonfirmasi berasal dari provinsi Maysan, Irak, nan berbatasan langsung dengan Iran. Pipa sepanjang 1.200 km tersebut selama ini menjadi urat nadi daya lantaran mengalirkan sekitar 4% hingga 5% dari total pasokan minyak dunia dan menjadi jalur utama bagi Arab Saudi untuk memotong rute rawan di Selat Hormuz.

Merespons gempuran nan berasal dari wilayahnya, pemerintah Irak langsung meluncurkan investigasi mendalam dan memecat komandan operasi militer di provinsi Maysan.

Sementara itu, pemerintah Riyadh pada Jumat (11/09/2026) mengonfirmasi penutupan pipa sebagai langkah pencegahan. Usai menerima telepon dari Perdana Menteri Irak, Arab Saudi memilih menahan diri dari serangan jawaban dan mendukung upaya Baghdad untuk mencegah kejadian serupa.

"Kerajaan Arab Saudi menegaskan bahwa pihaknya berkuasa mengambil semua tindakan nan diperlukan untuk menjaga kedaulatan dan keamanannya, melindungi fasilitasnya, dan memastikan keselamatan penduduk negara serta penduduknya," tegasnya.

Serangan mematikan ini langsung memicu kemarahan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) nan beranggotakan Uni Emirat Arab, Bahrain, Oman, Qatar, dan Kuwait. Sekretaris Jenderal GCC, Jasem Mohamed Albudaiwi, menyoroti ancaman eskalasi krisis nan melebar di area tersebut.

"Serangan ini merupakan eskalasi nan rawan dan ancaman nan tidak dapat diterima terhadap keamanan Kerajaan Arab Saudi, integritas teritorialnya, dan instalasi vitalnya, serta pelanggaran mencolok terhadap prinsip-prinsip norma internasional," paparnya.

Penutupan paksa pipa minyak akibat serangan drone di utara ini kian memperburuk krisis pasokan energi, terlebih di tengah kemajuan kilat milisi pemberontak Houthi di Yaman pada pekan ini.

Di tengah perang AS-Iran nan memasuki bulan ketujuh, golongan Houthi mengeklaim telah sukses merebut kendali atas sebagian besar garis pantai Yaman, termasuk Selat Bab al-Mandab nan merupakan gerbang pelayaran utama menuju Laut Merah dan Terusan Suez.

Hantaman dari dua sisi Semenanjung Arab ini kontan mendorong nilai minyak mentah meroket melampaui US$ 100 (Rp 1.770.000) per barel untuk perdana sejak Juli.

"Navigasi maritim kondusif bagi semua perusahaan selain untuk kapal-kapal Saudi," ungkap golongan Houthi.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News