Ilustrasi(Dok UGM)
SALAH satu hasil penelitian tim Universitas Gadjah Mada dalam pengembangan perangkat radiografi Sinar-X digital mulai diterapkan untuk jasa pemeriksaan radiologi kesehatan berbasis masyarakat. Riset berjudul Alat Radiografi Sinar-X Digital Keliling untuk Layanan Skrining Tuberculosis dan Medical Check Up tersebut merupakan bagian dari Program Riset Sinergi 2025–2026 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Hasil riset kemudian dikembangkan melalui Rumah Skrining nan mengintegrasikan teknologi radiografi digital dengan sistem pengelolaan jasa kesehatan. Layanan tersebut mulai dioperasikan pada 27–28 Agustus 2026 di lingkungan CV Prestige Furniture, Yogyakarta.
Riset tersebut dipimpin Prof. Drs. Gede Bayu Suparta, M.Si., Ph.D. dari FMIPA UGM dan dikembangkan melalui sinergi dengan PT Madeena Karya Indonesia, CV Prestige Furniture, serta RSKIA Permata Bunda Yogyakarta.
Rumah Skrining dirancang untuk membawa hasil pengembangan teknologi radiografi ke dalam jasa nan lebih dekat dengan masyarakat. Model ini juga diarahkan untuk memperluas akses pemeriksaan kesehatan, khususnya jasa nan memerlukan pemeriksaan radiologi. “Rumah Skrining adalah start-up nan bermaksud untuk menyediakan jasa pemeriksaan kesehatan radiologi berbasis masyarakat,” ujar Bayu, Sabtu (29/8).
Dalam pengembangannya, Rumah Skrining tidak berdiri sebagai akomodasi radiologi nan terpisah dari sistem pelayanan kesehatan. Layanan ini dipandu oleh akomodasi pelayanan kesehatan seperti klinik alias rumah sakit, sekaligus memanfaatkan perangkat radiologi nan dikelola melalui Madeena Health Care System (MHCS) alias Madeena Solution.
Platform tersebut mencakup tata kelola info DICOM, PACS, teleradiologi, dan pembacaan gambaran radiologi dengan support AI. “Kehadiran Rumah Skrining diharapkan dapat membantu Pemerintah mempercepat capaian Program Eliminasi TB 2030 dan memperluas keterjangkauan masyarakat pada jasa Cek Kesehatan plus Radiografi Sinar-x,” ujar Bayu.
Bayu menjelaskan teknologi radiografi nan digunakan mempunyai fitur untuk pemeriksaan badan dan dada dengan dosis radiasi rendah. Citra nan dihasilkan kemudian dapat dianalisis dengan support perangkat lunak AI, sementara proses pemeriksaan hingga pembacaan hasil disebut dapat dilakukan dalam waktu sekitar 15 menit untuk setiap pasien. Informasi mengenai status kesehatan pasien juga dapat disimpan ke dalam platform SatuSehat nan dikelola pemerintah.
Pengembangan jasa selanjutnya diarahkan agar Rumah Skrining dapat datang di beragam lingkungan, mulai dari perguruan tinggi, area industri, pesantren, sekolah, rumah sakit pratama, hingga puskesmas. Bayu berujar ekspansi titik jasa diharapkan dapat membuka kesempatan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan akomodasi skrining kesehatan.
Di sisi lain, teknologi radiografi juga terus berkembang dengan perangkat nan semakin ringan, irit energi, dan dapat menggunakan baterai isi ulang. “Teknologi pesawat sinar-x condong semakin maju, canggih, aman, ringan, irit energi, dan rechargeable,” ungkapnya.
Direktur Operasional Rumah Skrining Annisa Fitriana, S.Ant., menjelaskan bahwa pengelolaan jasa dilakukan dengan memanfaatkan ekosistem teknologi nan telah disiapkan untuk mendukung pemeriksaan radiologi.
Rumah Skrining dapat mengelola perangkat radiologi produk PT Madeena Karya Indonesia maupun perangkat radiologi impor nan telah terpasang di rumah sakit di Indonesia. Sistem tersebut memungkinkan proses tata kelola info dan jasa radiologi terhubung dalam satu platform. “MHCS juga disebut Madeena Solution, telah dilengkapi sistem tata kelola info DICOM, PACS, Teleradiologi, dan pembacaan gambaran radiologi menggunakan support Kecerdasan Buatan AI,” jelas Annisa.
Implementasi perdana dilakukan di lingkungan CV Prestige Furniture nan merupakan mitra produksi perangkat radiografi DDR Madeena. Pimpinan CV Prestige Furniture Wahyudi Ganda Wijaya menyampaikan komitmen perusahaan untuk memeriksa dan menjaga kesehatan 40 karyawannya melalui akomodasi Rumah Skrining. Kehadiran akomodasi tersebut juga diharapkan dapat dimanfaatkan oleh family tenaga kerja dan masyarakat di sekitar pabrik. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan jasa radiografi di lingkungan nan sebelumnya dinilai tetap susah memperoleh akses jasa umum nan terjangkau.
Layanan perdana Rumah Skrining berjalan selama dua hari dengan pemeriksaan berupa radiografi thorax. Pada Kamis (27/8), sebanyak 35 orang mengikuti pemeriksaan, sedangkan pada Jumat (28/8) tercatat 42 peserta. Pelaksanaan tersebut menjadi tahap awal penerapan model jasa radiologi berbasis masyarakat nan dikembangkan melalui kerjasama perguruan tinggi, industri, dan akomodasi pelayanan kesehatan. Hasil penerapan awal ini sekaligus menjadi pengalaman lapangan dalam pengembangan jasa Rumah Skrining berikutnya.
Selain jasa berbasis lokasi, pengembangan Rumah Skrining diarahkan pada penggunaan radiografi keliling nan ditempatkan di atas truk niaga ringan. Kendaraan tersebut dirancang untuk menjangkau lingkungan permukiman nan sempit maupun wilayah dengan medan nan lebih berat, sehingga pemeriksaan tidak kudu selalu dilakukan di akomodasi kesehatan.
Konsep ini menggabungkan jasa radiografi keliling dengan teleradiologi dan pembacaan AI melalui platform Madeena Health Care System untuk mendukung program Active Case Finding TBC berbareng fasyankes tingkat pratama maupun puskesmas. Pendekatan tersebut dirangkum melalui konsep “Serve at everywhere, Read from Anywhere”.
Bayu berambisi pengembangan teknologi tersebut dapat didukung oleh terbentuknya ekosistem radiografi sinar-X digital nan melibatkan pemerintah, akomodasi kesehatan, industri, perguruan tinggi, dan masyarakat. Ia juga mendorong adanya izin nan bisa memberikan ruang bagi pemanfaatan teknologi radiografi untuk kebutuhan pelayanan kesehatan. Baginya ekspansi akses terhadap info kesehatan merupakan bagian krusial dalam membangun masyarakat nan sehat sekaligus mendukung kekuatan ekonomi dan industri nasional. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·