
NUS Business School. (Foto: Rivan Nasri Rachman/Okezone)
SINGAPURA – Dalam menghadapi gelombang disrupsi teknologi dan dinamika dunia nan kian bergerak cepat, bumi pendidikan tinggi dituntut untuk terus beralih bentuk agar tetap relevan. Kesadaran inilah nan mendorong langkah strategis kepemimpinan baru di lingkungan salah satu lembaga pendidikan upaya paling bergengsi di Singapura, ialah NUS Business School.
NUS Business School terus menegaskan posisinya sebagai pusat kelebihan manajemen nan memadukan wawasan dunia dengan perspektif unik Asia. Di bawah kepemimpinan sang dekan baru, Profesor Teo Chung Piaw, lembaga peraih legalisasi internasional dobel ini berkomitmen untuk membawa angin segar melalui penyesuaian teknologi mutakhir serta penguatan jejaring kemitraan lintas negara.

1. Hadapi Era AI
Profesor Teo Chung Piaw mengungkapkan keputusannya untuk kembali terjun ke bumi pendidikan didasari oleh kepercayaan bahwa kepintaran buatan (AI) membawa akibat transformatif bagi masyarakat. Karena itu, kurikulum dan aktivitas perkuliahan dirancang agar tidak sekadar teoritis, melainkan bisa menjawab tantangan upaya secara langsung.
"Menjadi AI natif bukan hanya menggabungkan alat-alat AI ke dalam kuliah-kuliah Anda. Ini lebih dari itu; ini tentang berpikir, bernafas, dan melakukan segalanya dengan teknologi, mengubah langkah belajar, langkah mengajar, dan menerima langkah baru," kata Profesor Teo Chung Piaw, kepada Okezone di Singapura, Kamis 8 Oktober 2026.
Selain penguasaan teknologi, lembaga ini juga mendorong pendekatan pembelajaran eksternal nan melibatkan mahasiswa secara langsung dengan persoalan bumi nyata di perusahaan-perusahaan mitra. Langkah ini diyakini bisa melahirkan lulusan nan handal serta siap memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan bumi usaha.
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·