Dolar Tembus Rp18.000, Pengusaha Efisiensi dan Stop Buka Lowongan Kerja

Sedang Trending 57 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar menembus ke level Rp 18.000/U$, pada perdagangan pagi ini, Kamis (4/6/2026). Pengusaha mulai mengambil langkah untuk melakukan efisiensi hingga berakhir sementara untuk merekrut pegawai baru atau hiring freeze.

Shinta menjelaskan bahwa bumi upaya telah menghadapi tekanan nilai tukar secara berjenjang dalam beberapa bulan terakhir. Hingga dampaknya pada sektor riil semakin terasa. Merespons kondisi ini, menurut Shinta, bumi upaya melakukan beberapa langkah mitigasi.

"Banyak perusahaan memilih melakukan efisiensi operasional, hiring freeze, pengendalian biaya non-esensial, penundaan ekspansi dan investasi baru, diversifikasi pasar, serta memperkuat penggunaan bahan baku lokal dan strategi hedging untuk mengelola akibat nilai tukar," kata Shinta, kata Shinta, melalui pesan singkat, Kamis (4/6/2026).

Dia menjelaskan bagi bumi saat ini tantangannya berada pada akibat nan ditimbulkan seperti biaya produksi, pembiayaan, dan kepastian berusaha. Melihat ketergantungan bahan baku impor tetap berada di kisaran 80%.

"Pelemahan Rupiah secara langsung meningkatkan cost of goods sold, mempersempit margin usaha, dan mengurangi ruang perusahaan untuk melakukan ekspansi," katanya.

Tekanan ini terjadi pada sektor industri tekstil, kimia, dan petrokimia, plastik, logam dasar, elektronik, otomotif, serta beragam sektor nan tetap mengandalkan komponen impor dalam rantai produksinya.

Selain itu, kondisi ini juga semakin berat lantaran bumi upaya tetap menghadapi biaya logistik, energi, serta biaya pembiayaan nan relatif tinggi. Hal itu membikin pengusaha menghadapi tekanan berlapis alias externally driven cost pressure nan cukup signifikan.

Di sisi lain, menurut Shinta, aktivitas bumi upaya juga sudah terlihat mengalami penurunan optimisme. Data PMI Manufaktur kembali masuk ke area kontraksi sejak Juli 2025 dan tren penurunan indeks kepercayaan industri menunjukkan bahwa sektor riil sedang menghadapi fase nan menantang.

"Apalagi pelemahan Rupiah saat ini jauh lebih dalam dibandingkan posisi pada kuartal pertama tahun ini, ketika sebagian (10 subsektor) manufaktur tumbuh di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional, dan 4 subsektor manufaktur diantaranya alami kontraksi," tuturnya.

Melansir info Refinitiv, rupiah di pasar spot per pukul 09.11 WIB tercatat menembus level psikologis Rp18.000/US$ untuk pertama kalinya. Mata duit Garuda berada di posisi Rp18.015/US$ alias melemah 0,42%.

Pelemahan ini terjadi cukup cepat. Rupiah pertama kali menutup perdagangan di atas level psikologis Rp17.000/US$ pada 6 April 2026. Artinya, hanya dalam 59 hari kalender, rupiah kembali terdepresiasi sekitar Rp1.000/US$ hingga menembus Rp18.000/US$.

(hoi/hoi)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News