Jakarta -
Siska adalah penduduk bimbingan alias narapidana (napi) nan menjadi jagoan pos kerja membatik Lapas Perempuan Bandung, Jawa Barat (Jabar). Perempuan 41 tahun ini tak mempunyai latar belakang seniman, dan talenta membatiknya muncul tak terduga.
"Kalau ditanya batik, sama sekali dulu nggak minat. Di luar saja nggak minat, apalagi di dalam (lapas), (ikut) training pun nggak minat. Gue akhirnya nyemplung di batik lantaran Kalapas bikin perlombaan menggambar kreasi batik, ikutlah gue mewakili bilik doang. Jadi gue iseng-iseng saja," cerita Siska kepada detikcom di Lapas Perempuan Bandung pada Jumat (21/8/2026).
Dia lampau keluar sebagai Juara I Lomba Membatik Lapas Perempuan Bandung, nan diadakan pada 2025. "Nggak tahunya dapat Juara I. Diatensilah sama Kalapas, 'Yang menang kemarin tolong masukkan ke pos kerja batik', bingung gue kan," sambung dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Siska menyampaikan jangankan membatik, terlibat dalam aktivitas pos kerja saja dia tak menyangka. nan dia ketahui, pos kerja diperuntukkan napi nan telah menjalani sepertiga masa pidana, sementara dia baru menjalani kurang dari waktu tersebut kala itu.
"Gue (menjadi napi) di Warung Kiara 1,5 tahun. Kalau di sini sudah dua tahun. Berarti pas gue masuk pos kerja batik, itu gue belum (menjalani) sampai sepertiga masa hukuman," terang Siska.
"Sebelumnya gue ya main-main saja sehari-hari. Main, gereja, main, gereja. Nggak ikut pos kerja lantaran kan tetap jauh, balasan gue 10 tahun. 'Buat apa ikut-ikut pos kerja?', pikir gue," imbuh dia.
Siska mengaku kebingungan saat ketika pertama kali masuk pos kerja membatik lantaran merasa nol pengetahuan. Namun dia memilih tak putus asa, dan belajar dari napi nan lebih dulu membikin batik tulis di pos kerja tersebut.
"Lalu masuklah gua ke pos batik, bingung awalnya suruh ngapain. Kalau gambar di kertas mini mungkin bisa, tapi jika gambar di kain besar mana bisa. Tapi gua di situ nggak putus asa, meskipun nggak pernah ikut pelatihan, gue mau belajar dan mau tahu kayak gimana sih batik itu," cerita napi asal Jakarta Timur (Jaktim) ini.
Selama dua minggu itu, Siska mempelajari dasar pembuatan motif hingga penempatan gambar pada kain. Lalu akhirnya dia berinisiatif mengeksplorasi motif batik.
"Di situlah gue baru mengenal batik, bagian bawah itu namanya apa. Oh, baju itu kudu nyambung gambarnya, nggak bisa asal. Oh, maunya customer seperti ini," tutur napi kasus sabu ini.
Siska sekarang bekerja membikin motif batik tulis pada lembaran kain. Dia tidak mengerjakan proses pembuatan tas alias produk turunannya, lantaran pekerjaan tersebut ditangani napi lain.
"Batik kan punya karakter unik dari tiap daerah, nah kita pengennya punya karakter unik batik sendiri. Ada beberapa motif batik nan kita ciptain dan sudah kita kewenangan ciptain. Motif-motifnya nan gambar saya," kata Siska.
Beberapa motif nan dibuat Siska antara lain Manuk Dadali, Ciung Wanara, Sisingaan, Macan Godong Wening, dan Hagia Sofia. Pembuatan desain, terang Siska, juga menyesuaikan permintaan konsumen.
"Misalnya mau motif Manuk Dadali. Gue buat sketsanya, di-acc, ya udah kita proses," terang Siska.
Temukan Kedamaian di Batik
Siska mengatakan membatik mengubah kesehariannya sebagai napi. Dengan melukis batik, Siska merasa waktu berlalu cepat.
"Meski tambah stres lantaran jadi ada kerjaan," ungkap dia berseloroh.
Siska mengaku aktivitas produktif itu membikin pikirannya lebih terarah. Salah satu bujukan terberat bagi dia adalah ponsel.
"Tapi di sini gambar-gambar itu nan menyelamatkan gue, gue bisa memperkuat di sini lantaran batik. Kalau nggak di batik mungkin gue bakal bermasalah dengan orang, mungkin gue bakal kepikiran HP," ujar Siska.
Berkat menekuni batik tulis, Siska mengaku justru mendapat kesempatan mengakses ponsel dan laptop. Meski sekadar untuk mencari referensi mengenai batik tulis.
"Di batik gue aman, nggak usah ngumpet-ngumpet untuk bisa pegang handphone. Karena gue dikasih akomodasi HP dan laptop untuk belajar, mengembangkan skill batik gue Banyak pengetahuan lagi lantaran batik. Jadi semisal kita dikasih kesempatan belajar teknik-teknik alias motif-motif di internet jadinya mikir, 'Masa dia bisa, gua nggak bisa.' Jadi merasa tertantang," sebut Siska.
"Nggak semua nan pegang batik boleh pegang HP. Itu privilege dan gue bersyukur," tambah dia.
Siska menyampaikan dirinya nyaman di pos kerja membatik bukan lantaran mengejar premi. Namun lantaran mendapatkan validasi.
"Bagiku premi nggak ada apa-apanya, nggak terlalu musingin premi, tapi nan terpenting saya dapat kepercayaan dari lapas," ucap Siska.
Siska merasa senang ketika hasil pekerjaannya mulai dipesan dan digunakan orang di luar lapas. Bahkan, lanjut dia, batik tulis buatannya dipakai kalangan pejabat.
"Kalau ada pesanan juga gua makin termotivasi. Jadi misalnya ada pesanan dari luar negeri, tervalidasi lah gue dengan karya nan dihargai. Nggak usah gue nan terbang ke luar negeri, tapi batik buatan gue udah terbang duluan ke sana, nggak apa-apa. Gue tetap bangga," kata Siska.
"Pas lihat batik dipakai pejabat, pas kemarin itu Pak Dirjen pakai couple-an sama istrinya. Terus beberapa pejabat lain juga, Kalapas-Kalapas, wah seneng gue," ungkap dia.
Sedih Barang Hilang di Pameran
Produk hasil kerja napi Lapas Perempuan Bandung sudah beberapa kali mengikuti pameran, termasuk kain dan produk turunan kain batik. Salah satunya di tiap gelaran IPPA Fest.
Namun, kata Siska, ada peralatan nan dibawa ke pameran tetapi tidak kembali dan tidak diketahui hasil penjualannya. "Kendalanya hanya satu, barang-barang lenyap dipamerin kok nggak balik, lenyap gitu aja, nggak dibayar. Itu nan buat kita sedih," ujar Siska.
Siska berambisi penyelenggara pameran lebih memperhatikan pencatatan produk penduduk binaan. Menurutnya, info penjualan diperlukan agar mereka mengetahui motif nan diminati konsumen dan dapat menentukan nilai secara tepat.
"Harapannya ke depan perihal seperti itu panitianya concern, jangan tahu-tahu barangnya hilang. Kita kan mau tahu batik nan laku buatan kita nan mana nih, kalangan mana nan beli. Sebagus apa pun peralatan nan kita buat, jika kita nggak tahu berapa nilainya, laku berapa, kita nggak bisa bikin standar harganya dong," sambung Siska.
Dia juga berambisi akses pemasaran produk penduduk bimbingan diperluas. Penjualan berpengaruh langsung terhadap premi lantaran penduduk bimbingan hanya mendapatkan premi andaikan produk mereka terjual.
"Kita juga berambisi cariin pasaran dong agar dapat premi. Kita tetap bingung untuk pemasaran lantaran nggak semua orang suka, lantaran hanya nan tahu-tahu aja nan suka," katanya.
(aud/zap)
7 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·