Dikritik DPR Soal Kecelakaan Kereta di Bekasi, Menhub: Pelajaran Buat Kita

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Jakarta -

Komisi V DPR memberikan atensi kepada pemangku kebijakan atas kejadian kecelakaan kereta api jarak jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Bekasi Timur nan menewaskan belasan penumpang. Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengatakan peristiwa itu menjadi pelajaran bagi pihaknya.

"Oh ya setiap kecelakaan itu kan buat membikin pelajaran nan krusial buat kita tentunya dan itu kudu harus diikuti dengan perbaikan," kata Dudy usai rapat kerja di DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Dudy mengatakan pihaknya terbuka dengan semua masukan dan kritik. Ia menyebut kritikan dari publik semata untuk perbaikan moda transportasi di Indonesia ke depannya.

"Pasti dan kami selalu dengan tangan terbuka bakal apa menerima setiap masukan, saran, dan kritik. Ini untuk perbaikan dan kudu kita perbaiki ya," ujarnya.

Diketahui, Komisi V DPR menggelar rapat kerja dengan Dudy Purwagandhi, KNKT, hingga KAI mengenai kejadian kecelakaan kereta api di Bekasi Timur. Ketua Komisi V DPR Lasarus mempertanyakan kenapa kondisi tersebut bisa terjadi.

"Sebagaimana kita tahu terjadi perdebatan di publik apakah tidak ada ruang bagi sistem nan dimiliki oleh kereta api alias sistem nan dikendalikan oleh operator PT KAI dari kereta api ini untuk bisa kendalikan situasi? Hal ini pak bakalan terjadi lagi alias tidak? Itu jadi pertanyaan masyarakat," kata Lasarus saat mengawali rapat.

Kemudian, dia mempertanyakan langkah memitigasi kejadian serupa. Ia menyebutkan, dari banyaknya lintasan sebidang saat ini, ada potensi kejadian serupa bakal terulang.

"Tentu kesempatan untuk terjadi perihal serupa sangat mungkin, sangat mungkin dengan banyaknya perlintasan sebidang. Apa lagi perlintasan sebidang nan tidak ada penjaganya. Mana kala itu terjadi, gimana sistem kendalikan situasi? Itu nan mau kita pertimbangan hari ini," ucap dia.

Kemudian, dia menyoroti argumen KA Agro Bromo Anggrek bisa tak terkendali lampau menabrak KRL nan berhenti. Ia bertanya apakah sistem nan dimiliki saat ini tak bisa mengendalikan situasi tersebut.

"Kita, saya, tidak mengerti perincian soal operasional kereta api, tapi logika sehat kita bisa berpikir, Pak, jika sistemnya mengalami masalah, pasti kan agenda keberangkatan masing-masing kereta ketahuan, itu apa namanya Pak Menteri schedule kereta? Gapeka, itu Grafik Perjalanan Kereta, di diagram itu kan pasti ketahuan kereta ini berada di mana, kemudian kira-kira posisinya di mana ketika ini terjadi," jelas dia.

"Kemudian, tenggat waktu antarkereta jika tenggat waktu kita buat 5 menit, 7 menit, 10 menit, 8 menit, berapa pun lah nan diatur, kan pasti ada hitungan teknisnya, nah apakah hitungan itu sudah mencatat mana kala terjadi kecelakaan di depan bisa nggak dengan jarak menit nan ada bisa kendalikan situasi alias tidak?" lanjutnya.

Lasarus menekankan nan sudah terjadi tak bisa dikembalikan. Namun dia menilai tidak pandai jika kejadian tersebut terjadi lagi ke depannya.

"Yang sudah berlalu tak bisa kita tarik kembali, Pak, namun jika mengulangi kejadian nan sama, kurang bijak bilang pak, minta maaf ya, tidak cukup pandai kita, mungkin bahasa itu nan paling sopan pak jika sampai jatuh di lobang nan sama 2 kali," tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya pemerintah jujur dengan situasi nan ada. Menurut dia, jika ada kebohongan, semuanya mendusta kepada korban.

"Karena ini menyangkut nyawa, saya waktu telepon dengan Pak Menhub, 'Pak Menteri ini kita ungkap apa adanya, lantaran ini tanggung jawab kita kepada korban', gitu ya Pak Menteri ya, kepada nyawa nan hilang, jika kita mendusta saat ini kita mendusta juga kepada mereka nan sudah pergi nan alami kecelakaan ini," tutur dia.

(dwr/isa)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News