Ilustrasi(Dok Istimewa)
INDONESIA merupakan negara nan mempunyai ekosistem mangrove dengan luas 3,45 juta hektare sebagaimana tercantum dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Nomor 3438 Tahun 2025 tentang Peta Mangrove Nasional (PMN). Untuk menjaga ekosistem mangrove tersebut, pemerintah mengesahkan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2025 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove (PPEM).
Mangrove merupakan ekosistem strategis nan mempunyai kegunaan ekologis, sosial, dan ekonomi. Keberadaan mangrove berkedudukan dalam menjaga stabilitas wilayah pesisir, melindungi dari pengikisan dan intrusi air laut, menyediakan kediaman bagi keanekaragaman hayati, serta mendukung kesejahteraan masyarakat. Mangrove juga berkontribusi signifikan dalam upaya mitigasi perubahan suasana melalui kapasitasnya sebagai penyerap dan penyimpan karbon.
Menurut Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Perairan Darat Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Puji Iswari, S.Hut, M.Si., perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove perlu dilaksanakan secara terpadu, berbasis data. Strategi keberlanjutan nan dikembangkan pemerintah sekarang berfokus pada penguatan kapabilitas kelembagaan secara berjenjang, mulai dari level nasional hingga ke pedoman organisasi desa, dengan menempatkan pelibatan dan pengembangan masyarakat (community engagement and development) sebagai komponen fundamental. Melalui integrasi nan solid antara lembaga masyarakat dan pemerintah daerah, diharapkan tercipta kerjasama lintas sektor nan tidak hanya menyentuh aspek biofisik, namun juga menghormati nilai-nilai sosial budaya setempat demi mewujudkan pengelolaan mangrove nan mandiri.
Untuk itu, KLH/BPLH menginisiasi program berbasis partisipasi publik nan dirancang untuk memberdayakan masyarakat desa di pesisir agar bisa berkedudukan aktif dan berdikari dalam menjaga kelestarian ekosistem mangrove sebagai sumber daya terbarukan nan vital bagi kehidupan mereka. Salah satu kegiatannya dengan pemberdayaan masyarakat melalui Program Desa Mandiri Peduli Mangrove (DMPM).
“Melalui program DMPM bakal terbentuk desa-desa nan mempunyai kemandirian, ketangguhan, serta komitmen dalam menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove dan lingkungan sekitarnya,” kata Puji.
DMPM bermaksud untuk memperkuat peran masyarakat sebagai subjek utama pengelolaan sumber daya alam di tingkat tapak. Program ini mendorong peningkatan kapasitas, penguatan kelembagaan dan tata kelola, serta pengembangan praktik pemanfaatan nan bertanggung jawab dan sesuai dengan prinsip kelestarian lingkungan. Pemerintah memberikan support nan dilaksanakan melalui skema swakelola, di mana golongan masyarakat diberikan ruang mobilitas nan luas mencakup tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan.
Puji mengatakan sejumlah pihak turut berkontribusi dalam penyelenggaraan aktivitas DMPM ini baik pemerintah pusat dan daerah, pemerintah desa, perguruan tinggi, maupun kelompok-kelompok masyarakat. Sinergi dan kerjasama multipihak merupakan prasyarat utama untuk memastikan keberlanjutan program serta meningkatnya akibat positif bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
“Kami kembalikan ke masyarakat, kira-kira corak nan mau dikembangkan apa saja silakan. Tugas kami untuk penguatan masyarakat,” ujarnya.
Pada program DMPM tahun 2025, terpilih lima belas golongan masyarakat nan tersebar di Indonesia. Programnya beragam, di antaranya budidaya ikan, pembibitan dan rehabilitasi mangrove, produk turunan mangrove, wanamina (silvofishery), dan revitalisasi prasarana wisata berbasis konservasi.
Salah satu wilayah nan terpilih sebagai pelaksana DMPM adalah Desa Wisata “Pandang Tak Jemu” nan berada di Kampung Tua Bakau Serip, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Ekowisata Mangrove Pandang Tak Jemu nan sekarang menjadi salah satu tujuan wisata di Kota Batam itu, menyajikan hamparan hijau rimba bakau nan membikin visitor nyaman lantaran suasana nan teduh dan udara segar dari pepohonan mangrove.
Perwakilan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pandang Tak Jemu, Gary David Semet mengatakan jika desa wisata mangrove nan saat ini terlihat bagus menghijau dan sudah bisa dinikmati banyak visitor itu, terwujud melalui proses dan perjuangan panjang hasil kerja berbareng masyarakat pegiat mangrove.
“Ekowisata Pandang Tak Jemu asal mulanya adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah masyarakat nan disulap sebagai lokasi wisata nan kami rintis sejak 2018 lalu. Dulu, banyak penduduk nan mencibir kami, tapi sekarang sudah banyak visitor nan datang baik dari dalam negeri maupun luar negeri,” ujarnya.
Menurut Gary, ekowisata nan sekarang dikelolanya berbareng puluhan masyarakat setempat itu, di samping menjaga mangrove juga melakukan aktivitas edukasi dan sekolah alam. Selain itu, banyak visitor nan datang untuk belajar langkah pelestarian ekosistem mangrove di tempat mereka, lantaran di desa wisata “Pandang Tak Jemu” mengembangkan konsep regenerative tourism. Artinya, visitor tidak hanya menikmati wisata alam mangrove, tapi juga berperan-serta aktif melakukan untuk turut menjaga lingkungan sekitar, misalnya dengan ikut memungut sampah saat menikmati suasana alam dan juga menanam mangrove di sana.
“Banyak nan berjamu untuk belajar gimana membikin ekowisata seperti di sini. Wisatawan dari dalam negeri, pelajar dan mahasiswa, banyak juga visitor dari luar seperti dari Malaysia, Singapore, Korea, Hongkong, China dan lain-lain. Mereka senang ,” kata dia.
Gary berterima kasih tempatnya menjadi salah satu pelaksana terpilih dalam program DMPM oleh KLH/BPLH. Dengan support nan diterima dari pemerintah pusat, mereka bisa membikin banyak perubahan di tempat ekowisata itu. DMPM difokuskan pada revitalisasi bentuk secara menyeluruh, meliputi pembaharuan jembatan trekking sepanjang 50 meter dan perbaikan gazebo untuk menjamin keamanan wisata. Selain itu, aktivitas juga mencakup pembangunan akomodasi pembibitan permanen nan dilengkapi instalasi air, dengan sasaran meningkatkan kapabilitas produksi bibit hingga tiga kali lipat demi mendukung keberlanjutan konservasi jangka panjang.
“DMPM ini anugerah, kami sangat berterima kasih mendapat support pemerintah pusat. Karena kami merintisnya dengan perjuangan nan luar biasa dan memang perlu pengembangan dan support semua pihak,” ujar Gary berambisi program DMPM ini terus bersambung dan Ekowisata “Pandang Tak Jemu” menjadi rujukan pemerintah pusat sebagai percontohan bagi wilayah lain nan juga mempunyai ekosistem mangrove. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·