DEN Soroti Menu dan Sasaran MBG

Sedang Trending 1 hari yang lalu
DEN Soroti Menu dan Sasaran MBG MBG.(MI/Usman Iskandar)

ANGGOTA Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Firman Hidayat merekomendasikan perbaikan kualitas menu dan pemerataan penerima Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada Presiden Prabowo Subianto. 

Rekomendasi itu didasarkan pada kajian nan menunjukkan kualitas makanan berangkaian dengan semangat belajar siswa, sementara pengedaran program tetap lebih banyak menjangkau siswa di perkotaan dan golongan ekonomi mampu.

"Artinya memang salah satu rekomendasi kami ke Bapak Presiden nan tadi kami sampaikan, perlu diperhatikan kualitas menu MBG gitu kan, lantaran ini berkorelasi dengan rasa lapar dan semangat belajar anak di sekolah," kata Firman usai rapat terbatas dengan Presiden Prabowo di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (20/10).

Firman menjelaskan, DEN bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) dan sejumlah lembaga lain menyusun modul unik dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) untuk mengukur akibat program MBG. Pengumpulan info tersebut mulai dilakukan pada September tahun lampau dengan cakupan seluruh Indonesia.

Kajian itu menelaah sejumlah indikator, ialah kehadiran siswa di sekolah, semangat belajar, dan rasa lapar. Hasilnya menunjukkan penerima MBG condong lebih jarang tidakhadir dibandingkan siswa nan belum menerima program tersebut.

Perbedaan kehadiran itu terlihat cukup besar pada golongan ekonomi terbawah alias desil 1. Siswa dari golongan paling miskin nan tidak menerima MBG lebih sering tidakhadir dibandingkan mereka nan memperoleh makanan dari program tersebut.

Firman juga menyebut penurunan ketidakhadiran siswa terlihat semakin besar seiring dengan meningkatnya intensitas penerimaan MBG di sekolah. Temuan tersebut menjadi salah satu indikasi faedah program terhadap partisipasi siswa dalam aktivitas belajar.

Selain kehadiran, kualitas menu menjadi aspek nan berangkaian dengan semangat belajar siswa. Berdasarkan hasil kajian DEN, siswa penerima MBG condong melaporkan peningkatan semangat belajar ketika makanan nan diberikan mempunyai kualitas baik.

"Ketika kualitas menunya sangat baik, 95% siswa penerima MBG mengatakan mereka semangat belajarnya lebih lebih tinggi," ujar Firman.

Sebaliknya, nomor tersebut turun tajam ketika kualitas menu dinilai buruk. Temuan ini menunjukkan bahwa keberadaan program saja belum cukup untuk menjamin faedah nan optimal, lantaran mutu makanan nan diterima siswa turut menentukan hasil nan dirasakan.

Karena itu, DEN menilai pertimbangan MBG perlu memperhatikan kualitas makanan nan disajikan, bukan hanya jumlah penerima alias luasnya jangkauan program. Pemenuhan kebutuhan gizi dan kepantasan menu menjadi bagian krusial agar program dapat mendukung kondisi bentuk serta aktivitas belajar siswa.

Di sisi lain, info pengedaran penerima per September menunjukkan penyaluran MBG tetap lebih terkonsentrasi di wilayah perkotaan dibandingkan perdesaan. Penerima dari golongan ekonomi bisa juga tetap lebih banyak dibandingkan siswa dari golongan miskin.

Firman menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian dalam menentukan prioritas ekspansi program. Pemerintah perlu memberikan perhatian lebih besar kepada masyarakat miskin, wilayah perdesaan, serta wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

"Karena sekali lagi tadi studi kita menunjukkan gimana program ini sebenarnya bisa menurunkan ketidakhadiran siswa ke sekolah dan meningkatkan semangat belajar dan mengurangi rasa lapar mereka di sekolah," kata Firman. (Mir/P-3)
 

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑