Jakarta, CNN Indonesia --
Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Marwan Cik Asan, merespons pidato Presiden Prabowo Subianto terkait kondisi ekonomi nasional nan menyebut memuji pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Marwan, selama tujuh tahun terakhir, ekonomi Indonesia memang tumbuh rata-rata sekitar 5 persen per tahun. Secara kumulatif, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia meningkat sekitar 35 persen. Bahkan pada 2025, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,11 persen, salah satu capaian terbaik dalam tiga tahun terakhir.
Meski begitu, Marwan mengaku prihatin apakah pertumbuhan itu ikut dirasakan masyarakat kecil. Sebab, kata dia, faktanya banyak nelayan, petani, dan pekerja informal lain nan hidupnya tak berubah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Angka pertumbuhan ekonomi kita memang baik dan layak diapresiasi. Tetapi pertanyaan pentingnya adalah, apakah pertumbuhan itu sudah betul-betul dirasakan rakyat kecil? Faktanya, tetap banyak petani, nelayan, pekerja informal, dan masyarakat bawah nan hidupnya belum mengalami perubahan signifikan," ujar Marwan.
Marwan menjelaskan, meski nomor kemiskinan turun menjadi 8,47 persen alias sekitar 23,85 juta orang per Maret 2025, dan terendah dalam sejarah, laju penurunannya tetap sangat lambat.
Sementara itu, tingkat ketimpangan nan tercermin dari Rasio Gini tetap di nomor 0,375, menunjukkan pengedaran kesejahteraan nan belum merata namalain tetap lebar.
Menurut Marwan, pertumbuhan ekonomi selama ini lebih banyak terkonsentrasi di kota besar dan investasi skala besar. Sementara, masyarakat mini tetap berhadapan dengan masalah mereka sehari-hari.
"Rakyat mini tetap menghadapi persoalan mendasar seperti nilai pangan, akses rumah layak, kesehatan, dan pekerjaan nan layak ," katanya.
Marwan menilai Indonesia sekarang memerlukan model pertumbuhan baru nan lebih inklusif dan berbasis transformasi struktural. Menurut dia, model pertumbuhan tersebut tidak hanya mengejar nomor statistik, tapi menciptakan pekerjaan produktif, memperkuat ekonomi rakyat, dan meningkatkan kualitas manusia secara berkelanjutan.
Menurutnya, transformasi pertama nan kudu dilakukan adalah mendorong pertumbuhan nan lebih berorientasi pada pembuatan lapangan kerja umum alias job-intensive growth.
"Keberhasilan investasi jangan hanya diukur dari nilai investasinya, tetapi juga dari seberapa besar dampaknya terhadap lapangan pekerjaan dan pendapatan masyarakat," jelasnya.
Model pertumbuhan lain, kata Marwan adalah dengan memperluas hilirisasi ekonomi hingga menyentuh sektor rakyat. Selain itu, dia juga mendorong percepatan pembangunan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, training keterampilan, penguasaan teknologi, dan literasi digital.
"Negara-negara nan sukses keluar dari jebakan pendapatan menengah selalu mempunyai satu kesamaan, mereka tidak hanya membangun prasarana fisik, tetapi juga membangun kualitas manusianya," kata Marwan.
Sebelumnya, Prabowo dalam pidatonya di Paripurna DPR, tak membantah nomor kemiskinan tidak kunjung turun meski ekonomi tumbuh dalam tujuh tahun terakhir.
"Pertumbuhan kita dalam 7 tahun terakhir memang baik, 5 persen tiap tahun, selama 7 tahun kali 5 persen, 35 persen pertumbuhan kita. Harusnya kita tambah kaya 35 persen, tapi apa nan terjadi?" ujarnya.
"7 tahun kali 5 persen 35 persen ekonomi kita tumbuh, tapi rakyat kita nan miskin tambah dari 46,1 persen ke 49 persen. 3 persen naiknya," sambung Prabowo.
Dia mengaku bingung dan menanyakan itu kepada para peserta rapat.
"Bagaimana bisa pertumbuhan 35 persen tapi kelas menengah menurun, kemiskinan meningkat?" tanyanya.
(thr/dal)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·