Atta Halilintar menjadi produser pelaksana dalam movie animasi berjudul Garuda di Dadaku. Ia pun mengungkap argumen di kembali keterlibatannya dalam proyek tersebut.
Bagi Atta Halilintar, keterlibatannya dalam movie ini bukan sekadar proyek, melainkan berangkat dari perihal nan cukup personal, ialah pengalamannya sebagai seorang ayah.
Atta mengaku sering menghabiskan waktu akhir pekan di bioskop berbareng kedua anak perempuannya. Dari situ, dia mulai menyadari bahwa tontonan anak tetap didominasi animasi luar negeri.
“Waktu saya setiap minggu pasti ke bioskop lantaran anak-anakku suka nonton. Nah ketika anak-anakku nonton, kita selalunya lihatnya Baby Shark, ini luar negeri. Terus ketika kita ke sini, animasinya banyaknya luar negeri,” ujar Atta dalam konvensi pers perilisan poster, trailer, dan original soundtrack Garuda di Dadaku di area Jakarta Selatan.
Menurut Atta, kondisi tersebut membuatnya merasa perlu adanya lebih banyak pilihan movie animasi lokal nan bisa dinikmati anak-anak Indonesia. Ia juga menilai momen menonton berbareng family bisa menjadi ruang untuk membangun kedekatan sekaligus menanamkan nilai positif.
“Saya sangat senang jika ada animasi Indonesia. Ketika saya Sabtu Minggu itu bakal ada movie anak-anak alias movie animasi, itu hari Sabtu Mingguku nan paling berbobot lantaran saya bisa nonton sama anak-anakku, bisa cerita, bisa menimbulkan semangat buat mereka,” lanjutnya.
Ia pun memandang keterlibatannya di movie ini sebagai corak investasi untuk anak-anaknya, bukan hanya dari sisi bisnis, tetapi juga nilai nan bisa mereka dapatkan.
“Dan inilah GDD saya bilang (ke istri), ‘Sayang, kayaknya invest di sini ini barulah investasi buat anak juga sayang,’” katanya sembari tertawa.
Di sisi lain, proyek ini juga jadi langkah Atta mewujudkan mimpi masa kecilnya di bumi sepak bola.
“Dari mini saya mau jadi pemain bola, mau bela timnas Indonesia,” ungkapnya.
Ia pun mengenang gimana dulu tetap bermain bola meski sering dimarahi orang tua dan kudu berupaya sendiri untuk membeli perlengkapan.
“Dari mini saya tuh jika main bola selalu dimarahin orang tua saya. Tiap pulang jika nggak cedera, baret-baret berdarah, engkel, tapi lantaran mimpi saya pengin jadi pemain, saya terusin,” tuturnya.
“Enggak dibeliin sepatu, saya nabung, pinjam sepatu nan robek di tempat bekas, beli, lantaran mau banget jadi pemain bola,” tambahnya.
Kini, lewat Garuda di Dadaku, Atta berambisi semangat itu bisa sampai ke generasi muda. Ia juga menyebut movie ini sebagai bagian dari “legacy” nan mau dia tinggalkan.
“Semoga movie ini bisa melahirkan mimpi-mimpi baru untuk anak-anak Indonesia,” tutup Atta.
Film animasi family Garuda di Dadaku mengisahkan Putra (13), anak laki-laki dengan mimpi besar menjadi pemain tim nasional Indonesia. Saat kegagalan membuatnya kehilangan keyakinan, kehadiran Gaga mengubah hidupnya dan membawanya pada perjalanan untuk menemukan kembali keberanian. Dalam proses itu, Putra belajar bahwa mimpi besar tidak pernah dicapai sendirian.
Diproduseri oleh Shanty Harmayn, Aoura Lovenson Chandra, dan Tanya Yuson, dengan naskah nan ditulis oleh Sofia Lo berbareng Makbul Mubarak, movie ini menjadi interpretasi animasi baru dari IP movie legendaris karya Salman Aristo dan Shanty Harmayn nan telah lama hidup di hati publik Indonesia.
Garuda di Dadaku merupakan produksi BASE Entertainment dan KAWI Animation, dengan ko-produksi berbareng Robot Playground Media, serta kerjasama dengan beberapa pihak, salah satunya BolaLob. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 11 Juni 2026.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·