Defisit Anggaran AS Naik ke USD 164 Miliar Imbas Lonjakan Refund Pajak

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Ilustrasi kota Tulsa Oklahoma, Amerika Serikat Foto: Wikimedia Commons

Defisit anggaran pemerintah federal Amerika Serikat pada Maret tercatat meningkat dibandingkan tahun lalu. Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan pengembalian pajak seiring kebijakan pemotongan pajak baru bagi perseorangan dan korporasi.

Mengutip Reuters, Departemen Keuangan AS melaporkan defisit Maret naik USD 4 miliar alias 2 persen menjadi USD 164 miliar dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya. Selain itu, support kepada petani juga tercatat meningkat.

Meski demikian, info anggaran bulanan belum menunjukkan lonjakan signifikan pada shopping perang Iran. Pengeluaran militer dan program pertahanan hanya naik USD 2 miliar alias 3 persen menjadi USD 65 miliar pada bulan pertama bentrok dibandingkan Maret 2025.

Namun, pejabat pemerintahan Donald Trump memperkirakan biaya perang cukup besar. Dalam enam hari pertama saja, bentrok disebut telah menghabiskan USD 11,3 miliar. Sementara itu, pemimpin Demokrat di Senat, Chuck Schumer, menyebut “biaya” perang mencapai USD 44 miliar, tanpa merinci sumber perhitungannya.

Pejabat Departemen Keuangan mengatakan, sebagian besar pengeluaran mengenai perang seperti penggantian senjata bakal tercermin dalam laporan bulan-bulan berikutnya.

Militer Israel melancarkan serangan besar ke Lebanon pada Rabu (8/4/2026), sehari setelah kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Foto: Ibrahim AMRO/AFP

Dari sisi perpajakan, pengembalian pajak perseorangan melonjak tajam. Nilainya naik USD 15 miliar alias 22 persen menjadi USD 85 miliar menjelang tenggat pelaporan 15 April. Sementara itu, pengembalian pajak korporasi meningkat USD 5 miliar alias 215 persen menjadi USD 8 miliar.

Lonjakan ini dipicu beragam insentif pajak baru, termasuk potongan untuk lembur, tip, kembang angsuran mobil domestik, serta kenaikan pemisah pajak negara bagian dan lokal. Selain itu, pemerintah juga memberikan akomodasi pembebanan langsung untuk shopping modal dan biaya riset perusahaan.

Meski refund meningkat, ahli ekonomi menilai faedah tersebut bisa tergerus kenaikan nilai bahan bakar akibat perang Iran.

Defisit Semester I Turun

Untuk paruh pertama tahun fiskal 2026 (mulai 1 Oktober), defisit justru mengalami penurunan. Departemen Keuangan mencatat defisit turun USD 139 miliar alias 11 persen menjadi USD 1,169 triliun dibandingkan periode nan sama tahun fiskal 2025.

Penurunan ini didorong peningkatan penerimaan negara, terutama dari tarif impor nan diberlakukan pemerintahan Trump. Penerimaan bea cukai sepanjang tahun melangkah mencapai USD 166,5 miliar, nyaris empat kali lipat dari USD 43,6 miliar pada periode nan sama tahun sebelumnya.

video story embed

Namun, penerimaan bea cukai mulai melemah pada Maret setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif dunia besar nan diberlakukan berasas undang-undang darurat.

Penerimaan bea cukai pada Maret tercatat USD 22,2 miliar, turun dari USD 26,6 miliar pada Februari. Meski begitu, nomor tersebut tetap lebih tinggi dibandingkan USD 8,2 miliar pada Maret 2025.

Ke depan, penerimaan bea cukai berpotensi kembali turun lantaran sistem pembayaran nan biasanya tertunda satu bulan. Artinya, sebagian besar penerimaan Maret tetap mencerminkan impor Februari sebelum penangguhan tarif 10 persen hingga 50 persen.

Secara keseluruhan, penerimaan pemerintah AS pada Maret mencapai USD 385 miliar, naik USD 17 miliar alias 5 persen. Sementara shopping negara naik USD 21 miliar alias 4 persen menjadi USD 549 miliar, keduanya menjadi rekor tertinggi untuk bulan Maret.

Jika disesuaikan dengan aspek kalender, defisit Maret diperkirakan mencapai USD 250 miliar, naik USD 9 miliar alias 4 persen dari tahun sebelumnya.

Sepanjang paruh pertama tahun fiskal, total penerimaan mencapai USD 2,483 triliun (naik 10 persen), sementara shopping meningkat menjadi USD 3,651 triliun (naik 2 persen).

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan