Deddy Sitorus Tuding PSI Benturkan PDIP-Jokowi untuk Dapat Simpati Publik

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Jakarta -

Ketua DPP PDIP Deddy Sitorus menanggapi pernyataan Ketua DPP PSI Bestari Barus nan menyebut partainya terus membicarakan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Deddy menyebut partainya tak bakal melupakan Jokowi dan menjadikannya sebagai bahan pembelajaran di internal partai.

"Sudah peralatan tentu PDIP tidak bakal pernah melupakan Jokowi sampai kapan pun. Bahkan dalam semua aktivitas pengkaderan, pelajaran berbobot dari kehadiran Jokowi menjadi studi kasus untuk dibahas," kata Deddy kepada wartawan, Selasa (16/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia kemudian menyebut sejumlah pelajaran nan bisa diambil dari perjalanan politik Jokowi. Termasuk soal kekuasaan, ambisi, hingga dinamika demokrasi.

"Bahwa manusia bisa berubah jika sudah pecandu terhadap kekuasaan, ketenaran dan kekayaan. Kedua, orang bisa mendusta dan menipu dengan sempurna dalam jangka waktu nan lama, cukup pura-pura lugu dan sederhana padahal menyimpan ambisi dinasti lintas generasi," ucap Deddy.

"Ketiga, bahwa kekuasaan dan syahwat kekuasaan itu sangat memabukkan dan bisa membikin orang membengkokkan semua fondasi kerakyatan dan norma negara. Dalam konteks itulah di internal PDIP seorang Jokowi tidak bakal pernah dilupakan tapi jadi pelajaran pahit di masa depan," sambungnya.

Deddy juga menegaskan secara ruang publik, PDIP tidak bakal secara aktif membicarakan Jokowi. Kecuali, kata dia, ada hal-hal nan perlu ditanggapi secara politik.

"Perdebatan soal PDIP dengan Jokowi itu secara sistematis dan konsisten dilakukan oleh petinggi-petinggi PSI selama berbulan-bulan ini untuk untung politik mereka sendiri," ujarnya.

Menurutnya, PSI terus mencoba mengaitkan kedua pihak untuk kepentingan politik. Dia menilai strategi tersebut sebagai upaya membangun simpati publik melalui bentrok politik.

"Mereka pikir hanya dengan membenturkan PDIP dengan Jokowi, maka PSI dan Jokowi bakal semakin mendapat simpati publik. Ini strategi murahan nan bisa dipikirkan oleh para petinggi PSI, karena mereka tidak tahu gimana membesarkan partainya melalui pengkaderan, penguatan organisasi dan kerja keras di lapangan," katanya.

"Mereka hanya tahu jalan pintas membajak kader partai lain alias membikin sensasi narasi di media dan media sosial. Jadi saya serukan, lebih baik para kutu loncat nan sekarang memimpin PSI agar mulai belajar membangun partainya dengan keringat dan darah," sambungnya.

Sementara itu, politikus PDIP Guntur Romli menegaskan Jokowi tak pernah dibahas dalam internal PDIP. Dia mengatakan Jokowi telah dipecat PDIP.

"Jokowi sudah tidak pernah diperbincangkan di PDI Perjuangan. Tapi jika ada nan tetap mau mengaitkan Jokowi dengan PDI Perjuangan seperti framing nan dilakukan Bestari Barus, kami kudu menjelaskan, bahwa Jokowi dipecat oleh PDI Perjuangan, bahwa Jokowi bukan mundur, bukan pergi, bukan meninggalkan PDI Perjuangan, tapi dipecat dan dikeluarkan oleh PDI Perjuangan," ucap Guntur.

Dia menegaskan hubungan antara PDIP dan Jokowi telah berhujung setelah partai menjatuhkan hukuman pemecatan. Menurutnya, Jokowi telah melanggar AD/ART partai.

"Jokowi bukan mundur, pergi alias meninggalkan PDI Perjuangan, tapi Jokowi dipecat dan diusir dari PDI Perjuangan. Jokowi adalah malin kundang," ujarnya.

Guntur juga menilai beragam persoalan mengenai Jokowi tak lagi berangkaian dengan PDIP. Dia menyebut Jokowi semestinya bertanggung jawab kepada rakyat atas kebijakan nan diambil selama menjabat Presiden RI.

"Kalau rakyat sekarang mengalami kesulitan, maka silakan tagih tanggung jawab Jokowi nan katanya mau keliling. Kalau PDI Perjuangan sudah tegas, lantaran Jokowi melanggar, kami pecat. Nah silakan rakyat, apa mau menyambut Jokowi alias malah mau menagih janji," imbuhnya.

Sebelumnya, Ketua DPP PSI Bestari Barus menyikapi pernyataan Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira nan menyebut partainya sudah melupakan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi). PSI menyinggung nama Jokowi nan terus diperbincangkan.

"Ya alhamdulillah, jika orang sudah lupa itu udah nggak inget gitu loh, tapi kan tetap terus ngomongin aja," kata Bestari kepada wartawan, Senin (15/6).

Bestari mengatakan PDIP belum melupakan sosok Jokowi. Ia mengungkit kemenangan Jokowi dalam pemilu bukan lantaran PDIP, melainkan lantaran rakyat.

"Belum melupakan gitu kan, belum move on-lah, belum move on, ya kan? Jadi ya kami cukup prihatin dengan rasa nan dialami oleh PDIP atas hengkangnya Pak Jokowi ke partai kami," kata Bestari.

(amw/fas)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News