Deal Kilat AS-Iran Bakal Jadi Bumerang? Bisa-Bisa Semua Berantakan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Sekutu Eropa memperingatkan rencana kesepakatan kerangka kerja sigap antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berisiko menimbulkan masalah baru. Kesepakatan tersebut dikhawatirkan tidak bisa menyelesaikan sengketa nuklir nan telah berjalan lama.

Sejumlah diplomat nan pernah terlibat dalam negosiasi dengan Teheran menilai, dorongan Washington untuk meraih kemenangan diplomatik sigap bagi Presiden Donald Trump justru bisa berujung pada kesepakatan dangkal nan susah diimplementasikan.

"Kekhawatirannya bukan tidak bakal ada kesepakatan," ujar seorang diplomat senior Eropa kepada Reuters, dikutip Senin (20/4/2026). "Yang jadi masalah adalah kesepakatan awal nan jelek justru menciptakan persoalan lanjutan nan tak ada habisnya."

Pemerintah AS menepis kekhawatiran tersebut. Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menegaskan Trump hanya bakal menyetujui kesepakatan nan menguntungkan negaranya.

"Presiden Trump mempunyai rekam jejak dalam mencapai kesepakatan nan baik dan hanya bakal menerima deal nan mengutamakan Amerika," ujarnya.

Namun, negara-negara Eropa seperti Prancis, Inggris, dan Jerman merasa mulai tersisih dalam proses negosiasi terbaru ini. Padahal, mereka sebelumnya berkedudukan krusial dalam lahirnya Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), ialah perjanjian pembatasan program nuklir Iran sebagai hadiah pelonggaran sanksi.

Kesepakatan tersebut dicapai pada era Presiden Barack Obama, sebelum akhirnya ditarik sepihak oleh Trump pada 2018 lantaran dianggap tidak setara bagi AS.

Mantan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Federica Mogherini, nan turut mengoordinasikan negosiasi JCPOA, menekankan bahwa proses mencapai kesepakatan nuklir bukan perihal sederhana.

"Butuh waktu 12 tahun dan kerja teknis luar biasa. Apakah ada nan betul-betul berpikir ini bisa diselesaikan dalam 21 jam?" ujarnya.

Risiko Kesepakatan Minim Detail

Para diplomat menilai kesepakatan kerangka kerja memang mungkin dicapai dalam waktu singkat, terutama jika hanya mencakup garis besar soal pembatasan nuklir dan pelonggaran hukuman ekonomi.

Namun, persoalan teknis dinilai sangat kompleks, terutama mengenai stok uranium Iran nan telah diperkaya hingga 60% dan mencapai sekitar 440 kilogram, di mana jumlah ini mendekati bahan untuk senjata nuklir jika diproses lebih lanjut.

"Amerika mungkin berpikir cukup menyepakati beberapa poin dalam arsip singkat. Tapi dalam rumor nuklir, satu klausul bisa membuka belasan potensi sengketa baru," kata diplomat Eropa lainnya.

Sejumlah opsi tengah dibahas, termasuk pengenceran ulang uranium di dalam negeri Iran di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional, alias skema hibrida dengan sebagian material dikirim ke luar negeri.

Turki dan Prancis disebut sebagai kandidat letak penyimpanan, sementara opsi pengiriman ke AS dinilai susah secara politik bagi Iran. Di sisi lain, Rusia juga bukan pilihan ideal bagi Washington.

Meski demikian, para diplomat menegaskan setiap opsi tetap memerlukan negosiasi panjang, mulai dari verifikasi material, pengamanan, hingga proses transportasi. Semuanya berpotensi memicu kebuntuan baru jika tidak dirancang secara matang sejak awal.

(tfa/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News