Dari Ruang Kelas ke Panggung Teater, Ratusan Pelajar Suguhkan Drama Musikal Memukau

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Dari Ruang Kelas ke Panggung Teater, Ratusan Pelajar Suguhkan Drama Musikal Memukau Ilustrasi(Dok Istimewa)

PANGGUNG seni kembali membuktikan produktivitas pelajar bisa melahirkan pagelaran berkelas. Dengan kerjasama seni peran, musik, tari, dan tata artistik nan digarap secara mandiri, ratusan siswa SMA Labschool Kebayoran sukses menyuguhkan drama musikal nan tak hanya menghibur, tetapi juga membujuk penonton merefleksikan beragam persoalan nan berkawan dengan kehidupan remaja.

Pementasan tersebut datang melalui Skylite Musicals 2026 nan sukses digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Sabtu (25/7/2026). Drama musikal tahunan nan diproduksi sepenuhnya oleh siswa-siswi SMA Labschool Kebayoran itu menghadirkan pengalaman panggung nan memadukan seni peran, musik, tari, dan tata artistik dalam sebuah pagelaran imersif.

Mengangkat kisah soal pencarian jati diri, persahabatan, dan beragam pilihan nan membentuk seseorang, pagelaran ini membujuk penonton mengikuti perjalanan Ardhito, remaja nan berupaya menemukan tempatnya di tengah tekanan lingkungan dan kemauan untuk diterima. Cerita ini jadi refleksi atas dinamika remaja masa kini, ketika kemauan untuk diterima sering berbenturan dengan nilai-nilai nan diyakini.

Keistimewaan pementasan tahun ini tidak hanya terletak pada cerita orisinal, tapi juga pada konsep musikal nan semakin matang. Sebanyak 16 lagu orisinal dipadukan dengan koreografi, akting, dan iringan live orchestra nan mengalun nyaris di setiap adegan, menjadikan musik sebagai bagian nan menyatu dengan perjalanan emosi setiap karakter.
Director Skylite Musicals 2026 Naomi Aisha Putri mengatakan tema nan dipilih sangat relevan dengan kehidupan remaja saat ini.

"Musikal ini mengangkat tema tentang pencarian jati diri, gimana seseorang berupaya menemukan tempatnya, tetapi dalam prosesnya justru dapat terjerumus ke dalam lingkungan alias pilihan nan membawa akibat negatif. Kami berambisi tema tersebut terasa dekat dengan penonton dan menghadirkan pengalaman nan tak hanya menghibur, tapi juga bermakna," ujar Naomi dalam keterangannya, Selasa (28/7).

Menurut Naomi, nyaris seluruh segmen dalam pagelaran diiringi lagu sehingga musik tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi menjadi bagian krusial dalam membangun cerita.

Ia mengungkapkan, keberhasilan pementasan merupakan hasil dari proses imajinatif sekitar tujuh bulan mulai dari pengembangan cerita, pembuatan musik, latihan intensif hingga rangkaian run-through dan live orchestra.
"Setelah tujuh bulan, kami lihat kerja keras, dedikasi, dan komitmen tim terwujud menjadi karya seni nan layak untuk dinikmati," ujarnya.

Pemeran utama karakter Ardhito, Khairu Abrar Perwiro, menilai bentrok nan dialami tokohnya merupakan gambaran situasi remaja saat ini.
"Ardhito adalah siswa SMA nan kudu memilih antara tetap berbareng teman-teman nan selalu mendukungnya alias mengikuti golongan baru nan lebih menarik dan populer," ungkap Khairu.

Di kembali pementasan ini, ratusan siswa terlibat dalam seluruh proses produksi nan berjalan nyaris setahun. Mereka berkontribusi mulai dari penulisan naskah, pembuatan lagu orisinal, workshop, latihan vokal, akting, koreografi, hingga penyempurnaan seluruh aspek artistik.

Producer Skylite Musicals 2026 Raiqa Adzra Santosa mengatakan setiap bagian bekerja secara paralel demi menghadirkan pengalaman terbaik bagi penonton. Tim marketing aktif memperkenalkan pagelaran melalui beragam konten digital dan kerjasama dengan media partner, sementara tim artistik menyiapkan konsep visual, properti, serta kostum. Di sisi lain, tim finance menjalankan beragam program pendanaan, mulai dari penjualan merchandise, funding, dan kerja sama dengan sponsor.

"Skylite Musicals 2026 bukan hanya pagelaran musikal, tapi pengalaman nan betul-betul dibangun siswa dengan penuh dedikasi. This is more than a show, it's an experience," kata Raiqa.

Kepala SMA Labschool Kebayoran Suparno menilai aktivitas ini jadi ruang pembelajaran untuk membentuk karakter siswa secara menyeluruh melalui proses berkarya dan berkolaborasi.

Dia menambahkan selama proses produksi siswa tidak hanya mengembangkan keahlian di bagian seni, tetapi juga belajar bekerja sama, menghadapi tantangan, serta membangun kepercayaan diri.

"Yang paling membahagiakan, arena ini memperkuat nilai-nilai Labsky yaitu, kolaborasi, disiplin, kreativitas, dan juga semangat pantang menyerah," tutup Suparno. (H-2)
 

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia