Dari Oxford hingga Masjid: Jejak Ilmu Islam dalam Peradaban Inggris

Sedang Trending 52 menit yang lalu
Penulis di depan Central Mosque, London, Inggris. (Foto: Dokumen pribadi).

Siang itu sayapun segera beranjak, azan Jumat bergema dari London Central Mosque, tak jauh dari Regent's Park. Arus manusia datang dari beragam penjuru. Wajah-wajah Asia, Afrika, Eropa, Timur Tengah, hingga Amerika berbaur dalam satu saf. Seorang guru besar membawa tas kerja, pengemudi bus tetap mengenakan seragam, mahasiswa melangkah berdampingan dengan diplomat, sementara visitor ikut menyaksikan suasana nan khusyuk. Masjid dipenuhi banyak jamaah lintas etnis dan bangsa.

Pemandangan tersebut menghadirkan satu kesan kuat: Islam bukan lagi sekadar bagian dari sejarah Inggris, melainkan telah menjadi salah satu unsur nan ikut membentuk wajah sosial, intelektual, dan kerakyatan modern negeri itu. Di kembali suasana ibadah tersebut, tersimpan kisah panjang tentang kontribusi pengetahuan pengetahuan Islam terhadap lahirnya tradisi akademik Barat nan hingga sekarang tetap terasa jejaknya.

Warisan Ilmu Islam dalam Fondasi Akademik Barat

Ketika Eropa mengalami masa nan sering disebut sebagai Dark Ages, bumi Islam justru memasuki masa keemasan pengetahuan pengetahuan antara abad ke-8 hingga ke-13. Baghdad, Damaskus, Kairo, Cordoba, dan Sevilla berkembang menjadi pusat riset dunia. Di Bayt al-Hikmah (House of Wisdom), ribuan manuskrip Yunani, Persia, dan India diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, lampau dikembangkan menjadi teori-teori baru dalam matematika, astronomi, kedokteran, filsafat, optika, hingga kimia.

Banyak istilah ilmiah nan tetap digunakan hingga sekarang berasal dari bahasa Arab, seperti algebra dari al-jabr, algorithm dari nama intelektual Al-Khawarizmi, zenith, nadir, hingga azimuth. Kontribusi tersebut menunjukkan bahwa bumi Islam bukan sekadar penjaga pengetahuan klasik, melainkan juga pembuat pengetahuan baru.

Sejarawan sains George Saliba melalui teorinya mengenai continuity of scientific development menjelaskan bahwa kebangkitan sains Eropa tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan merupakan kelanjutan dari penemuan ilmiah nan berkembang di bumi Islam. Menurutnya, banyak metode astronomi, matematika, dan observasi ilmiah Eropa dibangun di atas fondasi intelektual Muslim.

Pandangan serupa dikemukakan oleh Prof. Jonathan Lyons, penulis The House of Wisdom, nan menegaskan bahwa peradaban Barat modern tidak mungkin dipahami secara utuh tanpa mengakui besarnya kontribusi intelektual Islam terhadap lahirnya Renaissance.

Dari Andalusia Menuju Oxford dan Tradisi Keilmuan Inggris

Pengaruh tersebut kemudian menyebar ke Eropa melalui Andalusia, Sisilia, dan jaringan perdagangan Mediterania. Pada abad ke-12, aktivitas besar translator karya-karya intelektual Muslim ke dalam bahasa Latin berjalan di Toledo dan kota-kota lain di Spanyol. Manuskrip karya Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Farabi, Al-Battani, Al-Razi, hingga Al-Khawarizmi menjadi bahan pembelajaran di universitas-universitas Eropa.

Tradisi akademik nan kemudian berkembang di Inggris, termasuk di Universitas Oxford dan Cambridge, turut diperkaya oleh arus intelektual tersebut. Selama berabad-abad, karya Ibnu Sina (Avicenna) menjadi rujukan utama pendidikan kedokteran di beragam universitas Eropa. Sementara komentar makulat Ibnu Rusyd (Averroes) memberi pengaruh besar terhadap perkembangan makulat skolastik nan menjadi fondasi pemikiran akademik Barat.

Hubungan tersebut bukan berfaedah Oxford didirikan oleh intelektual Muslim, melainkan menunjukkan adanya kesinambungan transmisi pengetahuan pengetahuan lintas peradaban. Sejarah memperlihatkan bahwa kemajuan lahir melalui perbincangan intelektual, bukan melalui isolasi budaya.

Inggris Modern: Islam sebagai Bagian dari Kehidupan Publik

Jejak kontribusi Islam di Inggris sekarang tidak hanya terlihat dalam perpustakaan, tetapi juga dalam ruang publik. Berdasarkan sensus Inggris dan Wales tahun 2021, jumlah masyarakat Muslim telah mencapai sekitar 3,9 juta jiwa, alias sekitar 6,5 persen dari populasi. Mereka berasal dari beragam latar belakang etnis, profesi, dan generasi.

Representasi tersebut juga tampak dalam kepemimpinan politik lokal. Sadiq Khan mencatat sejarah sebagai wali kota Muslim pertama London dan menjadi satu-satunya nan sukses memenangkan pemilihan sebanyak tiga kali berturut-turut. Selain itu terdapat tokoh seperti Roch Aquilina, Magid Magid, serta sejumlah wali kota Muslim lain di beragam kota seperti Blackburn, Luton, Oxford, dan Newham nan mencerminkan semakin terbukanya ruang kerakyatan Inggris bagi seluruh penduduk negara tanpa memandang agama.

Fenomena ini menunjukkan bahwa identitas keagamaan tidak menjadi penghalang untuk berkontribusi dalam pemerintahan demokratis. nan dinilai adalah kapasitas, integritas, dan kepercayaan publik.

Di sisi lain, lebih dari 1.800 masjid berdiri di seluruh Inggris. Banyak di antaranya tidak hanya berfaedah sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, perbincangan lintas agama, jasa sosial, hingga aktivitas kemanusiaan. London Central Mosque merupakan salah satu simbol gimana kehidupan keagamaan dapat melangkah berdampingan dengan masyarakat multikultural.

Pelajaran bagi Masa Depan Peradaban

Perjalanan sejarah dari perpustakaan Baghdad menuju ruang kuliah Oxford, lampau bersambung hingga saf-saf Jumat di London Central Mosque, memberikan pelajaran krusial bahwa peradaban besar lahir dari keterbukaan terhadap pengetahuan pengetahuan.

Sejarawan Arnold J. Toynbee melalui teori challenge and response menjelaskan bahwa kemajuan suatu peradaban berjuntai pada kemampuannya merespons tantangan melalui kreativitas, inovasi, dan pembelajaran dari peradaban lain. Inggris menjadi salah satu contoh gimana tradisi ilmiah bisa tumbuh melalui proses saling belajar lintas budaya dan agama.

Dalam konteks dunia nan tetap diwarnai polarisasi identitas, meningkatnya Islamofobia di sejumlah negara, serta berkembangnya politik eksklusif, pengalaman Inggris menawarkan pelajaran berharga. Pengakuan terhadap kontribusi Islam tidak berfaedah mengurangi kebesaran Barat, melainkan justru memperkaya pemahaman bahwa kemajuan manusia merupakan hasil kerjasama panjang beragam bangsa.

Masjid nan penuh oleh jamaah dari beragam warna kulit pada siang Jumat itu bukan sekadar tempat ibadah. Ia menjadi simbol bahwa ilmu, iman, dan kemanusiaan bisa melangkah berdampingan. Dari Oxford hingga masjid-masjid di Inggris, sejarah mengajarkan bahwa peradaban tidak dibangun oleh satu bangsa alias satu kepercayaan saja. Ia tumbuh melalui pertukaran gagasan, penghormatan terhadap pengetahuan, serta kesediaan memandang perbedaan sebagai sumber kekuatan bersama.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan