Dari Martir ke Meme: Transformasi Propaganda Perang Iran di Era Budaya Digital

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
ilustrasi perang (freepik.com)

Perkembangan media digital telah mengubah secara esensial langkah propaganda perang diproduksi, disebarkan, dan dikonsumsi. Jika pada masa sebelumnya propaganda negara beraksi melalui media nan relatif terpusat seperti radio, poster, alias movie negara, maka dalam era platform digital propaganda mengalami transformasi ke dalam format budaya terkenal nan lebih cair dan partisipatoris.

Konflik nan melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat memperlihatkan gimana narasi geopolitik kontemporer tidak lagi semata diproduksi melalui lembaga negara, tetapi juga melalui ekosistem media sosial nan mempertemukan propaganda, budaya internet, dan logika algoritma.

Dalam konteks ini, propaganda tidak lagi selalu datang dalam corak retorika ideologis nan kaku. Sebaliknya, dia sering dimediasi melalui format nan lebih ringan seperti meme, video pendek, dan konten viral nan mudah didistribusikan lintas platform. Figur “martir” nan dalam tradisi politik Timur Tengah mempunyai posisi simbolik nan sakral, sekarang kerap direpresentasikan melalui estetika visual nan diproduksi untuk konsumsi digital dunia mulai dari konten video dramatis hingga konten nan mengikuti pola komunikasi unik media sosial.

Transformasi ini dapat dipahami melalui perspektif Cultural Studies nan memandang media sebagai arena produksi makna nan terus dinegosiasikan. Dalam kerangka nan diajukan oleh Stuart Hall, pesan media tidak pernah mempunyai makna nan sepenuhnya stabil lantaran selalu melalui proses encoding dan decoding. Negara dapat merancang narasi propaganda tertentu misalnya narasi heroisme alias resistensi, namun makna tersebut dapat ditafsirkan ulang, dimodifikasi, alias apalagi diparodikan oleh audiens digital nan beragam.

Di sinilah propaganda perang mengalami apa nan dapat disebut sebagai proses cultural translation. Narasi politik nan kompleks diterjemahkan ke dalam format budaya terkenal nan lebih mudah diakses oleh publik global. Meme, misalnya, bekerja melalui logika humor, ironi, dan simplifikasi visual nan memungkinkan pesan politik menyebar dengan sigap dalam jaringan media sosial. Dengan demikian, propaganda tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh negara, tetapi juga diproduksi ulang oleh pengguna internet nan menjadi bagian dari ekologi komunikasi digital.

Namun, transformasi ini tidak dapat dilepaskan dari struktur teknologi platform itu sendiri. Algoritma media sosial condong mempromosikan konten nan memicu respons emosional tinggi, seperti kemarahan, simpati, alias kebanggaan identitas.

Dalam situasi bentrok geopolitik, logika algoritmik ini menciptakan kondisi di mana konten propaganda nan dramatis mempunyai kesempatan lebih besar untuk menjadi viral dibandingkan kajian politik nan kompleks. Akibatnya, bentrok sering direpresentasikan dalam corak narasi nan lebih polaristik dan emosional.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa propaganda kontemporer tidak hanya merupakan strategi komunikasi politik, tetapi juga kejadian budaya nan terintegrasi dengan ekonomi perhatian (attention economy) platform digital. Perang narasi tidak lagi hanya berjalan antara negara-negara nan berkonflik, melainkan juga dalam ruang algoritmik nan menentukan visibilitas dan sirkulasi pesan. Dengan kata lain, propaganda di era digital beraksi melalui relasi antara produksi simbolik, partisipasi pengguna, dan prasarana teknologi platform.

Lebih jauh lagi, transformasi propaganda menjadi konten budaya terkenal membawa implikasi epistemologis dan etis. Ketika bentrok geopolitik dimediasi melalui format meme alias video viral, terdapat akibat bahwa perang direduksi menjadi spektakel visual nan terpisah dari realitas kekerasan nan dialami oleh masyarakat sipil. Dalam situasi demikian, pemisah antara informasi, hiburan, dan propaganda menjadi semakin kabur.

Dengan demikian, kajian terhadap propaganda perang kontemporer menuntut pendekatan nan tidak hanya berfokus pada strategi komunikasi negara, tetapi juga pada dinamika budaya digital nan membentuk produksi dan konsumsi narasi konflik. Konflik nan melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa perang di abad ke-21 tidak hanya diperebutkan melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui keahlian memproduksi makna nan bisa beresonansi dalam lanskap budaya internet global.

Ia bergerak dari ruang ideologi umum menuju ruang budaya populer: dari martir ke meme sehingga membentuk langkah baru publik dunia memahami dan membayangkan perang.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan