Futuris asal Australia, Ross Dawson memaparkan, industri finansial merupakan industri paling tanggap dalam memperbarui AI.(Dok Istimewa)
Ketika kehilangan kartu debit pada tengah malam, Anda membuka aplikasi bank dan berbincang dengan jasa digital. Dalam hitungan detik, sistem langsung memverifikasi identitas, memblokir kartu, mendeteksi transaksi mencurigakan, membikin kartu pengganti virtual, hingga menjadwalkan pengiriman kartu baru—semuanya tanpa kombinasi tangan manusia.
Itulah hasil kerja Agentic AI, sebuah teknologi kepintaran buatan nan tidak hanya bisa menjawab pertanyaan seperti chatbot biasa, tetapi juga dapat bertindak secara berdikari untuk menyelesaikan tugas. Jika generasi awal AI hanya membantu manusia mencari info alias membikin tulisan, Agentic AI berkembang menjadi “pegawai digital” nan bisa menganalisis, mengambil keputusan, menjalankan proses, apalagi berinteraksi dengan sistem lain. Bagi industri perbankan, teknologi ini dipandang sebagai salah satu transformasi terbesar sejak lahirnya mobile banking.
Secara sederhana, Agentic AI adalah corak kepintaran buatan nan tidak lagi hanya berfaedah sebagai mesin penjawab pertanyaan, tetapi bisa bertindak untuk mencapai tujuan tertentu. Teknologi ini dirancang untuk memahami konteks, menyusun langkah kerja, menjalankan tindakan, mengevaluasi hasil, lampau memperbaiki prosesnya secara mandiri.
Jika chatbot generasi awal hanya bisa memberikan jawaban singkat berasas pertanyaan pengguna, Agentic AI sudah bergerak lebih jauh. AI jenis ini dapat mengelola rangkaian pekerjaan kompleks nan sebelumnya memerlukan banyak kombinasi tangan manusia.
Dalam konteks perbankan, misalnya, seorang pengguna tidak lagi hanya bertanya tentang prosedur kenaikan batas kartu kredit. Agentic AI dapat memeriksa riwayat transaksi, membaca profil risiko, mengevaluasi keahlian pembayaran, memberikan rekomendasi, lampau memperbarui info sistem secara otomatis dalam satu rangkaian proses.
Inilah nan membikin banyak pengamat menyebut Agentic AI sebagai awal lahirnya “pegawai digital” di sektor keuangan. Futuris asal Australia, Ross Dawson, memandang perkembangan ini sebagai transformasi besar dalam langkah organisasi bekerja. Menurutnya, masa depan perusahaan bakal dibangun melalui kerjasama antara manusia dan AI dalam satu ekosistem kerja nan saling melengkapi.
Dalam aktivitas Visa Indonesia Client Forum nan diselenggarakan di Bali belum lama ini, Ross Dawson menekankan bahwa daya saing industri jasa finansial Indonesia bakal sangat ditentukan oleh kejelasan peran masing-masing pihak, hubungan nan dilandasi kepercayaan, serta keahlian menggabungkan skill manusia dan teknologi secara seimbang.
Industri perbankan sendiri merupakan salah satu sektor nan paling sigap mengangkat teknologi digital. Jumlah transaksi nan sangat besar, kebutuhan jasa nan kudu melangkah 24 jam, serta tuntutan keamanan nan tinggi membikin bank terus mencari langkah untuk meningkatkan efisiensi.
Di sinilah Agentic AI dianggap sangat menjanjikan. Selama ini banyak proses di bank melangkah secara berulang dan memerlukan waktu panjang. Mulai dari verifikasi dokumen, pengecekan kepatuhan, pemantauan transaksi, hingga pelayanan nasabah, semuanya memerlukan sumber daya besar.
Dengan Agentic AI, sebagian pekerjaan tersebut dapat dijalankan lebih sigap dan lebih presisi. Sistem AI bisa membaca jutaan info dalam waktu singkat, mengenali pola transaksi nan tidak biasa, apalagi mengambil tindakan otomatis ketika mendeteksi potensi fraud.
Bagi nasabah, perubahan ini terasa dalam corak jasa nan lebih sigap dan personal. Ketika seseorang kehilangan kartu debit, misalnya, AI dapat langsung membantu memblokir kartu, memeriksa transaksi terakhir, mengirim notifikasi keamanan, hingga menawarkan kartu pengganti digital tanpa perlu menunggu antrean customer service.
Perubahan ini membikin jasa bank bergerak menuju pengalaman nan lebih individual dan real-time. AI dapat memahami pola transaksi, kebiasaan pengeluaran, hingga preferensi finansial pengguna untuk memberikan rekomendasi nan lebih relevan. Dalam beberapa tahun ke depan, bank apalagi diperkirakan bakal berkembang menjadi semacam “financial companion” digital nan aktif membantu pengguna mengelola finansial sehari-hari.
Dalam forum tersebut juga dipaparkan bahwa kepintaran buatan tidak lagi hanya membantu pengguna mencari informasi, tetapi juga mulai bisa melakukan tindakan seperti memesan jasa hingga melakukan pembelian. Bank bukan lagi sekadar tempat menyimpan duit alias memproses transaksi, tetapi berkembang menjadi mitra finansial digital nan bisa memahami perilaku dan kebutuhan pengguna secara lebih mendalam.
Secara global, perkembangan ini mulai mengarah pada lahirnya “agentic commerce”, ialah situasi ketika AI agent dapat melakukan transaksi atas nama pengguna. Visa melalui program “Agentic Ready” mulai menguji gimana AI agent dapat melakukan pembayaran secara kondusif di lingkungan transaksi nyata sembari tetap menjaga autentikasi, tokenisasi, dan kontrol keamanan.
Artinya, masa depan pembayaran digital kemungkinan tidak lagi sepenuhnya dijalankan manusia secara manual. Sebagian proses transaksi dapat dilakukan AI dengan pengawasan dan batas tertentu.
Sisi gelap AI
Namun perkembangan Agentic AI juga membawa sisi gelap nan tidak bisa diabaikan. Ketika industri finansial memakai AI untuk mempercepat jasa dan meningkatkan keamanan, pelaku kejahatan siber juga menggunakan teknologi nan sama untuk melakukan penipuan nan lebih canggih.
Deepfake menjadi salah satu ancaman nan paling banyak dibicarakan. Dengan support AI, bunyi seseorang sekarang dapat ditiru secara sangat realistis. Pelaku bisa berpura-pura menjadi personil keluarga, pemimpin kantor, alias apalagi customer service bank untuk meminta transfer biaya maupun kode keamanan.
Di sisi lain, phishing juga berkembang jauh lebih meyakinkan dibanding beberapa tahun lalu. Jika dulu email penipuan mudah dikenali lantaran banyak kesalahan bahasa, sekarang AI bisa membikin pesan nan tampak ahli komplit dengan style komunikasi menyerupai lembaga resmi. Bahkan, AI sekarang bisa menciptakan wajah virtual, arsip palsu, hingga info tiruan nan digunakan untuk pembukaan rekening terlarangan alias pinjaman palsu.
Dalam forum tersebut juga dibahas bahwa penipuan berbasis AI berkembang dengan tingkat organisasi dan skala nan jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya. Karena itu, keamanan transaksi sekarang kudu bekerja pada “kecepatan mesin” untuk bisa menghadapi ancaman digital nan juga digerakkan AI.
Nasabah tetap aman?
Di tengah perkembangan AI nan begitu cepat, literasi digital menjadi sama pentingnya dengan teknologi keamanan nan dimiliki bank. Masalahnya, penjahat siber sekarang juga memakai AI untuk membikin penipuan terlihat lebih meyakinkan. Mereka dapat meniru suara, membikin pesan nan sangat profesional, hingga menciptakan identitas digital tiruan nan susah dibedakan dari aslinya.
Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa ancaman digital saat ini tidak lagi selalu terlihat kasar alias mudah dikenali. Salah satu perihal paling krusial adalah tidak pernah memberikan OTP, PIN, password, alias kode keamanan kepada siapa pun. Bank resmi tidak bakal meminta info tersebut melalui telepon, pesan singkat, ataupun media sosial.
Masyarakat juga perlu lebih berhati-hati terhadap telepon alias video nan berkarakter mendesak. Di era deepfake, bunyi dan wajah seseorang bisa ditiru dengan sangat realistis. Jika ada permintaan transfer alias transaksi penting, langkah terbaik adalah melakukan verifikasi ulang melalui nomor resmi alias komunikasi langsung.
Penggunaan autentikasi berlapis juga menjadi penting. Fitur seperti verifikasi dua langkah, notifikasi transaksi, serta biometrik sidik jari alias wajah dapat membantu memberikan perlindungan tambahan terhadap rekening.
Selain itu, kebiasaan sederhana seperti memeriksa alamat website, memastikan aplikasi berasal dari sumber resmi, dan tidak sembarang mengklik tautan juga menjadi tembok krusial di tengah maraknya kejahatan digital berbasis AI. Pada akhirnya, keamanan tidak hanya berjuntai pada kecanggihan sistem bank, tetapi juga pada kewaspadaan pengguna. (X-6)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·