Kisah Mus dan 190 Nakes Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis dari Desa ke Desa

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Kegiatan organisasi "Cerita Sehat Indonesia". Foto: Dok. Cerita Sehat Indonesia

Kesenjangan sosial masyarakat di wilayah Sedati, Sidoarjo, menggerakkan hati Muslimaturrahmah, wanita lulusan Ilmu Gizi Universitas Brawijaya untuk membentuk organisasi berjulukan Cerita Sehat Indonesia. Komunitas ini dibentuk pada tahun 2021.

Ide ini sebenarnya sudah muncul saat Muslimaturrahmah tetap aktif dalam aktivitas Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Ia kerap turun ke desa-desa untuk membantu pemeriksaan kesehatan kepada lansia dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah.

Keyakinannya untuk membentuk organisasi itu pun semakin kuat setelah dia menyelesaikan kuliahnya.

"Selesai menjabat, saya dan beberapa kawan berinisiatif secara pribadi tetap turun ke desa. Kami hanya bawa tensi, cek kesehatan dasar, lampau membagikan vitamin dan buah-buahan," kata Mus --sapaan akrabnya-- kepada kumparan, Senin (8/6).

Dari aktivitas itu, Mus mulai ketagihan. Ia lampau membujuk teman-temannya nan berbeda profesi, mulai dari bidan, perawat, hingga master untuk ikut turun ke lapangan.

Selepas lulus kuliah, Mus memantapkan diri untuk mendirikan Cerita Sehat Indonesia dengan kerjasama antarprofesi kesehatan nan melangkah mandiri.

Kegiatan organisasi "Cerita Sehat Indonesia". Foto: Dok. Cerita Sehat Indonesia

Aksi pertama Mus berbareng empat orang lainnya menyasar para nelayan di wilayah Sedati, Sidoarjo.

"Itu paling lima anak, jadi ada nan master gigi, perawat, perawat sama gizi. Di situ kita hanya bagi-bagi snack sehat, lenyap itu dari situlah banyak teman-teman nan tertarik buat ikut," ucapnya.

Setelah tindakan tersebut, Mus dan teman-temannya kembali tergerak untuk membantu pengecekan kesehatan kepada kaum ODGJ hingga lansia.

"Setelah itu vakum beberapa bulan terus kita bikin aktivitas lagi nan langsung ke ODGJ nan di bawah naungan Dinsos. Nah, itu kita dimintai support buat cek kesehatan," katanya.

"Akhirnya dari situlah bergerak. Sasaran kita beragam macam. Ada ODGJ, kaum marjinal alias pemulung, lenyap itu nelayan, petani, lansia, sama anak-anak," tambahnya.

Kegiatan organisasi "Cerita Sehat Indonesia". Foto: Dok. Cerita Sehat Indonesia

Dengan aktivitas tersebut, Mus semakin antusias. Ia dan teman-temannya memutuskan membuka open recruitment untuk bergerak dalam bagian sosial dan kesehatan masyarakat secara swadaya.

Relawan Patungan

Setiap kali mengadakan tindakan bulanan, para relawan nan berasosiasi bakal patungan sebesar Rp 45 ribu. Uang iuran sukarela tersebut digunakan untuk membeli perangkat kesehatan sekali pakai, seperti jarum suntik dan strip cek darah, serta untuk konsumsi relawan itu sendiri.

"Dari urunan volunteer nan ikut urunan, nah itu nan dibelanjain. Belum tahu link-nya ke mana buat minta mengenai sponsor-sponsor gitu. Tapi alhamdulillah teman-teman kan udah ada nan kerja di pabrik kesehatan. Nah, biasanya ngasih vitamin, ngasih donasi, open bantuan juga kita," ujarnya.

Meski berbasis iuran, semangat para nakes ini tidak pernah surut. Dari nan awalnya hanya berlima, sekarang jumlah relawan melonjak drastis hingga lebih dari 190 nakes.

Anggotanya mencakup mahasiswa hingga nakes mulai dari master umum, master gigi, perawat, bidan, apoteker, analis kesehatan, hingga mahir gizi nan tersebar di Jawa Timur, Yogyakarta, apalagi hingga luar negeri.

"Sementara tetap menyasar masyarakat di sekitar Jawa Timur," kata dia.

Dilirik Kampus-kampus Besar

Cerita Sehat Indonesia sekarang juga mulai dilirik bumi akademik. Kampus-kampus besar seperti ITS, UNAIR, UPN, UNESA, dan UB juga membujuk kerjasama organisasi ini sebagai wadah Praktik Kerja Lapangan (PKL).

"Terus lenyap itu buat tugas golongan diwajibin sama dosen. Dan kita juga udah sampai ke pengabdian masyarakatnya dosen-dosen di kampus," lanjutnya.

Hingga saat ini, kata Mus, diperkirakan sudah ada lebih dari 50.000 masyarakat nan merasakan faedah dari tindakan nyata organisasi ini.

Kini, program Cerita Sehat Indonesia telah berkembang dan konsentrasi pada beragam macam pemeriksaan kesehatan gratis, mulai dari pengecekan tensi, gula darah, masam urat, kolesterol, suhu tubuh, hingga saturasi oksigen.

"Kemudian kita juga ada pengecekan oksimeter sama termometer. Nah, kemudian juga kita ada pengecekan status gizi. Terus kita juga ngasih vitamin nan memang dijual bebas di apotek-apotek. Di situ juga konsultasi sama nakes secara gratis. Jadi beragam macam profesi. Misalnya di situ ada dokter, bidan, perawat boleh semuanya ditanyain kayak gitu. Itu nan poin pemeriksaan kesehatan," ujarnya.

"Terus ada namanya edukasi gizi. Itu kita konsentrasi banget ke bagian gimana mulai dari si ibu mengandung sampai anak-anak umur SMA lah kayak gitu. Itu edukasi gizi itu gimana caranya kita bisa memberikan ilmunya," imbuhnya.

Arti di Balik Nama 'Cerita Sehat'

Nama "Cerita Sehat" bukanlah sekadar kombinasi kata. Mus menjelaskan, kata "Cerita" menggambarkan ruang kondusif bagi masyarakat nan mereka bantu untuk menumpahkan keluh kesah dan kisah hidupnya. Sementara "Sehat" mewakili tindakan nyata nan dibawa oleh organisasi ini.

"Kami datang bukan hanya untuk memeriksa tubuh mereka nan sakit, tapi juga menjadi pendengar nan baik. Saling bercerita, saling menerima kisah," kata dia.

Ia mengatakan, momen paling menyentuh dialami para relawan ialah saat mereka mengunjungi panti lansia dan yayasan ODGJ di Mojokerto.

Kehadiran mereka layaknya anak kandung nan dirindukan. Para lansia di panti dengan antusias menceritakan kisah hidup mereka sembari memeriksakan kesehatan.

Pengalaman di yayasan ODGJ pun tak kalah berkesan. Karena keterbatasan komunikasi, para pasien ODGJ sering kali tidak bisa mengeluhkan rasa sakitnya hingga penyakitnya memburuk.

"Waktu itu ada nan kakinya bengkak parah, dan pengurus yayasan tidak mengerti medis. Kami datang memberikan rekomendasi ke teman-teman nan kerja di rumah sakit agar dibantu. Mereka senang sekali, apalagi tiba-tiba memeluk kami dan mendoakan kami," ucapnya.

Di kembali ketangguhan Mus membesarkan organisasi ini, ada motivasi individual nan sangat menyentuh hati.

Sebagai seorang anak nan telah ditinggal berpulang oleh sang ayah, Cerita Sehat adalah ladang pahala nan dia persembahkan untuk orang tuanya.

"Setiap kegiatan, saya selalu menekankan ke teman-teman relawan: niatkan ini untuk mencari pahala dan mengalirkan angan bagi family kita di rumah. Kita meluangkan waktu, tenaga, dan duit secara sukarela agar pengetahuan saat kuliah tidak sia-sia," ujarnya.

Ke depan, Mus dan ratusan nakes di Cerita Sehat Indonesia mempunyai mimpi besar. Mereka berambisi organisasi ini bisa merambah ke daerah-daerah lain di Indonesia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan