Dari Amerika sampai China, Basket Membawa Berlian Yesi Keliling Dunia

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Berlian Yesi (kanan) bersiap melakukan free-throw pada laga playoff putri Campus League Basketball Regional Bandung, di UPI Gymnasium, Kamis (21/5). Foto: Agri Aulian Perdana/kumparan

Berlian Yesi Triutari tak pernah menyangka basket bakal membawanya sejauh ini. Olahraga itu perlahan menjadi jalan hidup nan membawanya ke kota-kota nan jauh, mengenal dunia, hingga mengenakan jersi Timnas Indonesia.

Semua perjalanan itu dimulai dengan langkah nan sederhana. Saat duduk di kelas lima SD di Blitar, Jawa Timur, Yesi mini usil mengikuti ekstrakurikuler basket lantaran sering main berbareng tetangga. Tak ada mimpi besar saat itu. Ia apalagi tak pernah membayangkan suatu hari bakal terbang ke Amerika Serikat hingga China lantaran bola basket.

Perjalanan basketnya baru mulai serius ketika dia masuk SMP Negeri 1 Blitar nan dikenal punya tradisi basket kuat. Dari sana, talenta basketnya perlahan berkembang berbareng tim sekolah berjulukan Basudewa. Perjalanannya kemudian bersambung saat berasosiasi dengan GMC Cirebon nan jadi salah satu SMA dengan tim basket kuat di Jawa Barat.

Latihan demi latihan dijalani, beragam turnamen juga dilewati. Hingga namanya mulai dikenal sebagai salah satu pemain muda potensial.

Berlian Yesi (tengah) melakukan dunk pada laga playoff putri Campus League Basketball Regional Bandung, di UPI Gymnasium, Kamis (21/5). Foto: Dok. Campus League

Puncaknya datang saat Yesi terpilih menjadi DBL (Developmental Basketball League) All-Star selama tiga tahun beruntun pada 2023, 2024, dan 2025. Kesempatan itu membawanya terbang ke Amerika Serikat, negara nan sebelumnya hanya dia lihat lewat televisi dan media sosial.

Bagi Yesi, pengalaman pertama pergi ke luar negeri langsung menuju Amerika terasa seperti mimpi nan terlalu besar untuk dipercaya.

“Pertama kali ke luar negeri langsung ke Amerika Serikat. Aku tuh kayak ‘wow’, senang banget. Enggak bisa dijelasin,” ujarnya sembari tersenyum saat berbincang dengan Campus Sport Indonesia di UPI Gymnasium, Bandung pada Kamis (21/5).

Di Amerika Serikat, Yesi belajar lebih dari sekadar teknik basket. Ia memandang langsung gimana disiplin dan mentalitas menjadi bagian krusial dalam kehidupan atlet. Ia juga memahami bahwa basket modern menuntut pemain untuk terus berkembang tanpa pemisah posisi.

“Sekarang basket tuh semua kudu bisa apa aja. Big man harus bisa shooting, dribble. Jadi enggak hanya satu posisi doang,” katanya.

Berlian Yesi (kiri) bersalaman dengan Elok Rahmadani (kanan) sebelum laga final putri Campus League Basketball Regional Bandung, di UPI Gymnasium, Jumat (22/5). Foto: Agri Aulian Perdana/kumparan

Namun perjalanan basket Yesi tak selalu melangkah mulus. Pada 2024, dia mengalami cedera ankle cukup parah saat menjalani persiapan Timnas menuju SeaABA Thailand. Kakinya bengkak, warnanya ungu. Cedera itu membuatnya trauma saat bermain.

“Aku tetap takut waktu main. Habis latihan pasti bengkak lagi,” ucap Yesi soal cedera nan dialaminya di 2024.

Dalam kondisi belum pulih sepenuhnya, performanya sempat menurun. Ia apalagi kandas melanjutkan perjalanan berbareng tim menuju kualifikasi FIBA Women’s Asian Cup U-18 2024. Situasi itu menjadi pukulan berat bagi Yesi nan sedang berada dalam performa terbaiknya.

Tetapi Yesi memilih bertahan. Ia tetap datang latihan meski menahan sakit. Tetap menjalani pemulihan sembari menjaga mimpinya hidup. Sebab bagi Yesi, basket sudah menjadi tanggung jawab nan kudu dia perjuangkan.

Perjuangan dan kesabaran itu akhirnya membawa student-athlete Universitas Kristen Maranatha tersebut kembali mengenakan jersi Merah Putih. Pada April 2026, dia mendapat panggilan memihak Timnas Basket 3x3 Indonesia di Asian Beach Games 2026 di Sanya, China. Lagi-lagi, basket membawanya ke tempat nan sebelumnya hanya bisa dia bayangkan.

“Aku kira Sanya itu kejuaraan nan kayak FIBA (turnamen) biasa gitu, rupanya kayak Olimpiade ya gede banget, bagian olahraganya banyak, terus kualitasnya tuh gede banget gitu. Berangkat sampai sana tuh kayak wah keren ya rupanya kayak suatu kebanggaan terus cari pengalaman baru,” tutur pemain nan sekarang baru menginjak 19 tahun itu.

Berlian Yesi bakal memberikan umpan kepada rekannya pada laga playoff putri Campus League Basketball Regional Bandung, di UPI Gymnasium, Kamis (21/5). Foto: Agri Aulian Perdana/kumparan

Bagi Yesi, momen di China terasa sangat spesial. Ia bermain berbareng senior-senior tim nasional nan selama ini dia kagumi. Dari sana, dia belajar tentang komunikasi, defense, hingga gimana menghadapi tekanan di level internasional.

Tetapi di kembali semua perjalanan itu, ada satu perihal nan selalu menjadi argumen terbesar Yesi terus bertahan: keluarga. “Aku pengin bahagiain orang tua,” katanya lirih.

Sebagai anak ketiga di keluarganya, Yesi merasa semua pencapaian nan dia dapatkan lewat basket adalah langkah untuk membikin kedua orang tuanya bangga. Dari lapangan mini di Blitar hingga arena internasional di Amerika dan China, Berlian Yesi sekarang tahu satu perihal pasti–basket telah membawanya memandang dunia.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan