Dampak Perang dengan Iran, Inflasi AS Naik Jadi 3,3 Persen pada Maret 2026

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato nan disiarkan televisi mengenai bentrok Timur Tengah dari Cross Hall, White House (1/4/2026). Foto: Alex Brandon / POOL / AFP

Inflasi di Amerika Serikat (AS) meningkat tajam pada Maret 2026 lantaran kenaikan nilai daya imbas perang di Timur Tengah. Diberitakan AFP, kenaikan nilai nan mengejutkan di seluruh negeri ini memberi tekanan pada Presiden AS Donald Trump, nan telah memerintahkan pembicaraan tenteram dengan Iran.

Berdasarkan info Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) nan dirilis Jumat (10/4), tingkat inflasi naik menjadi 3,3 persen secara tahunan pada bulan Maret. Sebagai perbandingan, indeks nilai konsumen nan sama adalah 2,4 persen secara tahunan sebulan sebelumnya.

"Harga bensin melonjak sebesar 21,2 persen antara Februari dan Maret alias kenaikan bulanan terbesar sejak pemerintah mulai menerbitkan indeks mengenai pada 1967," kata Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS).

AS dan Israel mulai membombardir Iran pada 28 Februari. Lalu, Iran membalas dengan memblokir lampau lintas di Selat Hormuz, jalur nan digunakan untuk mengangkut seperlima pengiriman minyak dan gas dunia.

Meski menjadi produsen minyak mentah terbesar di dunia, AS juga merasakan dampaknya lantaran nilai bensin melonjak. Satu galon (3,78 liter) bensin biasa saat ini rata-rata berbobot USD 4,15, dibandingkan dengan USD 3 sebelum perang.

Pemerintahan Trump nan terpilih sebagian lantaran janji untuk menekan inflasi menyatakan bahwa gangguan ekonomi akibat perang bakal berkarakter sementara.

Ilustrasi Gedung Putih, Amerika Serikat. Foto: Shutetrstock

Juru bicara Gedung Putih, Kush Desai, mengatakan ekonomi AS tetap berada pada jalur nan solid.

Penasihat ekonomi Kevin Hassett mengeklaim beberapa kemenangan bagi Gedung Putih, dengan menyebut penurunan nilai telur, daging sapi, dan tiket konser di Fox News.

Wakil Presiden AS JD Vance berambisi hasil nan positif saat berangkat dari Washington untuk pembicaraan perdamaian AS-Iran di Pakistan akhir pekan ini.

Namun, para mahir memperkirakan lebih banyak kesulitan ekonomi di depan lantaran perang di Iran, terutama bagi rumah tangga berpenghasilan menengah dan rendah nan sudah tertekan oleh kenaikan nilai daya dan tiket pesawat.

Kepala Ekonom di Navy Federal Credit Union, Heather Long, mengatakan inflasi melonjak pada Maret ke tingkat tertinggi dalam nyaris dua tahun.

"Ini baru permulaan. Harga makanan, biaya perjalanan dan pengiriman semuanya bakal naik pada bulan April dan bakal memperburuk penderitaan," kata Heather Long.

Ekonom Christopher Low dari FHN Financial menyebut Indeks Harga Konsumen bulan Maret sesuai perkiraan, jadi tidak ada kejutan. Namun, ada peningkatan besar dalam nilai bahan bakar, nan mendorong inflasi.

"Dan kami mendapat berita tadi malam bahwa gencatan senjata tampaknya tidak dihormati oleh kedua belah pihak. Masih sangat sedikit lampau lintas melalui Selat Hormuz," ujar Christopher Low.

Beberapa ahli ekonomi memperkirakan lonjakan nilai minyak bakal merugikan setiap rumah tangga di AS setidaknya USD 350 per rumah tangga.

video story embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan