Dampak Kenaikan Bunga The Fed Terbatas, IHSG Masih Menguat di Level 6.400

Sedang Trending 57 menit yang lalu

Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) condong menguat usai The Fed meningkatkan suku kembang referensi (Fed-Rate) sebesar 25 bps. Meski sempat tergelincir di area merah, indeks saham RI kembali menguat menuju level 6.500-an.

Berdasarkan info RTI Business, IHSG saat ini menguat 0,42% ke level 6.463,61. Indeks saham sempat meleset pada level terendahnya secara intraday sesi I pada posisi 6.418,12.

Pengamat Pasar Modal, Elandry Pratama, mengatakan pelaku pasar telah mengantisipasi kenaikan Fed-Rate. Kondisi ini meminimalisir akibat ketetapan The Fed terhadap pergerakan indeks saham.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pasar sebenarnya sudah cukup mengantisipasi kenaikan Fed Rate 25 bps, sehingga keputusan tersebut relatif sudah priced in dan tidak langsung memicu tekanan besar terhadap IHSG," jelas Elandry kepada detikcom, Kamis (17/9/2026).

Elandry menilai, perhatian pasar saat ini bergeser pada arah kebijakan The Fed dan kemungkinan kenaikan lanjutan. Menurutnya, penguatan IHSG pada paruh pertama perdagangan menunjukkan risk appetite domestik tetap cukup terjaga.

"Menurut saya, ini mencerminkan pasar tidak mengalami negative surprise dari keputusan The Fed lantaran ekspektasi kenaikan kembang sudah terbentuk sebelumnya," jelasnya.

Elandry mengingatkan sentimen pasar belum sepenuhnya kondusif mengingat The Fed tetap memberikan sinyal hawkish dan membuka ruang kenaikan suku kembang berikutnya. Ia menilai, penanammodal bakal mencermati pergerakan US Treasury yield, dolar AS, serta foreign flow ke emerging market.

"Selama tekanan dari ketiga aspek tersebut tetap terkendali, IHSG berkesempatan relatif resilien, tetapi volatilitas jangka pendek tetap perlu diantisipasi," pungkasnya.

Dihubungi terpisah, Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai keputusan The Fed meningkatkan suku kembang referensi tetap sesuai dengan ekspektasi pasar. Menurutnya, langkah tersebut dipengaruhi oleh kenaikan nilai daya nan membikin inflasi belum mereda dan tetap berada di atas sasaran The Fed sebesar 2%.

Herditya memperkirakan akibat keputusan tersebut tidak terlalu besar lantaran sudah diperhitungkan pasar. Namun, rupiah tetap condong melemah dalam beberapa hari terakhir. Di sisi lain, penguatan IHSG turut ditopang sektor daya seiring kenaikan nilai minyak dan batu bara.

"Kami perkirakan, lantaran sudah condong price in dengan pasar maka pengaruh nan dihasilkan tidak begitu besar, hanya saja dari nilai tukar Rupiah yg tetap condong melemah selama beberapa hari ini," jelas Herditya.

(ahi/ara)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance