Dampak Emisi Transportasi Darat di Indonesia: 1 Kematian Dini Tiap 12 Menit

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
 1 Kematian Dini Tiap 12 Menit Ilustrasi--Kendaraan terjebak kemacetan panjang saat melintasi di area Kasablanka, Jakarta Selatan, Jumat (25/08/2023).(MI/Usman Iskandar)

SEBUAH laporan terbaru berjudul "Manfaat Kesehatan dari Kendaraan Nol Emisi Hingga 2050" nan dirilis International Council on Clean Transportation (ICCT), hari ini, Selasa (4/8/2026), mengungkap kebenaran mengkhawatirkan mengenai akibat polusi udara di Indonesia. Emisi dari transportasi darat dilaporkan menyebabkan satu kematian dini setiap 12 menit dan memicu satu kasus baru asma pada anak setiap 26 menit di tanah air.

Studi komprehensif ini mencakup kajian di lebih dari 180 negara dan 13.000 area perkotaan. Secara global, transportasi darat menyumbang nyaris separuh dari polusi partikel lembut (PM2.5) di udara luar ruangan berasas pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Hal ini menjadikan sektor transportasi sebagai sasaran krusial dalam upaya lintas sektor untuk mengurangi polusi udara nan berbahaya.

Kondisi Kritis di Indonesia

Di Indonesia, beban kesehatan akibat emisi kendaraan sangat terasa. Pada 2024 saja, transportasi darat berkontribusi terhadap 44.700 kematian awal dan lebih dari 19.800 kasus baru asma pada anak. Angka ini menempatkan Indonesia di ranking kedua bumi untuk kasus asma anak nan mengenai dengan emisi nitrogen dioksida (NO₂).

Data menunjukkan bahwa kendaraan berat menjadi penyumbang polusi terbesar meski jumlahnya sedikit. Berikut adalah rincian kontribusi emisi berasas jenis kendaraan di Indonesia:

Kategori Kendaraan Proporsi Armada Kontribusi Emisi Utama
Kendaraan Berat 2% >50% emisi NOx dan PM2.5
Kendaraan Ringan 98% Dominasi emisi VOC dan CO

Ketimpangan Kesehatan Global

Riset ICCT juga menyoroti potensi pendalaman ketimpangan kesehatan global. Berdasarkan kebijakan saat ini (Baseline 2025), negara-negara berpenghasilan tinggi diproyeksikan mengalami penurunan kematian awal sebesar 48% hingga tahun 2050. Sebaliknya, negara berpenghasilan menengah-bawah dan rendah justru berisiko mengalami lonjakan kematian awal hingga lebih dari 200%.

“Pertumbuhan populasi, penuaan penduduk, dan armada kendaraan nan terus bertambah memberikan tekanan meningkat terhadap beban kesehatan. Namun, elektrifikasi nan ambisius cukup kuat untuk memutus keterkaitan tersebut,” ujar Josh Miller, Direktur Senior ICCT.

Proyeksi Manfaat Elektrifikasi Ambisius (Hingga 2050):

  • Indonesia: Mencegah 800.000 kematian awal dan mengurangi 150.000 kasus asma anak.
  • Global: Mencegah nyaris 9 juta kematian dini.

Langkah Strategis dan Kolaborasi

Lingzhi Jin dari ICCT menekankan bahwa skenario ketika nyaris seluruh penjualan kendaraan baru bebas emisi pada 2045 bakal menyusutkan kesenjangan kesehatan antarnegara secara drastis. Senada dengan perihal tersebut, Prof. Budi Haryanto dalam peluncuran kajian ini menyatakan pentingnya perlindungan bagi golongan rentan.

“Pengendalian emisi perlu dilakukan secara terpadu melalui kebijakan transportasi, energi, dan pemantauan kualitas udara. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mewujudkan kualitas udara nan lebih baik,” tegas Prof. Budi.

Selain transisi ke kendaraan listrik, langkah-langkah pelengkap seperti standar emisi nan lebih ketat, penggunaan bahan bakar bersih, program peremajaan armada (scrapage), retrofit, dan penerapan area rendah emisi (Low Emission Zone) dianggap sebagai instrumen krusial untuk memberikan faedah kesehatan jangka pendek bagi masyarakat. (Z-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia