Daftar Barang yang Bakal Makin Mahal Imbas Dolar AS Kian Perkasa

Sedang Trending 21 jam yang lalu
Jakarta -

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bakal berakibat langsung pada dompet penduduk Indonesia. Sejauh ini nilai tukar rupiah tetap belum berkekuatan untuk membalikkan tekanan dolar AS.

Sampai saat ini nilai tukar dolar AS sudah tembus rekor sepanjang masa, di kisaran Rp 17.600. Kini rupiah dirasa susah untuk kembali pada keadaan normal.

Ekonom Center of Economics and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, mengatakan akibat paling besar dari nilai tukar nan terus melemah adalah inflasi nan tak terelakkan. Sebab, Indonesia sejauh ini tetap cukup banyak mengimpor beragam produk kebutuhan harian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dampaknya adalah, inflasi dari impor bakal mulai naik ke depan terutama akibat biaya pengedaran naik, nilai peralatan naik. Imported inflation bakal terjadi, terutama untuk peralatan nan mengenai impor, baik bahan baku, penolong, ataupun konsumsi," ujar Huda ketika dihubungi detikcom, Jumat (15/5/2026).

Huda memprediksi ada kenaikan nilai dalam 2-3 bulan ke depan. Dia menyatakan nan sudah mulai terlihat naik harganya adalah plastik karena bahan bakunya saat ini langka, distribusinya mahal, dan ketika mendapat eksportir nan produknya bisa diimpor harganya naik lantaran rupiah sangat lemah.

Pelemahan nilai plastik bukan hanya kejadian biasa, pasalnya banyak barang-barang nan menggunakan plastik bakal ikut meningkat harganya, misalnya minyak goreng dalam kemasan.

"Jadi, akibat dari pelemahan nilai tukar ini bisa menyeluruh ke semua lapisan masyarakat, mulai dari penjual gorengan hingga pengusaha terkena akibat negatif," sebut Huda.

Senada dengan Huda, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengatakan, Indonesia juga tetap banyak mengimpor gandum, kedelai, bawang putih, susu, bahan baku obat, sampai bahan baku industri. Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya masuk barang-barang tersebut juga ikut naik.

"Dampaknya pelan-pelan terasa di nilai makanan, obat, sampai kebutuhan rumah tangga," ujar Rendy kepada detikcom.

Kelas Menengah Terpukul

Rendy melanjutkan, kelas menengah juga bakal tertekan. Kelas menengah nan mengkonsumsi peralatan lebih banyak daripada sekadar kebutuhan hidup bakal merasakan kenaikan nilai nan pesat. Nilai tukar rupiah nan melemah dapat meningkatkan nilai gadget, peralatan elektronik, kosmetik impor, langganan jasa digital, sampai biaya sekolah dan kuliah luar negeri ikut naik.

Dia mengatakan, orang-orang bakal menekan ruang belanjanya. Pembelian hanya dilakukan untuk nan penting-penting saja. Akhirnya, banyak orang nan merasakan penghasilannya tak lagi mencukupi hidupnya.

"Orang mungkin tetap bisa membeli, tetapi ruang belanjanya jadi lebih sempit. Ini nan kemudian membikin banyak orang merasa penghasilannya tidak sejauh dulu," ujar Rendy.

Melemahnya nilai tukar rupiah juga berpotensi membikin biaya transportasi makin mahal, misalnya nilai tiket pesawat. "Sebagian besar biaya maskapai berbasis dolar AS, mulai dari avtur, sewa pesawat, suku cadang, sampai perawatan mesin. Jadi, ketika rupiah melemah, biaya operasional maskapai otomatis naik," ujar Rendy.

Rendy melanjutkan, segelintir orang bisa merasakan untung dari nilai tukar rupiah nan melemah, misalnya pekerja migran nan digaji mata duit asing bakal mendapatkan nominal lebih besar ketika dikonversi menjadi rupiah. Kemudian, para eksportir komoditas, baik skala mini maupun besar, mulai dari kelapa sawit, kopi, alias perikanan juga relatif terbantu, lantaran pendapatannya berbasis dolar AS sementara sebagian besar biayanya rupiah.

Meski begitu, Rendy tetap menekankan nilai tukar rupiah nan melemah terhadap dolar AS dampaknya lebih banyak jelek kepada masyarakat Indonesia. "Tapi secara umum, untuk kebanyakan masyarakat, Rupiah nan terlalu lemah tetap lebih banyak menambah tekanan dibanding manfaatnya," tegas Rendy.

(hal/eds)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance