Hasil Investasi Asuransi Syariah Minus Rp 121,84 M Imbas IHSG Loyo

Sedang Trending 8 jam yang lalu

Jakarta -

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat industri asuransi syariah merasakan tantangan investasi di tahun ini. Hasil investasi nan didapat pelaku upaya asuransi syariah membukukan nilai dari positif menjadi negatif Rp 121,84 miliar sampai Maret 2026.

"Berdasarkan info posisi Maret 2026, hasil investasi asuransi syariah tercatat mengalami kontraksi menjadi negatif Rp 121,84 miliar, setelah sebelumnya berada pada posisi positif sebesar Rp 545,24 miliar," kata Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun Otoritas Jasa Keuangan, Ogi Prastomiyono dalam keterangan tertulis, Sabtu (16/5/2026).

Ogi mengatakan, kondisi itu disebabkan oleh perubahan kondisi pasar termasuk pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 14,42% secara month-to-month.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh perubahan kondisi pasar, termasuk pelemahan IHSG sebesar 14,42% secara month-to-month nan berakibat pada keahlian instrumen investasi berbasis ekuitas dalam portofolio asuransi jiwa syariah," imbuhnya.

Untuk menjaga stabilitas dan meningkatkan keahlian hasil investasi ke depan, OJK menilai industri perlu memperkuat diversifikasi portofolio pada instrumen nan lebih stabil, mengoptimalkan asset liability management (ALM), memperkuat manajemen akibat melalui stress testing, serta meningkatkan governance dan pengawasan internal dalam pengambilan keputusan investasi.

"Industri perlu terus memperkuat diversifikasi portofolio pada instrumen nan lebih stabil," imbuh Ogi.

Meski demikian, keahlian profitabilitas industri perasuransian secara umum menunjukkan perbaikan berasas posisi Maret 2026. Laba setelah pajak industri asuransi jiwa tercatat sebesar Rp 7,85 triliun alias meningkat Rp 3,96 triliun dibandingkan periode sebelumnya, sedangkan industri asuransi umum dan reasuransi mencatat untung setelah pajak sebesar Rp 4,22 triliun alias meningkat sekitar Rp 0,08 triliun.

"Peningkatan tersebut didorong oleh membaiknya hasil investasi, pertumbuhan premi pada beberapa lini usaha, serta penguatan efisiensi dan manajemen akibat perusahaan," jelas Ogi.

Ke depan, Ogi memandang prospek industri perasuransian tetap cukup positif seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan finansial dan penguatan transformasi industri. Meski demikian, industri tetap perlu waspada terhadap beragam tantangan nan terjadi.

"Seperti tekanan klaim, volatilitas pasar finansial dan kondisi ekonomi dunia sehingga penguatan permodalan, tata kelola dan manajemen akibat tetap menjadi perhatian utama," pungkas Ogi.

(aid/ara)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance