Cuaca Ekstrem Makin Sering, Wilayah Jelajah Burung di Amerika Menyusut

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Cuaca Ekstrem Makin Sering, Wilayah Jelajah Burung di Amerika Menyusut Ilustrasi(Magnific)

SUHU panas nan menyengat, lonjakan udara dingin, hingga kekeringan panjang sekarang mulai mempersempit wilayah hidup ratusan jenis burung di Amerika Utara. Dampak paling signifikan terlihat pada musim dingin, di mana kondisi cuaca nan makin tak menentu memaksa satwa ini keluar dari kediaman aslinya.

Selama ini, pemetaan wilayah hidup satwa umumnya mengandalkan rata-rata suasana jangka panjang. Padahal, burung merasakan perubahan lingkungan secara harian. Rata-rata suasana nan tampak ramah sering kali menyembunyikan ancaman gelombang panas alias suhu dingin ekstrem nan membikin suatu area tidak lagi layak dihuni.

“Kita semua tahu cuaca ekstrem terus meningkat akibat perubahan iklim,” ujar Jeremy Cohen, peneliti utama studi tersebut sekaligus peneliti muda di Yale University.

Dalam riset nan dipublikasikan di jurnal Global Change Biology ini, tim peneliti mengolah ratusan juta catatan pengamatan relawan dari pedoman info publik eBird periode 2004 hingga 2024. Mereka membangun 2.901 model komputer untuk memetakan wilayah jelajah 535 jenis burung dengan membandingkan info rata-rata iklim, perubahan bulanan, serta akibat cuaca ekstrem.

Hasilnya menunjukkan bahwa peta konvensional berbasis rata-rata suasana condong memperkirakan wilayah hidup burung secara berlebihan. Ketika memperhitungkan aspek cuaca ekstrem, perkiraan wilayah jelajah burung di musim panas menyusut hingga 6 persen, sementara pada musim dingin berkurang hingga 10 persen.

Penyusutan ini apalagi tercatat jauh lebih besar pada beberapa jenis tertentu. Peta berbasis rata-rata suasana sebelumnya memperkirakan wilayah jelajah hooded oriole sekitar 30 persen lebih luas, eastern phoebe 20 persen lebih luas, dan varied thrush 10 persen lebih luas dibandingkan hasil model baru nan memperhitungkan cuaca ekstrem.

“Kondisi ekstrem inilah nan menentukan batas-batas tempat suatu organisme dapat memperkuat hidup,” kata Cohen.

Ketidakakuratan peta lama paling menonjol di wilayah Great Plains dan Southwest Amerika Serikat nan kerap dilanda kekeringan serta suhu ekstrem. Di beberapa area tersebut, model baru mencatat perkiraan keberadaan jenis burung berkurang hingga 35 jenis lebih sedikit dari perkiraan semula.

Profesor Walter Jetz turut menegaskan pentingnya pembaruan variabel dalam pemetaan ini. “Sayangnya, kejadian cuaca ekstrem sekarang makin sering terjadi dan memaksa manusia maupun hewan untuk beradaptasi. Penelitian kami membuktikan bahwa memperhitungkan unsur suasana nan tidak teratur ini sangat krusial untuk memahami pengedaran keanekaragaman hayati serta perubahannya,” tutur Jetz.

Koreksi atas peta kediaman ini menjadi krusial bagi para pengambil kebijakan konservasi. Mengestimasi wilayah jelajah secara berlebihan dapat memicu kekeliruan penilaian area perlindungan, sehingga penetapan prioritas konservasi menjadi kurang tepat sasaran. (Earth/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia