Mel Ahyar Terjemahkan Budaya Dayak Ngaju lewat Kostum Karungut Symphony

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Kostum “Karungut Symphony” dalam Pagelaran Sabang Merauke. Foto: Istimewa

Sebuah kostum panggung tidak selalu hanya berfaedah sebagai busana. Lewat kreasi Karungut Symphony untuk Pagelaran Sabang Merauke 2026, Mel Ahyar mencoba menerjemahkan cerita tentang tradisi dan alam Kalimantan ke dalam corak nan lebih kontemporer.

Inspirasi kostum tersebut berangkat dari kehidupan masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan, salah satunya Upak Nyamu, busana tradisional nan dibuat dari kulit kayu.

Namun, Mel tidak serta-merta memindahkan corak Upak Nyamu ke atas panggung. Ia mengambil karakter dan siluetnya, kemudian mengolahnya kembali agar sesuai dengan kebutuhan pagelaran sekaligus tetap mempunyai keterkaitan dengan akar budayanya.

Secara visual, Karungut Symphony tampil dengan corak nan tegas. Susunan manik-manik dan perincian menyerupai bulu di bagian bahu menjadi sejumlah komponen nan langsung menarik perhatian.

Konferensi pers dan latihan musik Pagelaran Sabang Merauke 2026 di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (4/8/2026). Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan

Menariknya, material nan digunakan juga dipilih dengan mempertimbangkan gimana kostum tersebut bakal terlihat ketika berada di atas panggung.

Salah satunya adalah material menyerupai mika nan digunakan untuk menangkap cahaya. Ketika penampil bergerak, permukaan material tersebut bakal memantulkan sinar sehingga kostum tampak lebih hidup.

Dengan demikian, kreasi busana tidak hanya dipikirkan untuk terlihat menarik ketika penampil berdiri diam. Mel dan tim juga memperhitungkan gerakan, tata cahaya, serta suasana pertunjukan.

Elemen lain nan digunakan adalah manik-manik kayu. Selain memberikan tekstur, material tersebut juga membantu memperkuat karakter kostum ketika dilihat dari jarak jauh.

Bagi Mel, beragam perincian tersebut bukan sekadar ornamen. Setiap komponen dipilih untuk membawa cerita dan menyatu dengan musik serta visual nan datang dalam Karungut Symphony.

Gunakan Replika Bulu Enggang

Salah satu tantangan terbesar dalam proses pembuatan kostum justru datang dari komponen burung enggang.

Burung enggang menjadi salah satu referensi krusial dalam konsep busana. Namun, lantaran enggang merupakan satwa nan dilindungi, bulu aslinya tidak dapat digunakan secara sembarangan.

Mel dan tim kemudian mencari material replika nan dapat menghadirkan karakter visual serupa.

Tantangannya bukan hanya menemukan material nan menyerupai bulu enggang. Material tersebut juga kudu bisa menyatu dengan keseluruhan karakter busana dan tetap terlihat kuat ketika digunakan dalam pagelaran berskala besar.

Proses tersebut menunjukkan bahwa menerjemahkan unsur budaya ke dalam fashion tidak hanya berangkaian dengan estetika. Ada pula pertimbangan mengenai material, fungsi, konteks, hingga gimana identitas budaya dapat ditampilkan secara bertanggung jawab.

instagram embed

Mel berambisi penonton nantinya tidak hanya memandang Karungut Symphony sebagai sebuah kostum panggung.

Ia mau detail-detail di dalamnya ikut dinikmati, mulai dari pantulan sinar pada material menyerupai mika, susunan manik-manik kayu, hingga interpretasi corak burung enggang.

Ketika dikenakan dalam pertunjukan, kostum tersebut nantinya bakal berpadu dengan nyanyian Yuyun, pencahayaan, tata panggung, dan visual art.

Dengan begitu, busana tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari langkah Karungut Symphony menyampaikan ceritanya.

Melalui karya tersebut, Mel Ahyar memperlihatkan gimana unsur tradisi dapat diterjemahkan ke dalam bahasa kreasi nan lebih modern. Bentuk dan material boleh mengalami perubahan, tetapi karakter serta cerita nan menjadi sumber inspirasinya tetap menjadi bagian krusial dari karya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan