Gelombang kekerasan anti-imigran melanda Belfast, Irlandia Utara, pada Selasa (9/6/2026) malam setelah serangan penusukan nan membikin seorang penduduk negara Sudan didakwa atas percobaan pembunuhan. (REUTERS/Isabel Infantes)
Sekelompok laki-laki bertopeng membakar rumah-rumah family dan sejumlah kendaraan di beragam lokasi, sementara ratusan demonstran turun ke jalan dan berantem dengan abdi negara kepolisian. (REUTERS/Isabel Infantes)
Warga mendapati sejumlah rumah mengalami kerusakan parah dengan tembok menghitam akibat asap, jendela pecah, dan beberapa gedung gosong terbakar pada Rabu (10/6/2026) pagi. (REUTERS/Isabel Infantes)
Menteri Pertama Irlandia Utara Michelle O’Neill mengecam keras tindakan tersebut. Ia menegaskan tidak ada argumen nan dapat membenarkan serangan terhadap rumah-rumah keluarga. Menurutnya, tindakan sekelompok laki-laki bertopeng nan membakar rumah penduduk merupakan tindakan pengecut nan menjijikkan dan tidak dapat diterima. (REUTERS/Isabel Infantes)
Kerusuhan terjadi setelah seorang laki-laki Sudan berumur 30 tahun didakwa atas percobaan pembunuhan mengenai penusukan sadis nan terjadi di Belfast utara pada Senin malam. Korban, seorang laki-laki berumur 40-an, mengalami luka serius di mata serta luka sayatan di wajah dan punggung. Polisi menemukan pisau dapur di letak kejadian dan menyatakan serangan tersebut saat ini tidak dikategorikan sebagai tindakan terorisme. (REUTERS/Isabel Infantes)
Menteri Kehakiman Irlandia Utara Naomi Long menuding sejumlah pihak beritikad jelek memanfaatkan kemarahan publik atas kasus penusukan untuk menargetkan golongan tertentu berasas ras dan warna kulit. (REUTERS/Isabel Infantes)
Sementara itu, pemimpin oposisi Partai Sosial Demokrat dan Buruh, Claire Hanna, menyebut kekerasan nan terjadi sebagai "pogrom berbasis ras". Selain di Belfast, tindakan protes mengenai rumor imigrasi juga dilaporkan berjalan di London dan sejumlah wilayah lain di Inggris. (REUTERS/Isabel Infantes)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·