Jakarta -
Pertamina Patra Niaga mendorong pemanfaatan daya baru terbarukan (EBT) nan memberikan faedah langsung bagi masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) MAPAN (Masyarakat Pengelola Pertanian Berkelanjutan) di Kalijaran, Cilacap.
MAPAN mengintegrasikan daya terbarukan dengan pengembangan pertanian berkepanjangan dari hulu hingga hilir. Program ini dikembangkan untuk menjawab tantangan keterbatasan irigasi, minimnya modernisasi dan diversifikasi upaya tani, serta ancaman perubahan suasana terhadap produktivitas pertanian.
Salah satu penemuan utama nan diterapkan adalah sistem irigasi pertanian berbasis daya hybrid nan memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
VP Community Involvement Development Pertamina Patra Niaga Dian Hapsari Firasati mengatakan, pemanfaatan EBT dalam Program MAPAN dirancang agar tidak hanya menghasilkan daya nan lebih ramah lingkungan, tetapi juga memperkuat produktivitas dan kemandirian ekonomi masyarakat.
"Di Kalijaran, daya terbarukan kami integrasikan dengan kebutuhan pertanian, mulai dari irigasi, produksi pangan, pengelolaan limbah, hingga pengembangan upaya masyarakat. Dengan pendekatan ini, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi bagian krusial dalam menjaga keberlanjutan program," ujar Dian dalam keterangan tertulis, Jumat (11/9/2026).
Melalui konsep integrasi hulu-hilir pertanian berbasis EBT, daya nan dihasilkan dimanfaatkan untuk mendukung irigasi lahan persawahan dan hortikultura.
Rangkaian aktivitas kemudian terhubung dengan produksi padi, pengolahan gabah menjadi beras, pemanfaatan dedak sebagai pakan dan pupuk, pengelolaan limbah pertanian menjadi pupuk, hingga pengembangan hortikultura, perikanan, dan budidaya bebek.
Di sisi hilir, masyarakat juga didorong melakukan diversifikasi produk pertanian, antara lain keripik, telur asin, beras, dan produk MPASI. Implementasi sistem EBT di Kalijaran mempunyai total kapabilitas 15.250 Wp.
Pemanfaatan tersebut menghasilkan rata-rata 150.000 liter debit air per hari serta berkontribusi terhadap pengurangan emisi sebesar 2.860 kg CO₂eq per tahun. Program juga memberikan efisiensi ekonomi melalui penghematan penggunaan pompa diesel nan mencapai Rp9 juta per dua kali siklus tanam.
Dari sisi pemberdayaan, Program MAPAN telah memberikan faedah kepada 233 orang, nan terdiri atas petani gurem, petani perempuan, pekerja tani harian, anak-anak/balita, serta masyarakat miskin.
Program ini melibatkan sejumlah golongan masyarakat, antara lain GAPOKTAN Margo Sugih, Kelompok Ternak Mintih Mulia, KWT Tandur Makmur, dan KWT Mekar Jaya Lestari.
"Keberlanjutan menjadi bagian krusial dari program ini. Karena itu, kami mendorong penguatan kapabilitas golongan dan kerjasama dengan beragam pihak agar penemuan nan sudah melangkah dapat terus dikembangkan dan direplikasi. Harapannya, Kalijaran dapat menjadi contoh gimana pemanfaatan EBT dapat melangkah beriringan dengan penguatan ketahanan pangan, lingkungan, dan ekonomi masyarakat," jelas Dian.
Program MAPAN turut melibatkan pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat, serta sejumlah pihak lain dalam pengembangan pertanian dan inovasi. Hingga saat ini, program telah melibatkan delapan stakeholder, melahirkan dua golongan baru, serta mendorong replikasi pertanian hortikultura di tiga area lahan.
Inisiatif tersebut sejalan dengan semangat Pertamina Patra Niaga dalam mendorong kemandirian masyarakat melalui penguatan ketahanan pangan, energi, dan ekonomi hijau, sekaligus membangun dari desa dan memperluas pemerataan ekonomi.
Melalui pemanfaatan EBT nan terintegrasi dengan pemberdayaan masyarakat, Pertamina Patra Niaga terus berupaya menghadirkan faedah berkepanjangan nan mendukung ketahanan pangan, kelestarian lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
(ily/hns)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·