Filosofi Daun Kelor Logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah

Sedang Trending 56 menit yang lalu
Filosofi Daun Kelor Logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah Filosofi Daun Kelor Logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah.(Dok. PP Muhammadiyah)

ADA nan tak biasa dari peluncuran Logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (12/9). Organisasi Islam nan berumur lebih dari satu abad ini memilih daun kelor, tumbuhan sebagai logonya.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, membalikkan stigma pepatah lama tersebut. Di tangannya, tanaman nan tumbuh subur di Palu, Sulawesi Tengah, tuan rumah Tanwir 2026, justru diposisikan sebagai miracle tree (pohon ajaib) nan menyimpan tiga daya hidup gerakan:

Pohon kelor berkarakter handal dan dapat tumbuh dengan mudah tanpa perawatan rumit. Ini merefleksikan karakter Muhammadiyah nan bersahaja namun adaptif, bukan sekadar gaya-gayaan populisme.

Kelor juga menjadi lambang keluasan wawasan, pemikiran, pergaulan, hingga daya jelajah organisasi. Selain itu, daun kelor dapat diolah menjadi nutrisi dan hidangan unik Nusantara. 

"Kelor adalah metafora aktivitas nan memberi faedah konkrit bagi kesejahteraan masyarakat, tegas dia.

Dalam kesempatan itu, Haedar membujuk seluruh kader Persyarikatan untuk melakukan "mi'raj pikiran", sebuah proses melompati pemaknaan lahiriah menuju kedalaman filsafat. Ia membedah logo tersebut melalui tiga kacamata makulat makna (philosophy of meaning):

Pertama, pendekatan makulat bahasa nan berangkaian dengan makna referensial. Melalui pendekatan ini, penduduk Muhammadiyah diajak memandang lebih jauh makna nan berada di kembali corak alias simbol nan dikreasikan.

Kedua, pendekatan ideasional nan memandang bahwa sebuah simbol lahir dari buahpikiran dan gagasan. Menurut Haedar, keahlian membaca simbol sangat berangkaian dengan keahlian melahirkan gagasan.

“Mereka nan banyak gagasannya, mereka itulah nan bisa melahirkan banyak simbol dan bisa memaknai simbolnya. Sebaliknya, mereka nan tidak ada pendapat dialah nan tidak bisa membaca simbol,” kata Haedar.

Ketiga, pendekatan eksistensialisme nan memandang Muhammadiyah sebagai eksistensi aktivitas Islam (Islamic Movement) nan di dalamnya menyertai prinsip pencerahan. Di poin ketiganya ini, dia kemudian mengaitkan dengan teori makulat eksistensialisme teistik nan memandang manusia sebagai makhluk nan mempunyai kebebasan sekaligus tanggung jawab dalam menjalani eksistensinya namun tidak terlepas dari urusan kepercayaan dan tuhannya.

“Dan ketaatan adalah penghubung antara eksistensi manusia dengan Tuhannya,” tegasnya.

Diakhir Haedar kembali menekankan pentingnya menjaga identitas organisasi (organizational identity). Identitas tersebut menjadi salah satu kunci agar Muhammadiyah bisa mempertahankan kekuatan, ketahanan, sekaligus relevansinya setelah lebih dari satu abad berkiprah.

Mengacu pada teori identitas organisasi Albert dan Whetten, Haedar menjelaskan setidaknya terdapat tiga unsur utama nan kudu dimiliki sebuah organisasi.

Pertama, nilai pokok alias sentral (central), ialah nilai nan menjadi inti pokok organisasi ialah Al Islam. Kedua, nilai nan kekal dan berkepanjangan (enduring), sehingga identitas organisasi tidak mudah berubah oleh pergantian zaman. Ketiga, nilai pembeda (distinctive) nan membikin organisasi mempunyai karakter unik dibandingkan organisasi lainnya.

“Organisasi kudu punya identitas nan nilainya kudu shalihun fi kulli era wa makan. Artinya, kudu bisa adaptif terhadap perkembangan era dan keadaan,” pesannya.

Karena itu, Haedar mengingatkan agar Muhammadiyah terus merawat nilai-nilai dasarnya sembari terus membuka dan mengikuti perubahan zaman. Dalam konteks ini nan perlu ditekankan adalah bahwa kemajuan tidak berfaedah kehilangan identitas, sebagaimana mempertahankan identitas tidak berfaedah menutup diri dari perkembangan zaman.

Ia menegaskan, Muhammadiyah kudu terus mempunyai pikiran, sikap, sumber daya, dan perspektif Islam nan maju. Seluruh komponen Persyarikatan perlu merawat nilai-nilai tersebut agar Muhammadiyah tetap menjadi aktivitas nan mempunyai value, sekaligus bisa menghadirkan estetika nan bermakna. (AT/Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia