Kemunculan teror ‘pocong’ di sejumlah wilayah Tangerang membikin geger warga. Meski demikian, keberadaannya tetap susah dipastikan.
Isu ini berkembang juga di wilayah Pinang, Kabupaten Tangerang dan diakui oleh para warga. Namun banyak dari mereka tidak mengetahuinya secara langsung.
Berdasarkan penelusuran kumparan pada Kamis (21/5), sejumlah penduduk mengatakan bahwa mereka mendengar rumor tersebut. Namun letak nan disebutkan mereka berbeda-beda.
Terdapat penduduk nan menyebut teror ini berada di Jalan Haji Rimpang. Namun penduduk di sana tak mengetahuinya dan menyebut wilayah lain, salah satunya di Kompleks Griya Tirtayasa.
Salah satu penduduk kompleks tersebut, David (23) menyebut jika teror tersebut terjadi wilayah temannya di Poris Jaya, Batuceper pada Selasa (19/5). Katanya, teror itu dilakukan berkelompok.
“Jadi satu orang jadi pocong, kelompoknya ini mencar, ngumpet. Waktu pocong ini ngetok-ngetok rumah warga, jika warganya takut dan lari (ke luar rumah), temen-temennya ini merampok ke rumahnya,” ucap Fauzan.
Fauzan juga mendengar pocong tersebut menggunakan senjata api (senpi) dengan kaki tidak terikat. Ia pun menunjukkan foto pocong nan dimaksud.
Foto itu bukan murni milik temannya. Melain dari status WA kawan lainnya. Foto tersebut dikatakan Fauzan berasal dari grup warga.
“Ini dari status temennya. Dia juga screenshot dari warga, terus diupdate lagi sama dia. Dapat dari grup RT. Dia lihat dari story karena ini dekat rumah dia,” tuturnya.
Kata Fauzan, ‘pocong’ itu kandas ditangkap oleh penduduk karena melarikan diri. Ia juga menembakkan senpinya ke atas.
“Kalau ini gak dapat soalnya dia lari. Nembakin pistolnya ke atas, terus lari. Karena dengar bunyi pistol, penduduk gak berani mengejar,” tungkasnya.
Sementara itu, keberadaan ‘pocong’ tersebut hanya diketahui penduduk Poris Jaya berasas rumor belaka. Ketua RT 04 RW 01 Poris Jaya, Saepul (51) membenarkan gambar pocong itu beredar di grup RT.
“Grup RT itu ada gambar pocong lagi berdiri di depan warung Madura,” ungkapnya.
Meski demikian, dia membantah keberadaan pocong tersebut. Sebab dia nyaris setiap malam Siskamling di kawasannya.
“Banyak nan nanya ‘emang bener di situ ada pocong?’, gak pernah ada. Karena saya nyaris setiap malam jaga begitu,” ujar Saepul.
Adapun foto tersebut dikirimkan oleh salah satu penduduk di grup tersebut. Pengirim juga menyampaikan dalam grup tersebut bahwa itu merupakan modus untuk melakukan tindakan kriminal.
Namun salah satu penduduk nan lain, Ilham (30) mengatakan foto tersebut tidak benar. Sebab ketika foto itu dikirimkan pada Selasa (19/5), dia sedang berada di titik nan sama dan tak melihatnya.
“Lagi nongkrong sampai pukul 04.00 subuh, gak ada pocong itu. Masih ramai di situ, jaraknya gak jauh. Waktu liat kaget ini foto dari mana lantaran saya di situ,” jelasnya.
Ketika dikonfirmasi kepada pengirimnya, Wono, menyebut bahwa fotonya diperoleh dari istrinya. Namun istrinya mengetahui dari anak tetangganya.
“Kemarin dari istri saya dikasih foto itu, istri saya langsung ngirim ke saya, saya ngirim ke grup RT. Cuman belum ketemu anaknya dari kemarin,” kata Wono.
Lalu Wono menyampaikan narasi bahwa perihal itu merupakan modus tindakan kiriminal lantaran mendengar ada kasus serupa di wilayah Pondok Bahar, Kota Tangerang.
“Dari tempat anak saya di Pondok Bahar itu sudah ketangkap pocongnya bawa senjata tajam. Anak saya diajak memandang (pocongnya), cuma, enggak berani,” ujarnya.
Sebelumnya, Polresta Tangerang telah merespons teror 'pocong' di sejumlah wilayah nan viral beredar di media sosial. Kapolresta Tangerang, Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah, mengimbau masyarakat tetap waspada, namun tetap tenang dan tidak panik.
"Tingkatkan kewaspadaan, namun tetap tenang dan tidak panik, serta tidak mudah percaya terhadap info nan belum tervalidasi dengan tidak menyebarkan berita nan belum jelas kebenarannya,” katanya, Selasa (19/5).
Muncul juga dugaan bahwa teror ini merupakan modus kejahatan seperti pencurian alias perampokan dan untuk menciptakan rasa takut di tengah masyarakat. Atas perihal ini, Indra menegaskan bakal meningkatkan patroli di pemukiman penduduk untuk memberikan rasa aman.
“Kami meningkatkan patroli. Selain itu, masyarakat juga didorong kembali mengaktifkan sistem keamanan lingkungan (siskamling) alias ronda malam sebagai langkah antisipasi menjaga keamanan lingkungan masing-masing," jelasnya.
Ia meminta agar masyarakat melapor jika memandang aktivitas mencurigakan alias meresahkan melalui layanan call center 110 nan aktif 24 jam.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·