Cerita Suster Katolik Selesaikan Pendidikan di UNUSA, Kampus Mayoritas Muslim

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta -

Seorang suster Katolik, Sr Yustina Klun Kolo, sukses menyelesaikan pendidikannya di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA). Yustina menyampaikan pengalamannya menempuh pendidikan di kampus nan kebanyakan mahasiswanya berakidah Islam.

Cerita itu disampaikan Yustina saat memberikan sambutan sebagai perwakilan wisudawan dalam aktivitas wisuda, Selasa (21/4/2026). Yustina merupakan lulusan Program Studi D4 Analis Kesehatan asal Kefamenanu/Wini, Nusa Tenggara Timur.

Dalam prosesi wisuda, dia tampil mengenakan jubah biarawati saat menyampaikan pidato di hadapan para wisudawan dan tamu undangan. Sebagai mahasiswa berakidah Katolik, Yustina mengaku sempat mempunyai kekhawatiran saat pertama kali menempuh pendidikan di Unusa. Namun, pengalaman nan dia rasakan justru berbeda dari bayangannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya merasakan langsung suasana kampus nan inklusif dan penuh toleransi. Interaksi dengan pengajar maupun teman-teman berjalan sangat baik, tanpa membedakan latar belakang," ungkap anak keempat dari tujuh berkerabat ini.

Ia juga mengungkapkan bahwa selama menjalani perkuliahan, dirinya tetap dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik, termasuk saat mempelajari mata kuliah berbasis keislaman.

"Saya belajar memahami nilai-nilai keislaman nan moderat, sekaligus pentingnya hidup berdampingan secara harmonis," katanya.

Menurut Yustina, sikap pengajar dan tenaga kependidikan nan ahli dan tidak diskriminatif turut mendukung kenyamanan mahasiswa dari latar belakang berbeda.

"Dosen dan tenaga kependidikan bersikap profesional, adil, dan tidak membeda-bedakan mahasiswa," jelas Yustina.

Pengalaman tersebut mencerminkan praktik toleransi dan inklusivitas di lingkungan kampus. Unusa sendiri menyatakan komitmennya dalam menciptakan lingkungan pendidikan nan terbuka bagi seluruh mahasiswa tanpa memandang latar belakang kepercayaan maupun budaya.

Selain itu, kampus juga terus mendorong penguatan nilai moderasi berakidah melalui kurikulum dan aktivitas akademik. Saat ini, Yustina diketahui telah bekerja di RSK Budi Rahayu, Blitar, sebagai corak pengabdian setelah menyelesaikan pendidikannya.

Ia berambisi nilai toleransi nan dia rasakan selama kuliah dapat terus diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

"Perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan nan memperkuat persatuan," ujarnya.

"Perbedaan agama, suku, dan budaya hendaknya menjadi sarana untuk saling mengenal dan menghargai, sehingga tercipta kehidupan nan tenteram dan harmonis," lanjut Yustina.

(eva/dhn)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News