Karena kondisi tanah labil, sebelum pembangunan dimulai, tanah kudu dipadatkan. Prosesnya dilakukan selama berbulan-bulan dengan menggunakan lempengan pelat beton.
Bangunannya dibuat dengan bangunan beton bertulang. Bentuknya memanjang sekitar 168–175 meter.
Bagian utama berada di tengah. Atapnya dibuat lebih tinggi dan dilengkapi kubah besar berbentuk persegi. Atap kubah tersebut dilapisi tembaga.
Di dalam gedung utama, visitor bisa menemukan hall dengan langit-langit tinggi. Ruangan ini ditopang empat kolom utama.
"Sepintas mirip dengan bagian tengah pendopo joglo (rumah budaya Jawa)," tulis Hadi M. Djuraid.
Detail lainnya juga tidak kalah menarik. Interior hall dihiasi relief perunggu karya pemahat Willem Brouwer dari Leiderdorp. Dahulu, terdapat tiga konter loket untuk melayani penumpang. Ada pula gerai nan menjual surat kabar dan buku.
Jendela-jendela di sekeliling kubah bukan sekadar pemanis. Jendela tersebut membantu menerangi hall sekaligus menjadi ventilasi udara.
Pencahayaan juga masuk melalui jendela pada kebinasaan gedung utama. Kacanya berasal dari perusahaan J. H. Schouten di Den Haag.
Di kedua sisi gedung utama terdapat bangunan besi berbentuk pelana. Konstruksi tersebut dibuat oleh Werkspoor di Amsterdam. Atapnya menggunakan genteng buatan Stoom Pannen Fabriek van Echt.
Pada masa kolonial, kedua sayap gedung mempunyai kegunaan berbeda. Sayap kanan digunakan untuk ruang tunggu kelas satu, ruang kepala stasiun, ruang sinyal, dan ruang operasional.
Sementara itu, sayap kiri menjadi ruang tunggu kelas dua dan tiga. Ruang tersebut pada masa kolonial diperuntukkan bagi pribumi. Tepatnya 1 Juni 1914, Stasiun Tawang resmi digunakan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·