Keberadaan tambang emas rakyat mendapat sorotan dari MIND ID, perihal ini lantaran hasil tambang tersebut terkadang susah untuk masuk rantai pasok formal. Hal ini berakibat baik bagi penerimaan negara sampai penambahan nilai tambah domestik.
Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin menjelaskan sulitnya hasil tambang emas rakyat masuk ke rantai pasok formal, salah satunya disebabkan oleh tidak adanya sistem pencarian tambang nan terintegrasi.
“Mengingat ketiadaan sistem keterlacakan alias traceability nan terintegrasi tetap menyebabkan sebagian produksi tambang rakyat susah masuk ke rantai pasok umum dan tidak terserap oleh akomodasi pemurnian nan memenuhi standar internasional, sebagaimana kita ketahui LBMA sehingga berpotensi mengurangi penerimaan negara dan nilai tambah domestik,” kata Maroef dalam MINDialoge di Energy Building, Jakarta, Rabu (12/8).
Maka dari itu, Maroef menilai tata kelola khususnya perihal tambang emas rakyat tetap kudu diperbaiki. Hal ini lantaran tata kelola nan ada sekarang belum efektif sehingga bisa memunculkan implikasi negatif baik bagi negara maupun industri.
“Dari sisi industri, aktivitas tambang rakyat tidak jarang merambah ke area izin konsesi perusahaan. Hal ini secara langsung mendisrupsi pengelolaan sumber daya dan persediaan nan secara norma merupakan tanggung jawab perusahaan,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa perbaikan tata kelola khususnya di sektor emas memang penting. Hal ini lantaran dia menilai emas mempunyai karakter berbeda daripada mineral lainnya utamanya soal wilayah sebaran.
Ia memberi contoh bahwa untuk timah, sebarannya sudah diketahui di sekitar Bangka, Belitung dan Kepulauan Riau. Begitupun untuk nikel nan sebarannya ada di Sulawesi sampai Maluku. Hal itu berbeda dengan emas.
“Tetapi jika emas, jika kita lihat posisi Indonesia, mulai dari ujung paling barat di Aceh sampai di ujung paling timur di Papua, semua tanah kita ada emas. Susah untuk mengontrol kekayaan alam, sumber daya mineral emas. Di utara, Kalimantan sampai ke selatan Pulau Jawa juga bisa didapat emas,” kata Maroef.
Emas Produksi dalam Negeri Bisa Perkuat Cadangan Devisa Negara
Di sisi lain, dia memandang saat ini signifikansi emas semakin kuat. Selain lantaran nilai ekonominya tinggi, emas juga merupakan bagian dari persediaan internasional nan digunakan semua negara.
Untuk itu, dia juga mendorong agar emas dalam negeri juga bisa memperkuat persediaan devisa negara.
“Oleh lantaran itu, emas merupakan produksi dalam negeri nan berpotensi menjadi sumber aset strategis nan dapat mendukung penguatan persediaan devisa negara sesuai dengan kebijakan serta kepentingan Bank Indonesia,” ujarnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·