Liputan6.com, Jakarta - Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI), Jimly Asshiddiqie meneritakan pengalamannya saat berhadapan dengan mahasiswa dari kalangan abdi negara penegak hukum.
Kejadian tersebut diungkapkan Jimly saat memberikan sambutan dalam aktivitas peluncuran kitab 'Etika nan Melembaga' di Gedung Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP), Jakarta, Jumat (17/4).
Di hadapan tamu undangan, Mantan Ketua Mahkamah Konsitusi (MK) ini menceritakan momen saat mengajar di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK).
"Satu hari saya ngasih ngajar di PTIK. Oh, ada mahasiswa ini. Buku saya. Saya tanya, Anda belinya berapa itu? Ternyata mereka fotocopy," kata Jimly dalam sambutannya.
Melihat realita bukunya digandakan secara terlarangan oleh calon perwira polisi, Jimly tak segan memberikan teguran keras. Dia heran lantaran pelanggaran norma justru dilakukan oleh pihak nan semestinya menjadi garda terdepan dalam menegakkan patokan di masyarakat.
"Lailahailallah, Anda polisi. Kamu ini melanggar hukum. Kamu bagaimana? Ya, maaf Prof maaf," ujar Jimly menirukan reaksi mahasiswa tersebut.
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini menyadari, argumen ekonomi seringkali menjadi motif utama di kembali maraknya praktik fotokopi kitab secara ilegal. Harga kitab original nan dianggap mahal dibandingkan dengan jasa penggandaan menjadi tantangan besar bagi para penulis dan industri publikasi di Indonesia.
"Ternyata lebih murah fotocopy itu. Nah, itulah nasib penulis buku. Ya kan?," tuturnya.
Meski sempat merasa miris dengan nasib penulis, Jimly menegaskan, dirinya tidak berkecil hati. Baginya, penyebaran pengetahuan pengetahuan dan buahpikiran tetap menjadi prioritas utama, terutama melalui tradisi peluncuran kitab nan dilakukan di setiap momentum krusial seperti pertambahan usia.
"Nah, tapi tidak apa-apa, saudara. Kita baik sekali ini membikin tradisi peringatan dengan ide. nan ada di kitab ini," ungkapnya.
Jimly mau memastikan bahwa pemikiran-pemikirannya tetap terjaga dan diteruskan oleh generasi berikutnya.
"Dan juga regenerasi estafet kepemimpinan, estafet ide. Supaya buahpikiran jangan hilang," tegas laki-laki nan baru saja menginjak usia 70 tahun tersebut.
Jimly berharap, pengarsipan dalam corak kitab dapat menjadi rujukan bagi masa depan tata negara Indonesia. Mengingat rekam jejaknya nan panjang dalam membangun institusi-institusi baru di Indonesia, dia merasa mempunyai tanggungjawab moral untuk mewariskan pendapat tersebut.
Reporter: Nur Habibie/merdeka.com
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·