.(MI/Lina Herlina)
PT PLN (Persero) memproyeksikan beban puncak kelistrikan di Sulawesi Selatan (Sulsel) bakal melonjak menjadi 2.895 Megawatt (MW) pada 2034, tumbuh rata-rata 6,2% per tahun.
Untuk mengantisipasi lonjakan ini sekaligus menjawab kebutuhan industri hilirisasi, PLN mengakselerasi pembangunan prasarana listrik masif melalui tambahan kapabilitas pembangkit 920 MW dan jaringan transmisi sepanjang 876 kilometer sirkuit (kms) nan tersebar hingga wilayah pelosok.
Di tengah proyek ambisius ini, PLN juga menegaskan bahwa rumor kenaikan tarif listrik dan kelangkaan batu bara adalah tidak benar.
PT PLN (Persero) melalui Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi secara resmi memulai penerapan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) periode 2025-2034 di wilayah Sulawesi Selatan.
Langkah strategis ini diambil menyusul prediksi peningkatan jumlah pengguna nan mencapai 4,1 juta jiwa pada akhir dasawarsa mendatang, dengan pertumbuhan konsumsi listrik rata-rata 3,7% per tahun.
Senior Manager Perencanaan PLN UIP Sulawesi, Misdjan Endang Subrata, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan bauran daya dari pembangkit non-Energi Baru Terbarukan (EBT) maupun EBT untuk menjaga stabilitas pasokan.
Dari sektor non-EBT, PLN membangun pembangkit berkapasitas dominan 920 MW nan berasal dari teknologi gas, uap, dan mesin gas guna menjamin beban dasar (base load) sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel).
Proyek konkret nan tengah digarap antara lain Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Subangsel di area industri Bantaeng, serta Mobile Power Plant (MPP) Indonesia 1 di Punagaya, Jeneponto, nan difokuskan untuk memperkuat sistem kelistrikan di wilayah tersebut.
"Kami juga memastikan keadilan daya bagi masyarakat di Kepulauan Selayar dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Selayar," ujar Misdjan.
Sementara itu, untuk mendukung transisi daya hijau, PLN mengembangkan pembangkit EBT berbasis air dengan memanfaatkan wilayah aliran sungai (DAS).
Proyek tersebut meliputi penambahan kapabilitas pada PLTA Bakaru nan sudah beraksi menjadi PLTA Bakaru 2, serta pembangunan PLTA Pokko di aliran sungai nan sama.
Dari sisi transmisi, PLN membangun prasarana skala besar nan dijuluki Koridor 1 Backbone Selatan. Proyek ini berupa Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 275 kV nan menghubungkan lima Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) utama di Sulsel dengan total panjang jalur 876,03 kms dan 1.102 menara tower.
Rinciannya meliputi jalur Palopo–Bakaru 2 sepanjang 210 kms (263 tower), Sidrap–Daya Baru sepanjang 312,99 kms (394 tower), serta Daya Baru–Bantaeng sepanjang 222,50 kms (279 tower).
Untuk menjangkau wilayah terpencil, PLN juga membangun Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) di beberapa titik strategis, seperti SUTT Punagaya-Bantaeng guna menghubungkan penguatan pembangkit, serta SUTT Polman-Mamasa nan secara unik ditargetkan untuk mengaliri listrik ke wilayah Mamasa nan selama ini tetap menggantungkan diri pada pembangkit diesel (PLTG).
Selain itu, SUTT Soppeng-Bengo dibangun untuk memperkuat ketahanan listrik di sisi selatan Sulsel.
Misdjan mengakui bahwa proyek sebesar ini tidak luput dari tantangan, terutama pada tahap pra-konstruksi nan mencakup perizinan, pembebasan lahan, dan kompensasi.
"Kami mengerti bakal terjadi kesinggungan dengan masyarakat, terutama soal lahan. Namun semua ini kami lakukan untuk kebutuhan bersama, bukan kepentingan PLN semata. Ini adalah upaya menuju swasembada daya nan dirasakan seluruh masyarakat," tegasnya.
General Manager UIP Sulawesi, I Gusti Made Aditya San Adinatha, menambahkan bahwa keandalan pasokan listrik menjadi fondasi utama untuk menarik investasi dan menggenjot industri hilirisasi di Sulawesi, khususnya Sulsel.
"Terwujudnya pasokan listrik nan andal menjadi aspek krusial dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nan berkelanjutan," katanya.
Klarifikasi
Di tengah gencarnya pembangunan, beredar rumor di masyarakat mengenai rencana kenaikan tarif listrik dan menipisnya stok batu bara. Menanggapi perihal itu, Manager Komunikasi dan TJSL PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat (UID Sulselrabar), Ahmad Amirul Syarif, membantah keras info tersebut.
"Sampai dengan saat ini belum ada kenaikan tarif listrik, baik untuk pengguna Prabayar maupun Pascabayar. Insyaallah, pasokan batu bara untuk sistem Sulbagsel juga tetap dalam kondisi aman," singkat Amirul. (LN/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·