Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan mengalami erupsi sejak semalam. Kamera pengawas (CCTV) Gunung Anak Krakatau rusak akibat terkena lontaran material erupsi.
"Kamera CCTV pengamatan di lapangan dilaporkan tidak beraksi setelah terkena lontaran material vulkanik," kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Sabtu (5/9/2026).
Terakhir, CCTV menjepret aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pukul 01.01 WIB saat terjadi kejadian lava fountain alias lava air mancur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Erupsi Gunung Anak Krakatau tetap berjalan sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB hingga pagi. Erupsi juga disertai terdengarnya dentuman dan bunyi gemuruh dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran.
"Terdengarnya dentuman dan bunyi gemuruh dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau menjadi bagian dari aktivitas erupsi nan tetap berlangsung. Masyarakat diminta tidak mendekati area gunung api untuk memandang aktivitas erupsi maupun mengambil gambar alias video, mengingat tetap terdapat potensi lontaran material dari kawah aktif," imbaunya.
Dari sisi kegempaan, tercatat satu kejadian letusan dengan amplitudo 70 milimeter dan lama nan tercatat dalam laporan selama 21.600 detik. Kondisi cuaca di sekitar gunun gapi berawan hingga mendung, dengan angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat laut.
Potensi Tsunami Relatif Rendah
Berton mengatakan pemerintah memberi perhatian soal kekhawatiran masyarakat, khususnya nan tinggal di wilayah pesisir Banten dan Lampung terhadap potensi tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kekhawatiran tersebut juga tidak terlepas dari pengalaman masyarakat terhadap peristiwa tsunami pada 22 Desember 2018 nan berangkaian dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
"Berdasarkan hasil pertimbangan nan dilakukan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau nan terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 tetap relatif mini dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala nan dapat memicu tsunami. Oleh karena itu, diharapkan kepada masyarakat agar tidak panik," katanya.
Meski demikian, PVMBG tetap melakukan pemantauan secara intensif terhadap perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau. Masyarakat diminta tetap mengikuti info dan rekomendasi resmi dari PVMBG serta tidak mengambil konklusi sendiri berasas aktivitas visual maupun bunyi dentuman nan terdengar.
Masyarakat Diminta Pantau Perkembangan Info
Berdasarkan laporan aktivitas Gunung Anak Krakatau periode pengamatan Sabtu (5/9) pukul 00.00-06.00 WIB, erupsi tetap berjalan dan secara visual diinterpretasikan sebagai kejadian lava fountain alias lava air mancur nan teramati pada malam hari. Dalam pemantauan visual, gunung api teramati jelas hingga tertutup kabut dengan tingkat kabut 0-III, sementara asap kawah tidak teramati.
Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level III (Siaga). PVMBG melalui Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merekomendasikan masyarakat, pengunjung, visitor maupun pendaki untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau alias melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
BNPB berbareng PVMBG dan BPBD menekankan bahwa kewaspadaan perlu melangkah beriringan dengan ketenangan. Masyarakat, khususnya nan berada di wilayah pesisir Banten dan Lampung, tidak perlu panik terhadap rumor tsunami, namun tetap perlu mengikuti perkembangan info resmi. Pemerintah terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau dan bakal menyampaikan info andaikan terdapat perubahan kondisi nan perlu diketahui masyarakat.
Dalam menghadapi aktivitas erupsi, BNPB menekankan tiga perihal utama. Pertama, keselamatan masyarakat menjadi prioritas sehingga pemerintah wilayah berbareng unsur mengenai perlu memastikan tidak ada masyarakat maupun visitor nan berada dalam radius bahaya. Pengawasan dan patroli di area tersebut perlu terus diperkuat untuk mencegah masyarakat memasuki area terlarang.
Kedua, kesiapsiagaan perlu ditingkatkan. Pemerintah wilayah berbareng BPBD dan unsur mengenai diharapkan memastikan jalur evakuasi, titik kumpul, sarana komunikasi serta kebutuhan dasar masyarakat siap digunakan andaikan terjadi perubahan aktivitas nan memerlukan langkah evakuasi.
Ketiga, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi setiap pengarahan petugas. Masyarakat tidak perlu mendekati area gunungapi hanya untuk menyaksikan alias mendokumentasikan erupsi. Informasi nan belum terverifikasi, termasuk mengenai potensi tsunami, juga sebaiknya tidak disebarluaskan lantaran dapat menimbulkan kepanikan.
"BNPB berbareng pemerintah wilayah dan unsur mengenai terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. PVMBG juga bakal melakukan pertimbangan secara berkala maupun sewaktu-waktu andaikan terdapat perubahan signifikan pada aktivitas maupun morfologi gunungapi," tuturnya.
Masyarakat dapat memperoleh info resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui Badan Geologi, PVMBG, pemerintah daerah, BNPB, serta kanal resmi kebencanaan lainnya.
(jbr/dhn)
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·