Cara Mendidik Anak agar Berani dan Percaya Diri Versi teman kumparanMOM

Sedang Trending 58 menit yang lalu
Ilustrasi Ibu dan Anak. Foto: Prostock-studio/Shutterstock

Setiap orang tua tentu mau memandang buah hati tumbuh menjadi pribadi percaya diri dan berani menghadapi beragam situasi. Sebab, sifat pemberani merupakan fondasi krusial bagi tumbuh kembang anak di masa depan.

Dikutip dari laman Raising Children Network, anak nan percaya diri dan berani condong lebih mudah menyesuaikan diri dengan perubahan, mempunyai keahlian sosial nan baik, serta bisa menghadapi rintangan. Mereka juga lebih termotivasi untuk mencoba dan mempelajari hal-hal baru.

Terlebih saat memasuki usia sekolah, anak bakal berjumpa lingkungan baru nan memerlukan mental kuat untuk beradaptasi. Karena itu, nggak heran jika banyak orang tua nan berupaya membangun karakter pemberani pada anak sejak dini, termasuk sejumlah kawan kumparanMOM.

Ingin tahu seperti apa langkah nan mereka lakukan untuk menumbuhkan sikap berani pada anak? Yuk, simak cerita lengkapnya di bawah ini!

Tips Melatih Keberanian Anak

Ilustrasi ibu dan anak. Foto: Thinkstock

Salah satu member kawan kumparanMOM Hebat Squads, Anita (35), beranggapan bahwa rasa berani menjadi karakter krusial nan perlu dimiliki anak, terutama di tengah tantangan era sekarang.

Menurutnya, ada beberapa sikap nan perlu mulai ditanamkan sejak dini, antara lain:

  • Berani mempertahankan kewenangan diri sendiri

  • Berani meminta maaf saat melakukan salah

  • Berani menerima kritik

  • Berani belajar memperbaiki diri

  • Mampu menurunkan ego

Bagi Mom Anita, beragam sikap tersebut perlu diajarkan sejak awal lantaran nggak sedikit orang dewasa nan tetap kesulitan melakukannya. Karena itu, dia mau sang anak nan sekarang berumur 5 tahun bisa mulai belajar memahami makna keberanian.

Ilustrasi Ibu dan Anak Foto: Manop Boonpeng/Shutterstock

Di sisi lain, kawan kumparanMOM Hebat Squads Oktaviani Tarigan (34), punya pandangan nan lebih spesifik tentang keberanian nan perlu dimiliki anak.

Selain concern terhadap perkembangan sosialisasi sang anak, Mom Oktaviani juga selalu menekankan agar anaknya berani menyampaikan pendapat dan menolak hal-hal nan bertentangan dengan dirinya.

“Berani berbicara tidak, berani mengungkapkan pendapat, berani bilang jika ada sesuatu nan membikin nggak nyaman, berani pukul kembali jika ada anak nan pukul, asal jangan dia nan memulai,” katanya.

Menurut Mom Oktaviani, sikap-sikap tergas tersebut bisa menjadi bekal agar anak bisa menjaga diri, memahami batas diri, dan siap menghadapi beragam situasi di masa depan.

Dikutip dari laman Kids Health, anak nan diajarkan untuk menyampaikan rasa nggak nyaman condong lebih bisa menjaga diri, mengungkapkan perasaan, dan terhindar dari tekanan sosial nan nggak sehat.

Ilustrasi Ibu dan Anak. Foto: Selfmade studio/Shutterstock

Pandangan berbeda justru datang dari kawan kumparanMOM Squad 3, Olga (31). Ia beranggapan bahwa menanamkan sikap berani pada anak bukanlah perihal nan paling utama.

Sebab, ada banyak situasi nan sebenarnya belum semestinya dihadapi sendiri oleh anak lantaran tetap berada di luar kendali mereka. Bagi Mom Olga, keberanian tetap penting, tetapi anak juga kudu tahu kapan perlu mencari support dari orang dewasa di sekitarnya.

Di samping itu, ada keahlian lain nan menurutnya jauh lebih krusial untuk ditanamkan sejak kecil. “Kemampuan membedakan kapan waktunya kudu berani dan kapan saatnya mundur lantaran risikonya lebih tinggi. Itu menurutku lebih penting,” tuturnya.

Dalam perihal ini, menurutnya peran orang tua maupun orang dewasa di sekitar anak, seperti guru, sangat krusial untuk menjadi safe space bagi mereka. Dengan begitu, anak bakal merasa lebih kondusif untuk bercerita, meminta bantuan, dan menghadapi beragam situasi tanpa merasa sendirian.

Temukan beragam inspirasi parenting dari ribuan ibu di seluruh Indonesia, gabung organisasi kawan kumparanMOM di kum.pr/mom4

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan