Perry Warjiyo Yakin Rupiah Bisa Menguat ke Rp 16.500, Ini Strateginya BI

Sedang Trending 43 menit yang lalu
Karyawan memperlihatkan duit pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata duit asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Bank Indonesia (BI) optimistis nilai tukar rupiah bakal kembali menguat dalam beberapa bulan ke depan meski saat ini tetap berada dalam tekanan global. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang tahun tetap diyakini berada dalam kisaran dugaan makro nan telah disepakati pemerintah dan DPR, ialah Rp 16.200-Rp 16.800 per dolar AS.

Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Perry menjelaskan tekanan terhadap rupiah saat ini lebih dipengaruhi aspek eksternal dan kebutuhan musiman (seasonal), bukan lantaran pelemahan esensial ekonomi domestik.

Menurutnya, tekanan terhadap mata duit domestik biasanya meningkat pada periode April hingga Juni seiring tingginya kebutuhan devisa untuk pembayaran dividen, utang luar negeri, hingga kebutuhan perjalanan haji.

“Nilai fundamentalnya berapa? Average of the year Rp 16.500, kisaran bawahnya Rp 16.200 kisaran atasnya Rp 16.800,” kata Perry dalam Rapat Kerja Komisi XI, Senin (18/5).

Ia sepakat pergerakan rupiah saat ini tetap berada di bawah nilai wajarnya (undervalue), tapi tetap percaya kurs rupiah bakal kembali bergerak menuju kisaran nan sesuai dengan esensial ekonomi nasional.

Keyakinan tersebut didasarkan pada proyeksi pertumbuhan ekonomi, inflasi, hingga kondisi neraca pembayaran Indonesia. Selain itu, BI juga memperkirakan tekanan permintaan dolar bakal mereda memasuki semester II tahun ini.

Gubernur BI Perry Warjiyo (tengah) berbareng Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti (kiri), dan Deputi Gubernur BI Aida Budiman (kanan) mengikuti raker dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Untuk mendorong penguatan rupiah, BI menyiapkan sejumlah strategi utama nan saat ini sudah dijalankan secara bertahap.

Langkah pertama adalah meningkatkan intervensi di pasar kurs asing. BI mengaku telah meningkatkan “dosis” intervensi baik di pasar domestik maupun internasional untuk menahan gejolak kurs.

Meski intensitas intervensi meningkat, Perry memastikan persediaan devisa (cadev) Indonesia tetap berada dalam posisi aman. Ia menyebut posisi persediaan devisa memang menurun akibat intervensi, tetapi tetap jauh di atas standar kecukupan internasional.

“Kami pastikan persediaan devisa lebih dari cukup. Ukurannya apa? Ada IMF. IMF itu ada parameter kecukupan persediaan devisa,” kata Perry.

Ia melanjutkan, rasio kecukupan persediaan devisa Indonesia memang turun dari sebelumnya sekitar USD 121 miliar menjadi USD 114 miliar. Namun nomor tersebut tetap di atas periode pemisah minimum.

“Dulu pernah USD 121 miliar, sekarang USD 114 miliar. Tapi tetap di atas USD 100 miliar. Masih lebih dari cukup,” ujarnya.

Selain intervensi valas, BI juga meningkatkan instrumen moneter melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik kembali aliran modal asing ke dalam negeri.

Perry mengungkapkan strategi tersebut mulai menunjukkan hasil. Pada April hingga awal Mei 2026, instrumen SRBI tercatat mengalami aliran modal masuk (inflow) sebesar Rp 75,31 triliun.

BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder guna menjaga kecukupan likuiditas rupiah di pasar keuangan.

Petugas penukaran duit menghitung duit Rupiah di sebuah gerai penukaran mata duit di Jakarta (12/5/2026). Foto: Bay Ismoyo/AFP

Langkah lainnya adalah memperketat pembelian dolar tanpa underlying transaksi. Mulai April, pemisah pembelian diturunkan dari USD 100 ribu menjadi USD 50 ribu dan bakal kembali dipangkas menjadi USD 25 ribu pada Juni mendatang.

Di sisi lain, BI juga mempercepat penggunaan transaksi mata duit lokal alias Local Currency Transaction (LCT), khususnya dengan China. Transaksi langsung rupiah-yuan disebut terus meningkat untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Perry menegaskan BI bakal tetap mengedepankan kebijakan nan berfokus pada stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian dunia nan tetap tinggi.

“Kami meyakini bahwa Rupiah ke depan bakal menguat. Sekarang ini dalam tekanan, under value lantaran globalnya nan tadi kami sampaikan dan juga ada seasonal payment April, May, Juni. Dan insya Allah kelak Juli dan itu bakal menguat,” kata Perry.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan