Cadangan Sawit Malaysia Naik tapi Ekspornya Turun, China-India Lebih Lirik RI

Sedang Trending 3 jam yang lalu
Ilustrasi perkebunan sawit di Malaysia. Foto: ashadhodhomei/Shutterstock

Persediaan minyak sawit Malaysia meningkat dengan laju tercepat dalam lima bulan terakhir. Berdasarkan info nan dirilis Malaysian Palm Oil Board (MPOB) pada Rabu (10/6), stok minyak sawit berada di 2,43 juta ton pada Mei 2026, naik 5,2 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan itu lebih dari dua kali lipat dibandingkan perkiraan survei Bloomberg nan memperkirakan kenaikan sebesar 2,2 persen. Peningkatan stok ini terjadi akibat perlambatan tajam pengiriman ke luar negeri, lantaran pembeli beranjak ke pasokan minyak sawit Indonesia nan lebih murah setelah pemerintah Indonesia merombak sistem ekspor komoditas strategisnya.

Mengutip Bloomberg, ekspor minyak sawit Malaysia turun sekitar 14 persen menjadi 1,11 juta ton, level terendah dalam satu tahun. Penurunan ini lebih besar dibandingkan perkiraan pasar nan memperkirakan kontraksi sebesar 6,2 persen.

Sebelumnya, terdapat ekspektasi mengenai perubahan kebijakan ekspor Indonesia nan diumumkan pada akhir bulan lampau bakal mengalihkan permintaan ke Malaysia. Namun, kondisi tersebut belum terjadi. Sebaliknya, pembeli di pasar utama seperti India dan China justru meningkatkan pembelian pasokan dari Indonesia nan menawarkan nilai lebih kompetitif.

Persaingan antara kedua negara produsen minyak sawit tersebut diperkirakan bakal semakin ketat dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini terjadi lantaran eksportir Indonesia berupaya mempercepat pengiriman sebelum sistem ekspor nan dikendalikan negara diterapkan secara penuh.

Indonesia, nan memasok lebih dari separuh kebutuhan minyak sawit dunia, mulai memasuki masa transisi kebijakan ekspor satu pintu melalui BUMN ekspor baru pada bulan ini. Pemerintah tetap menyempurnakan beragam aspek operasional kebijakan tersebut dan bakal melakukan pertimbangan dalam tiga bulan mendatang.

Untuk sementara waktu, perusahaan tetap diperbolehkan melakukan transaksi ekspor seperti biasa. Kondisi ini mendorong produsen dan eksportir untuk mempercepat penjualan dan pengiriman sebelum patokan nan lebih ketat diberlakukan.

Sementara itu, produksi minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) Malaysia pada Mei turun 7 persen menjadi 1,52 juta ton. Angka ini lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar nan memperkirakan penurunan sebesar 4,9 persen. Data MPOB juga menunjukkan impor minyak sawit Malaysia ambruk 42 persen menjadi 43.816 ton pada periode nan sama.

Pelaku pasar sekarang menantikan info survei pengiriman kargo Malaysia untuk 10 hari pertama Juni nan dijadwalkan dirilis pada Rabu (10/6). Data tersebut bakal menjadi petunjuk awal mengenai respons pembeli terhadap patokan ekspor baru nan diterapkan Indonesia.

video story embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan