Bukan Sekadar Kebiasaan, Ini Alasan Berhenti Merokok Terasa Sulit 

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Bukan Sekadar Kebiasaan, Ini Alasan Berhenti Merokok Terasa Sulit  Ilustrasi(Magnific)

BERHENTI merokok bukanlah perihal nan mudah bagi sebagian orang. Ketika seseorang mau meninggalkan kebiasaan jelek tersebut, nikotin nan selama ini dikonsumsi untuk menghilangkan stres alias mencari rasa senang dapat menimbulkan kecanduan sehingga kebiasaan merokok menjadi susah untuk dilepaskan.

Nikotin Memicu Kecanduan

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), nikotin merupakan unsur adiktif utama dalam tembakau nan membikin seseorang susah berakhir merokok. Rokok dirancang untuk mengantarkan nikotin ke otak dengan sangat cepat. 

Di dalam otak, nikotin memicu pelepasan unsur kimia nan menimbulkan rasa senang. Karena bagian otak tersebut terus-menerus dirangsang nikotin, otak bakal menjadi terbiasa dengan keberadaan unsur tersebut. 

Seiring waktu, nikotin mengubah langkah kerja otak sehingga seseorang merasa memerlukan nikotin hanya untuk dapat merasa baik-baik saja.

Saat seseorang berakhir merokok, otak menjadi lebih mudah terangsang. Akibatnya, dapat muncul beragam indikasi seperti rasa cemas, mudah marah, susah berkonsentrasi, susah tidur, kemauan nan sangat kuat untuk merokok, hingga rasa tidak nyaman secara umum. 

Sulit berakhir merokok

CDC menambahkan jika kecanduan nikotin dapat terjadi oleh kebiasaan sehari hari. Kebiasaan itu  dapat membikin seseorang susah berakhir merokok. 

Banyak orang mengaitkan kebiasaan merokok dengan beragam aktivitas nan dilakukan sepanjang hari, seperti saat beristirahat, minum secangkir kopi, selesai makan, mengobrol dengan teman, alias menggunakan telepon. 

Aktivitas-aktivitas tersebut dikenal sebagai pemicu (triggers) nan dapat menimbulkan kemauan untuk merokok.

Tidak hanya aktivitas sehari-hari, emosi juga dapat menjadi pemicu munculnya kemauan untuk merokok. Seseorang dapat terdorong untuk merokok ketika merasa stres alias sedih, apalagi saat merasa senang alias rileks. Karena itu, ketika berakhir merokok, beragam aktivitas maupun emosi tersebut dapat kembali memicu kemauan untuk merokok.

Cara meningkatkan kesempatan berakhir merokok

CDC menjelaskan bahwa kesempatan berakhir merokok dapat meningkat jika dilakukan dengan support dan metode nan tepat. Seseorang dapat mengikuti konseling secara perseorangan maupun kelompok, dan memanfaatkan jasa berakhir merokok (quitline).

Selain itu, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan juga dapat membantu menentukan metode berakhir merokok nan paling sesuai. Dokter alias tenaga kesehatan dapat memberikan rekomendasi perawatan serta menghubungkan pasien dengan program dan jasa pendukung agar kesempatan berakhir merokok menjadi lebih besar.

Meski berakhir merokok tidak mudah, support nan tepat, konseling, dan pengobatan dapat membantu meningkatkan kesempatan seseorang untuk sukses berakhir merokok secara permanen  (Centers for Disease Control and Prevention/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia