Bukan Sekadar Berat Badan Naik, Ini Dampak Konsumsi GGL Berlebih pada Remaja

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Bukan Sekadar Berat Badan Naik, Ini Dampak Konsumsi GGL Berlebih pada Remaja Ilustrasi(Magnific)

KONSUMSI gula, garam, dan lemak (GGL) secara berlebihan menjadi salah satu aspek nan berkontribusi terhadap meningkatnya kasus obesitas pada anak dan remaja. Kondisi ini sekarang menjadi perhatian serius lantaran tidak hanya memengaruhi penampilan, tetapi juga berakibat pada kesehatan jangka panjang.

Perubahan pola hidup, terutama meningkatnya konsumsi makanan dan minuman tinggi GGL serta menurunnya aktivitas fisik, turut mendorong kenaikan nomor obesitas pada golongan usia muda.

Saat ini, beragam makanan dan minuman tinggi kalori semakin mudah ditemukan dan dikonsumsi sehari-hari. Mulai dari minuman berpemanis, kopi susu kekinian, minuman bersoda, makanan sigap saji, camilan kemasan, hingga gorengan menjadi pilihan nan digemari banyak anak dan remaja.

Padahal, sebagian besar makanan dan minuman tersebut mengandung kalori tinggi, tetapi rendah serat serta unsur gizi krusial nan dibutuhkan tubuh. Jika dikonsumsi secara berlebihan tanpa diimbangi aktivitas bentuk nan cukup, kelebihan daya bakal disimpan dalam corak lemak dan menyebabkan peningkatan berat badan.

GGL Berlebih Dapat Mengganggu Kesehatan Tubuh

Mengutip dari laman Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Aceh, konsumsi gula berlebih dapat meningkatkan jumlah kalori harian secara signifikan. Sementara itu, tingginya kandungan garam dan lemak dalam makanan olahan juga dapat memengaruhi keseimbangan metabolisme tubuh.

Dalam jangka panjang, pola makan tinggi GGL tidak hanya meningkatkan akibat obesitas, tetapi juga berangkaian dengan beragam penyakit tidak menular. Remaja nan mengalami obesitas diketahui mempunyai akibat lebih tinggi terkena glukosuria melitus jenis 2, hipertensi, penyakit jantung, stroke, hingga gangguan pernapasan.

Dampaknya juga tidak terbatas pada kesehatan fisik. Obesitas pada remaja dapat memengaruhi kondisi psikologis, seperti menurunnya rasa percaya diri, munculnya emosi rendah diri, hingga meningkatkan akibat depresi.

Selain itu, kelebihan berat badan nan terjadi sejak usia muda berpotensi bersambung hingga dewasa. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak dan remaja nan mengalami obesitas condong tetap mengalami kelebihan berat badan saat dewasa andaikan tidak mendapatkan penanganan dan perubahan style hidup nan tepat.

Perlu Pola Makan Sehat dan Aktivitas Fisik

Untuk mencegah obesitas dan akibat kesehatannya, Dinkes Aceh menganjurkan masyarakat, khususnya anak dan remaja, untuk menerapkan pola makan bergizi seimbang. Gizi berimbang sesuai pedoman Isi Piringku. 

Kebiasaan memperbanyak konsumsi buah dan sayuran, membatasi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, serta mengurangi minuman berpemanis menjadi langkah sederhana nan dapat dilakukan sejak dini.

Selain menjaga pola makan, aktivitas bentuk juga memegang peranan krusial dalam menjaga berat badan tetap ideal. Anak dan remaja dianjurkan melakukan aktivitas bentuk setidaknya 60 menit setiap hari. Kegiatan tersebut dapat berupa olahraga, melangkah kaki, bersepeda, bermain di luar ruangan, maupun aktivitas lain nan membikin tubuh aktif bergerak.

Selain itu, upaya mencegah obesitas tidak dapat dilakukan oleh remaja seorang diri. Keluarga mempunyai peran besar dalam membentuk kebiasaan hidup sehat melalui penyediaan makanan bergizi di rumah dan pembatasan konsumsi makanan ultra-proses.

Orang tua juga diimbau menjadi contoh dalam menerapkan pola makan sehat dan style hidup aktif sehingga kebiasaan tersebut dapat ditiru oleh anak. (Dinkes Aceh/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia