Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah sekarang sedang menyiapkan produk bahan bakar memasak baru sebagai sumber daya pengganti untuk menggantikan Liquefied Petroleum Gas (LPG). Pasalnya, kebanyakan pasokan LPG saat ini tetap berjuntai pada impor.
Di tengah kondisi ketidakpastian geopolitik bumi saat ini, ditambah dengan terganggunya rantai pasok daya global, membikin Indonesia kudu memikirkan pengganti sumber daya dan tentunya mengurangi ketergantungan pada pasokan daya dari luar negeri.
Perlu diketahui, kebutuhan LPG dalam negeri mencapai 8,6 juta ton per tahun, tapi pemerintah hanya bisa memproduksi di dalam negeri 1,6-1,7 juta ton, artinya sisanya tetap mengandalkan impor. Jika dihitung, porsi impor LPG dalam negeri bisa mencapai 80-84% dari kebutuhan dalam negeri.
Lantas, kenapa impor LPG RI kudu sebesar itu? Bukan kah Indonesia mempunyai sumber daya gas bumi nan besar?
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan, hambatan utama produksi LPG domestik terletak pada kandungan gas alam Indonesia nan minim kandungan C3 (propana) dan C4 (butana) sebagai bahan baku utama LPG.
Sebaliknya, persediaan gas bumi Indonesia lebih didominasi oleh jenis C1 (metana) dan C2 (etana) nan sangat melimpah dan tersebar di seluruh lapangan migas RI, namun lebih cocok dikonversi menjadi gas pipa alias gas alam terkompresi (Compressed Natural Gas/ CNG).
Dengan lebih besarnya kandungan C1 dan C2 di dalam migas RI, maka pemerintah kini memutuskan untuk mengembangkan gas ini menjadi CNG.
"Masalahnya adalah pertanyaan nan selalu saya dapat info kenapa kita tidak membikin LPG dalam negeri? Padahal kita gas melimpah. Gas kita nggak pernah impor lagi lho. Gas itu sudah semuanya industri dalam negeri. nan kita apalagi kita ekspor 30% dari total lifting gas kita. Cuman kenapa LPG kita impor? Karena LPG itu bahan bakunya C3, C4... C3, C4 itu berbeda dengan kebanyakan gas kita, gas kita itu C1, C2. C3, C4 ini kecil, makanya kita membangun industri dalam negerinya kecil," jelas Bahlil dalam aktivitas Sinergi Alumni IPB Untuk Bangsa, Sabtu (2/4/2026).
Tak hanya nilai kandungan gas metana dan etana nan lebih besar, Bahlil menyebut, biaya produksi CNG ini apalagi bisa lebih murah 30%-40% dibandingkan LPG.
Dia menyebut, selama ini nilai shopping LPG nasional menyentuh nomor Rp 137 triliun per tahun, di mana sebesar Rp 80-87 triliun di antaranya kudu disubsidi oleh negara.
Oleh lantaran itu, menurutnya krusial bagi negara untuk menggencarkan sumber daya pengganti nan berasal dari dalam negeri dan lebih murah.
"Jadi kita tidak melakukan impor, cost transportasinya saja sudah bisa meng-cover," ujarnya.
"Dan jika ditanya apakah sudah perform untuk jalan alias tidak, pada skala nan besar sudah jalan. Di daerah-daerah Jawa kan sudah dipakai CNG. Hotel, restoran, kemudian MBG, dapur-dapur MBG sudah pakai itu," terangnya.
Di kesempatan berbeda, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan bahwa pemerintah tengah mematangkan pola distribusi, serta kesiapan prasarana di lapangan.
"Ditargetkan tahun ini bisa dikonsumsi masyarakat," ucapnya dalam aktivitas obrolan daya nan digelar ASPEBINDO di Jakarta, dikutip Rabu (13/5/2026).
Menurut dia, rencana penerapan penggunaan gas bumi nan dimampatkan ini dipastikan tidak langsung menyasar seluruh wilayah Indonesia secara serentak, melainkan bakal dilakukan secara bertahap.
Pada fase awal, penyaluran bakal diprioritaskan untuk kota-kota besar di Pulau Jawa guna menguji efektivitas simulasi distribusi, sebelum diperluas ke wilayah lainnya.
"Bertahap di kota-kota besar dulu di Jawa. Roadmap-nya adalah tentu kita ada lantaran ini belum diumumkan oleh Pak Menteri, tapi intinya ke depan kita bakal mereduksi LPG kita, kita gantikan dengan CNG," jelas Laode.
Selain efisiensi devisa, pemerintah memastikan aspek keselamatan menjadi prioritas utama dengan menyiapkan teknologi tabung Tipe 4 berbahan komposit fiber nan diklaim lebih ringan dan kuat.
"Penelitian untuk kita menggunakan CNG ini sudah cukup lama dan ada dua komponen krusial di bagian tabung dan valve ini nan memerlukan teknologi nan akhirnya pada hari ini tuh sudah ditemukan dan sudah bisa diimplementasikan," tuturnya.
Saat ini, Kementerian ESDM sedang melakukan uji coba untuk penggunaan CNG dengan kapabilitas nan lebih mini alias 3 kilogram. Penggunaan CNG sejatinya sudah terlaksana untuk sektor transportasi, perhotelan hingga restoran dengan ukuran nan besar alias 12 kg hingga 20-an kg.
Spesifikasi CNG
Mengacu pada arti dari Peraturan Presiden No. 64 Tahun 2012 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Penetapan Harga Bahan Bakar Gas Untuk Transportasi Jalan, CNG merupakan gas nan berasal dari gas bumi dengan unsur metana (C1).
Sedangkan LPG jika merujuk pada Peraturan Presiden No. 38 Tahun 2019, LPG adalah gas hidrokarbon nan dicairkan dengan tekanan agar lebih mudah disimpan, diangkut, dan digunakan. LPG umumnya terdiri dari gas propana (C3), butana (C4), alias campuran keduanya.
Melansir laman resmi PT PGN (PGAS), gas alam itu sendiri terdiri dari campuran unsur seperti hidrokarbon nan terdiri dari metana (C1), etana (C2), propana (C3), dan butana (C4). CNG sendiri terdiri dari 95% kadar metana.
Saking beragamnya unsur gas alam, pengolahan dan pemanfaatannya pun berbeda-beda. Gas alam bisa diolah menjadi LPG, jadi Liquefied Natural Gas (LNG), termasuk pula menjadi CNG.
Memahami perihal CNG juga kerapkali disertai dengan pemahaman terhadap LPG dan Liquefied Natural Gas (LNG). Namun, tentunya perlu dicatat bahwa CNG, LPG, dan LNG adalah tiga perihal nan berbeda.
Perbedaan utama antara CNG, LPG, dan LNG terletak pada keadaan fisiknya dan tekanan penyimpanannya. CNG disimpan dalam corak gas pada tekanan tinggi, sementara LPG dalam corak cair pada tekanan dan suhu moderat. LNG, di sisi lain, diangkut dalam corak cair pada suhu sangat rendah.
Keuntungan
Melansir laman resmi PT PGN, CNG mempunyai beberapa kelebihan dalam pemanfaatannya, beberapa di antaranya seperti:
1. Emisi Rendah: CNG menghasilkan emisi nan lebih rendah dibandingkan dengan bahan bakar konvensional, membantu mengurangi polusi udara.
2. Harga nan Stabil: Harga CNG condong lebih stabil dibandingkan dengan bahan bakar fosil lainnya lantaran gas alam kurang tunduk pada perubahan pasar minyak.
3. Sumber Energi nan Berkelanjutan: CNG diperoleh dari sumber gas alam nan melimpah, menjadikannya opsi nan berkepanjangan dan ramah lingkungan.
Di samping itu, Asosiasi Perusahaan Liquefied & Compressed Natural Gas Indonesia (APLCNGI) sempat membeberkan sejumlah kelebihan penggunaan CNG sebagai pengganti pengganti LPG untuk kebutuhan masyarakat.
Ketua APLCNGI Dian Kuncoro menjelaskan bahwa Indonesia saat ini mempunyai persediaan gas bumi nan jauh lebih melimpah dibandingkan dengan persediaan minyak bumi. Menurutnya, CNG menawarkan elastisitas pengedaran lantaran bisa menjangkau wilayah-wilayah terpencil nan susah ditembus oleh jaringan pipa gas konvensional.
"Bicara gimana pemanfaatan gas bumi ini untuk rumah tangga salah satu nan efektif dan efisien nan sudah ada itu memang melalui klaster pipa. Dan itu bisa melayani untuk wilayah-wilayah nan jauh dari pipa," ujarnya dalam aktivitas obrolan oleh ASPEBINDO, dikutip Kamis (7/5/2026).
Di samping itu, kelebihan lain dari sisi teknologi penyimpanan gas mulai beranjak menggunakan material komposit alias karbon. Inovasi tabung CNG mempunyai berat nan jauh lebih ringan dan daya tahan nan lebih kuat dibandingkan dengan tabung besi Tipe 1 nan selama ini digunakan dalam industri gas.
Penggunaan CNG untuk sektor rumah tangga juga dapat dilakukan melalui model klasterisasi pipa nan sudah diimplementasikan di beberapa wilayah seperti Yogyakarta dan Sleman. Skema itu memungkinkan masyarakat menikmati aliran gas tanpa kudu berjuntai sepenuhnya pada kesiapan prasarana pipa transmisi nasional.
Lebih lanjut, penggunaan CNG juga mempunyai untung dari sisi keekonomian upaya nan lebih stabil.
Kekurangan
Dari beragam kelebihan CNG nan telah dijabarkan, gas jenis itu juga tak luput dari kekurangan. Melansir laman PT PGN, kekurangan CNG seperti:
- Infrastruktur Terbatas: Infrastruktur pengisian CNG tetap terbatas di beberapa wilayah, membatasi aksesibilitasnya.
- Ruang Penyimpanan: CNG memerlukan ruang penyimpanan nan cukup besar, terutama untuk kendaraan bermotor, lantaran gas alam perlu dikompresi pada tekanan tinggi.
(wia)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·